
Babaumma – JAKARTA — Utusan Khusus Presiden untuk Energi dan Lingkungan, Hashim Djojohadikusumo, memberikan peringatan keras terkait anomali rasio Price to Earning (PE) di pasar saham Indonesia. Ia menyebut saham dengan rasio PE ratusan hingga ribuan kali sebagai red flag atau sinyal bahaya yang patut diwaspadai serius.
Dalam Asean Climate Forum (ACF) 2026 di Jakarta pada Rabu (11/2/2026), Hashim mengungkapkan keprihatinannya atas fenomena yang dianggapnya tidak masuk akal. Ia menyoroti adanya saham-saham di pasar modal yang kini memiliki rasio PE mencapai angka fantastis, mulai dari 167 kali, 900 kali, hingga 4.000 kali. “Ketika ada perusahaan dengan PE ratio 167, 900, 1.200, bahkan 4.000, ada sesuatu yang salah. Itu red flag,” tegasnya.
Kondisi ini mendorong pemerintah untuk meningkatkan pengawasan ketat terhadap pasar modal Indonesia. Menurut Hashim, gejolak di pasar modal seringkali dipicu oleh kurangnya transparansi, yang berujung pada praktik “goreng-menggoreng saham” yang merugikan integritas pasar dan investor.
Adik dari Presiden Prabowo Subianto ini juga menekankan bahwa keberhasilan pasar modal sangat bergantung pada adanya kepercayaan dan kredibilitas. Hashim Djojohadikusumo Ungkap Prabowo Sangat Marah Akibat Gejolak Pasar Modal. Ia melanjutkan, dengan nada tegas, “Integritas OJK dan integritas Bursa Efek Indonesia dipertaruhkan. Reputasi Anda dipertaruhkan, reputasi kita semua dipertaruhkan,” mempertegas urgensi penanganan masalah ini.
Melansir data dari RTI Infokom, memang terdapat sejumlah emiten di pasar modal Tanah Air yang menunjukkan rasio price to earning yang sangat tinggi, bahkan menembus angka ratusan hingga ribuan kali lipat, sesuai dengan kekhawatiran Hashim.
Salah satu contoh yang disorot adalah PT Indokripto Koin Semesta Tbk. (COIN), yang tercatat memiliki rasio PE sebesar 516,82 kali dan PBV sebesar 18,37 kali. Menariknya, per Desember 2025, Arsari Group melalui PT Arsari Nusa Investama, yang merupakan milik Hashim Djojohadikusumo, diketahui menjadi salah satu pemegang saham di COIN.
Selain COIN, emiten lain yang memiliki rasio PE melonjak tinggi adalah PT Abadi Lestari Indonesia Tbk. (RLCO), sebuah perusahaan sarang burung walet. RLCO mencatat rasio PE sebesar 2.144 kali, dengan PBV mencapai 310,91 kali, menempatkannya dalam kategori anomali yang disoroti Hashim.
Sebagai informasi tambahan bagi investor, rasio PE (Price to Earning) adalah metrik vital yang umum digunakan untuk mengukur valuasi saham. Rasio ini membantu investor menakar apakah suatu saham tergolong murah atau mahal, berdasarkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih. Sementara itu, PBV (Price to Book Value) adalah rasio keuangan yang membandingkan harga saham dengan nilai buku per saham perusahaan, memberikan gambaran tentang seberapa mahal investor bersedia membayar untuk aset bersih perusahaan.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.