Harga minyak dunia turun usai Trump sebut perang di Iran segera berakhir

Harga minyak acuan dunia mengalami penurunan signifikan hingga 6% pada Selasa (10/3), setelah sebelumnya melonjak ke level tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Koreksi harga ini terjadi menyusul pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mengisyaratkan kekhawatiran akan potensi segera berakhirnya konflik di Timur Tengah.

Advertisements

Pada perdagangan pagi hari itu, minyak mentah Brent untuk pengiriman berjangka anjlok US$ 6,51 per barel atau 6,6%, menetap di US$ 92,45. Senada, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga merosot US$ 6,12 atau 6,5%, mencapai US$ 88,65 per barel.

Penurunan ini kontras dengan lonjakan tajam sehari sebelumnya, di mana harga minyak dunia pada Senin (9/3) sempat melambung hingga US$ 119,50 untuk Brent dan US$ 119,48 untuk WTI. Angka tersebut menandai level tertinggi yang tercatat sejak pertengahan 2022.

Lonjakan awal harga minyak dipicu oleh kekhawatiran meluasnya konflik yang melibatkan AS dan Israel dengan Iran, serta aksi pemangkasan pasokan minyak oleh Arab Saudi dan sejumlah produsen lain. Namun, pasar bereaksi positif ketika Presiden Rusia Vladimir Putin melakukan panggilan telepon dengan Trump dan mengajukan proposal penyelesaian cepat perang dengan Iran.

Advertisements

Interaksi diplomatik tersebut berhasil meredakan kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak yang berkepanjangan. Sementara itu, dalam wawancara dengan CBS News, Presiden Trump menyatakan keyakinannya bahwa Amerika Serikat tengah memimpin dalam perang melawan Iran.

Menanggapi pernyataan Trump, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menegaskan bahwa mereka-lah yang akan menentukan kapan perang tersebut akan berakhir. Juru Bicara IRGC, sebagaimana dikutip Reuters pada Selasa (10/3), dengan tegas menyatakan, “Iran memastikan tidak akan membiarkan satu liter minyak pun diekspor dari kawasan Teluk Persia jika serangan AS dan Israel terus berlanjut.”

Kendati kedua belah pihak saling memberikan respons yang tajam, hal tersebut tidak serta-merta membuat harga minyak kembali melambung. Pasalnya, Presiden Trump diketahui tengah mempertimbangkan dua opsi penting: pelonggaran sanksi minyak Rusia dan pelepasan cadangan minyak mentah darurat. Sumber-sumber terkait menyebutkan, langkah-langkah ini diambil untuk menekan kenaikan harga minyak global yang melonjak di tengah konflik Iran.

Analis pasar IG, Tony Sycamore, memprediksi bahwa harga minyak mentah akan tetap sangat fluktuatif di sesi mendatang. “Mengingat peristiwa dalam 24 jam terakhir, saya memperkirakan harga minyak mentah akan diperdagangkan dalam rentang yang luas antara US$ 75 hingga US$ 105,” ujarnya.

Sebelumnya, para produsen minyak utama di Teluk Persia telah mulai mengurangi produksi mereka. Hal ini dilakukan karena perang antara AS dan Israel terhadap Iran menyebabkan gangguan signifikan terhadap lalu lintas kapal di kawasan vital tersebut. Selama akhir pekan, Irak dilaporkan memangkas produksi di ladang minyak utamanya di selatan hingga 70%, menjadi hanya 1,3 juta barel per hari. Sejalan dengan itu, Kuwait Petroleum Corporation juga mulai mengurangi produksi dan telah mendeklarasikan force majeure, diikuti oleh Arab Saudi yang juga melakukan pemangkasan produksi.

Di tengah situasi yang bergejolak ini, negara-negara G7 menyatakan kesiapan mereka untuk menerapkan langkah-langkah yang diperlukan sebagai respons terhadap lonjakan harga minyak global. Meskipun demikian, mereka belum memberikan komitmen resmi untuk melepaskan cadangan minyak darurat strategis.

Advertisements