
Narasi yang beredar di media sosial mengenai pelemahan nilai tukar rupiah yang dianggap menguntungkan ekonomi Indonesia dinilai menyesatkan. Kepala Ekonom Bank Permata, Joshua Pardede, menegaskan bahwa anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat. Meskipun pelemahan rupiah memberikan keuntungan bagi sebagian eksportir komoditas yang pendapatannya berbasis dolar AS, struktur ekonomi Indonesia jauh lebih kompleks daripada asumsi sederhana tersebut.
Menurut Joshua, ketergantungan industri manufaktur Indonesia terhadap impor bahan baku, mesin, energi, hingga komponen elektronik yang dihargai dalam dolar AS sangatlah tinggi. Akibatnya, pelemahan rupiah justru menjadi beban tambahan bagi biaya produksi. Ia mencatat bahwa sekitar 82% dari biaya input industri manufaktur berasal dari bahan baku dan bahan pembantu. Ketika rupiah terdepresiasi, tekanan biaya tersebut akan merembes dengan cepat ke sektor produksi.
Pelemahan rupiah yang terjadi secara drastis dan cepat membawa risiko nyata bagi ekonomi domestik. Jika industri yang berorientasi pada pasar dalam negeri harus mengandalkan bahan baku impor, maka margin perusahaan akan tergerus. Hal ini pada akhirnya memaksa produsen menaikkan harga jual, yang berpotensi melemahkan daya beli masyarakat. Jika kondisi ini terus berlanjut, dampaknya akan merambah ke sektor investasi, produksi, hingga stabilitas tenaga kerja.
Indikasi tekanan ini telah terekam dalam data PMI manufaktur dari S&P Global pada April 2026. Produksi manufaktur Indonesia mencatatkan penurunan tercepat sejak Mei 2025, sementara tekanan biaya input berada pada level tertinggi sejak April 2022. Fenomena kenaikan harga jual yang tercepat dalam kurun waktu 12 tahun terakhir menunjukkan bahwa pelemahan rupiah bukan sekadar isu pasar keuangan, melainkan masalah nyata yang menekan biaya produksi di sektor riil.
Sektor padat karya seperti makanan dan minuman, tekstil, alas kaki, plastik, kimia, otomotif, elektronik, dan farmasi menjadi pihak yang paling rentan. Perusahaan di sektor ini menghadapi dilema sulit: menahan harga dengan risiko penurunan margin, atau menaikkan harga dengan risiko hilangnya permintaan pasar. Dampak lanjutan bagi tenaga kerja pun cukup mengkhawatirkan, mulai dari pengurangan jam kerja, penundaan rekrutmen, hingga potensi pemutusan hubungan kerja (PHK).
Selain itu, pelemahan rupiah dapat memicu inflasi biaya karena dolar AS secara langsung memengaruhi harga BBM, LPG, pupuk, obat-obatan, serta bahan pangan impor. Joshua mengingatkan bahwa narasi yang menyebut pelemahan mata uang otomatis memperbaiki neraca perdagangan adalah bentuk penyederhanaan yang berbahaya. Manfaat bagi ekspor sangat bergantung pada faktor eksternal seperti permintaan global, harga komoditas, serta seberapa besar kandungan impor dalam barang ekspor tersebut.
Data Badan Pusat Statistik periode Januari-Februari 2026 pun menunjukkan hal serupa. Defisit nonmigas yang dalam dengan Tiongkok terutama didorong oleh tingginya impor barang modal seperti mesin, perlengkapan elektrik, dan kendaraan. Hal ini mencerminkan ketergantungan kuat industri domestik terhadap barang modal dari luar negeri.
Joshua juga menyoroti pengaruh negatif dari narasi yang disebarkan oleh pihak-pihak tertentu di media sosial yang membenarkan pelemahan rupiah secara berlebihan. Tindakan ini berpotensi memicu spekulasi pembelian dolar AS oleh masyarakat, yang kontraproduktif dengan upaya Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Ia menekankan bahwa otoritas perlu menindak informasi menyesatkan yang berpotensi mengganggu stabilitas pasar.
Sebagai langkah mitigasi, pemerintah dan otoritas keuangan perlu memperkuat edukasi publik mengenai pentingnya stabilitas rupiah dalam menjaga harga barang, biaya produksi, dan lapangan kerja. Nilai tukar bukan sekadar objek permainan sentimen, melainkan cerminan kepercayaan terhadap ekonomi nasional. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah, Bank Indonesia, OJK, dan pelaku industri keuangan sangat krusial untuk meluruskan pemahaman masyarakat akan urgensi stabilitas ekonomi ini.
Ringkasan
Anggapan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah menguntungkan ekonomi Indonesia dinilai menyesatkan karena tingginya ketergantungan industri manufaktur terhadap impor bahan baku dan mesin berbasis dolar AS. Depresiasi rupiah justru meningkatkan biaya produksi secara signifikan, yang pada akhirnya menekan margin perusahaan, menurunkan daya beli masyarakat, serta memicu kenaikan harga jual produk. Dampak negatif ini semakin terasa pada sektor padat karya yang menghadapi dilema antara penurunan keuntungan atau hilangnya permintaan pasar.
Selain memicu inflasi biaya akibat kenaikan harga barang impor, pelemahan rupiah juga berisiko mengganggu stabilitas tenaga kerja melalui pengurangan jam kerja hingga ancaman pemutusan hubungan kerja. Narasi yang membenarkan pelemahan mata uang ini berpotensi memicu spekulasi yang kontraproduktif terhadap upaya stabilisasi oleh Bank Indonesia. Pemerintah perlu memperkuat edukasi publik serta melakukan langkah mitigasi yang kolaboratif guna menjaga stabilitas ekonomi dan kepercayaan terhadap nilai tukar nasional.