Grup Lippo sumbang lahan 30 hektar di Cikarang untuk bangun rumah MBR

Pemerintah Indonesia mengambil langkah strategis dalam upaya mengatasi krisis perumahan nasional, ditandai dengan diterimanya tanah hibah seluas 30 hektare di Cikarang secara cuma-cuma dari Grup Lippo. Lahan berharga ini dialokasikan untuk pembangunan ambisius 140 ribu unit hunian bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), sebuah inisiatif krusial dalam mewujudkan program 3 juta rumah per tahun yang menjadi prioritas utama Presiden terpilih Prabowo Subianto.

Advertisements

Program pembangunan perumahan ini bukan sekadar agenda sosial, melainkan juga pilar utama strategi pemerintah untuk memacu pertumbuhan ekonomi. Hashim Djojohadikusumo, Ketua Satuan Tugas Perumahan, menegaskan bahwa gagasan yang mulai disusun oleh Prabowo pasca-terpilih sebagai presiden ini menargetkan akselerasi pertumbuhan ekonomi hingga minimal 8%. Visi ini diharapkan menciptakan efek domino positif bagi perekonomian nasional.

Potret kebutuhan akan hunian layak di Indonesia memang mendesak. Berdasarkan data pemerintah, terdapat antara 9 juta hingga 15 juta keluarga yang masih menanti akses menuju rumah yang layak huni. Lebih memprihatinkan lagi, Hashim Djojohadikusumo menyoroti realitas pahit di mana “sekitar 27 juta keluarga saat ini masih tinggal di dalam gubuk-gubuk yang sejatinya bukan rumah,” sebuah kondisi yang ia gambarkan sebagai kenyataan yang harus segera ditangani.

Pentingnya proyek ini terefleksi dari kehadiran para tokoh penting dalam peninjauan lahan hibah Grup Lippo di Cikarang pada Minggu (8/3) lalu. Turut hadir mendampingi Hashim Djojohadikusumo adalah Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Republik Indonesia Maruarar Sirait, serta CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani. Acara ini juga dihadiri oleh jajaran pemerintah daerah, serta tokoh sentral Grup Lippo seperti Pendiri dan Ketua Organisasi Kelompok Lippo, Mochtar Riady, hingga Pendiri dan Ketua Pembina Yayasan Pelita Harapan, James Riady.

Advertisements

Kontribusi Grup Lippo dalam bentuk hibah lahan ini memiliki nilai ekonomis yang sangat signifikan. Maruarar Sirait memperkirakan bahwa nilai lahan di kawasan proyek serupa berkisar antara Rp 10 juta hingga Rp 20 juta per meter persegi. Dengan estimasi harga tersebut, total nilai tanah hibah dari Lippo ini diperkirakan dapat mencapai angka fantastis, yakni hingga Rp 6 triliun, menunjukkan skala komitmen yang luar biasa.

Sementara itu, Rosan Roeslani, CEO Danantara Indonesia, menjelaskan bahwa pembangunan 140 ribu unit hunian di lahan tersebut akan dilakukan secara bertahap. Ia menekankan bahwa proyek ini merupakan langkah bersejarah bagi Indonesia, mengingat skala pembangunan perumahan yang begitu masif dilakukan dalam satu proyek tunggal dan di satu lokasi.

Rosan Roeslani meyakini bahwa megaproyek ini akan membawa dampak berganda yang luas. Mulai dari penciptaan ribuan lapangan kerja baru, pemberdayaan masyarakat sekitar, hingga dorongan kuat bagi roda pertumbuhan ekonomi daerah dan nasional. “Bukan hanya kami atau 140 ribu keluarga yang akan menikmati, tetapi juga seluruh rakyat Indonesia,” pungkas Rosan, menegaskan bahwa manfaat dari proyek hunian MBR ini akan terasa hingga ke pelosok negeri, memperkuat fondasi keadilan sosial dan kesejahteraan.

Advertisements