Harga Saham Melemah, Bos Wall Street Bicara Valuasi Mahal

Babaumma – , JAKARTA – Reli saham di Wall Street tertahan setelah laba perusahaan kecerdasan buatan (AI) Palantir Technologies Inc. gagal memenuhi ekspektasi investor. Sejumlah pimpinan bank investasi Wall Street telah memperingatkan potensi koreksi harga saham akibat valuasi yang dinilai terlalu tinggi.

Advertisements

Dikutip dari Bloomberg, Selasa (4/11/20245), kontrak berjangka S&P 500 turun sekitar 1% setelah indeks acuan tersebut menguat tipis pada perdagangan sebelumnya, meskipun lebih dari 300 komponennya melemah. Futures Nasdaq 100 anjlok 1,3%, sementara saham Palantir melemah lebih dari 4% pada perdagangan setelah jam bursa di tengah kekhawatiran atas valuasi usai reli yang menembus rekor. Pasar Eropa juga diperkirakan dibuka di zona merah.

Di Asia, bursa mencatat koreksi sekitar 1%, dengan saham teknologi memimpin penurunan terbesar sejak September. Regulator pasar Korea Selatan mengeluarkan peringatan investasi terhadap saham SK Hynix Inc. setelah reli mencapai 240%.

: Harga Emas Hari Ini Selasa, 4 November 2025 di Pasar Spot

Advertisements

Indeks dolar bergerak datar setelah menguat empat hari beruntun, bertahan di level tertinggi sejak Agustus, di tengah sinyal kebijakan yang beragam dari pejabat Federal Reserve. Ketua The Fed Jerome Powell pekan lalu menegaskan bahwa penurunan suku bunga pada Desember “bukanlah sesuatu yang pasti”.

Pada forum keuangan di Hong Kong, CEO Morgan Stanley Ted Pick dan CEO Goldman Sachs David Solomon termasuk di antara eksekutif yang memperingatkan potensi aksi jual besar di pasar. Penguatan lebih dari 40% S&P 500 sejak titik terendah April, yang didorong reli saham teknologi berbasis AI, memicu kecemasan atas valuasi yang dinilai semakin mahal.

: : Investor Asing Kembali Masuk Pasar Saham Indonesia

“Pendapatan korporasi dinilai masih kuat, namun yang menantang adalah valuasi,” ujar Mike Gitlin, Presiden dan CEO Capital Group.

Palantir mencatat tekanan meski meningkatkan proyeksi pendapatan tahunan menjadi US$4,4 miliar dan melampaui ekspektasi pasar pada kuartal III. Saham perusahaan telah melonjak lebih dari 150% sepanjang tahun hingga menyentuh rekor US$207,18 pada perdagangan Senin, dengan rasio harga terhadap penjualan mencapai 85. Nilai tertinggi di indeks S&P 500.

: : Emiten Sandiaga Uno (SRTG) Berbalik Rugi Rp2,43 Triliun per Kuartal III/2025

Mandeep Singh, analis Bloomberg Intelligence menyebut investor menanti panduan lebih luas untuk 2026. Sementara itu, Charu Chanana, kepala strategi investasi Saxo Markets, menilai reaksi pasar menunjukkan betapa tingginya ekspektasi di sektor AI. “Penurunan kecil pasca-pencetakan lebih mencerminkan ekspektasi yang tinggi daripada fundamental,” katanya.

Ahli strategi Bloomberg Mark Cranfield menyebut investor memerlukan sinyal baru untuk menghidupkan kembali kepercayaan pada tren bullish pasar, mengingat konsentrasi kepemimpinan pasar yang makin sempit.

Di AS, ketidakpastian kebijakan moneter meningkat menyusul pernyataan berbeda dari pejabat Federal Reserve. Presiden The Fed Chicago Austan Goolsbee menekankan kekhawatiran terhadap inflasi, sementara Gubernur Lisa Cook melihat risiko pelemahan pasar tenaga kerja lebih besar daripada ancaman inflasi meningkat. Presiden The Fed San Francisco Mary Daly menyatakan pejabat harus “berpikiran terbuka” terkait kemungkinan pemotongan suku bunga Desember.

Gubernur Stephen Miran menambahkan bahwa kebijakan moneter masih bersifat ketat. Aktivitas manufaktur AS tercatat berkontraksi delapan bulan beruntun pada Oktober.

“Dengan melemahnya data AS dan pejabat Fed yang tetap mempertahankan opsi kebijakan, investor menilai kembali posisi mereka alih-alih mengejar risiko,” ujar Billy Leung, ahli strategi Global X Management.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Advertisements