Harga saham induk Google hingga Meta melonjak usai gencatan AS-Iran

Pasar saham teknologi Amerika Serikat kembali menunjukkan geliat positif setelah Presiden Donald Trump mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu dengan Iran. Sentimen optimis ini sontak memicu reli signifikan di bursa saham, khususnya menguntungkan para raksasa teknologi yang sebelumnya tertekan sejak awal tahun.

Advertisements

Perusahaan induk Google, Alphabet Inc, bersama Meta Platforms, Amazon, dan Nvidia memimpin penguatan di antara tujuh perusahaan teknologi terkemuka. Mengutip CNBC Global pada Rabu (9/4), saham Meta bahkan melonjak lebih tinggi setelah perusahaan tersebut meluncurkan model kecerdasan buatan (AI) terbarunya, Muse Spark, yang disambut antusias investor.

Tidak hanya sektor raksasa teknologi, segmen semikonduktor pun ikut meroket tajam. Saham Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) berhasil naik sekitar 6%, sementara ASML dan Applied Materials masing-masing melonjak sekitar 9%. Penguatan serupa juga terlihat pada Micron Technology yang naik hampir 8%, memperlihatkan kekuatan menyeluruh di industri ini.

Kenaikan signifikan juga melanda sejumlah saham chip dan penyimpanan data lainnya. Western Digital melesat hampir 9%, Lam Research naik hampir 10%, dan Intel mencatat lonjakan impresif hingga 11%, menandakan pemulihan yang luas di seluruh rantai pasokan teknologi.

Advertisements

Baca juga:

  • Wall Street Melonjak Usai Donald Trump Tunda Serangan ke Iran
  • Harga Baru Saham DSSA jadi Rp 2.680 Mulai Hari Ini, Turun Tahta dari Elite Bursa
  • Tiga Jurus Komdigi Benahi Pasar Digital Jadi Ruang Tumbuh UMKM

Reli pasar ini terjadi menyusul keputusan Trump pada Selasa (7/4) waktu setempat yang mencabut ancaman eskalasi konflik. Presiden AS tersebut menyatakan bahwa Amerika Serikat akan menghentikan pertempuran, sebuah langkah yang diambil setelah Iran mengajukan proposal untuk melanjutkan negosiasi damai.

Meskipun demikian, situasi di kawasan tersebut belum sepenuhnya stabil. Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz masih belum pulih sepenuhnya, bahkan infrastruktur energi vital seperti pipa minyak di Arab Saudi dilaporkan sempat terkena serangan drone, menunjukkan ketidakpastian yang masih membayangi.

Penguatan saham teknologi ini menjadi angin segar yang sangat dinantikan setelah sektor tersebut menghadapi tekanan berat sepanjang awal 2026. Kekhawatiran akan pecahnya konflik yang lebih besar dengan Iran sempat memicu aksi jual besar-besaran di pasar, yang menghantam saham-saham teknologi secara signifikan.

Selain faktor geopolitik, tekanan juga berasal dari kekhawatiran investor terhadap dampak kecerdasan buatan (AI) pada model bisnis perusahaan perangkat lunak. Banyak pihak mempertanyakan kapan investasi besar-besaran di bidang AI akan mulai menghasilkan keuntungan nyata dan berkelanjutan.

Salah satu yang paling terdampak oleh tekanan tersebut adalah Microsoft. Saham perusahaan ini anjlok hingga 23% pada kuartal I 2026. Angka ini jauh lebih dalam dibandingkan penurunan indeks Nasdaq Composite yang hanya turun sekitar 7% pada periode yang sama, menyoroti kerentanan spesifik yang dialami oleh beberapa pemain kunci di sektor ini.

Advertisements