
Pada Jumat (23/1), kawasan Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta Timur kembali dilanda banjir. Pemukiman warga terendam setelah Kali Ciliwung meluap drastis, menyusul intensitas curah hujan tinggi yang mengguyur ibu kota. Peristiwa ini langsung menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat, terutama mengingat frekuensi kejadian serupa.
Berdasarkan pantauan Katadata.co.id, ketinggian air yang merendam permukiman warga bervariasi antara 15 hingga 100 sentimeter. Luapan air ini telah menggenangi lima Rukun Tetangga (RT) di wilayah RW.08 Kelurahan Kampung Melayu. Kondisi terparah terlihat di RT.13, di mana ketinggian air mencapai dada orang dewasa, menunjukkan tingkat keparahan banjir yang signifikan di salah satu titik terdampak.
Ketua RT.13 RW.08 Kampung Melayu, Sanusi, mengungkapkan bahwa banjir kali ini berdampak pada 54 rumah yang dihuni oleh 96 kepala keluarga, dengan total 264 warga. Meskipun ketinggian air cukup mengkhawatirkan dan merendam sebagian besar perkampungan, sebagian besar warga memilih untuk tidak mengungsi. Mereka memutuskan untuk tetap bertahan di lantai dua rumah masing-masing, sebuah pilihan yang menunjukkan ketangguhan sekaligus risiko yang mereka ambil.
Banjir di Kampung Melayu bukan fenomena baru. Wilayah ini memang rentan terhadap luapan Sungai Ciliwung, terutama saat Jakarta diguyur hujan deras. Hal ini disebabkan oleh kombinasi kontur tanah yang landai dan ketiadaan tanggul pelindung yang memadai untuk membendung arus sungai, menjadikan permukiman di sana mudah terendam setiap kali intensitas hujan meningkat.
Mengantisipasi situasi lebih lanjut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan imbauan penting. Masyarakat diminta untuk tetap waspada dan meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi dampak hujan, mengingat potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih diperkirakan akan melanda sebagian besar wilayah Jabodetabek dalam sepekan ke depan. Peringatan ini menekankan pentingnya kewaspadaan kolektif untuk menghadapi ancaman hidrometeorologi.