JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan hari Senin, 29 September 2025, dengan performa positif, menguat ke level 8.123,24. Penguatan ini turut ditopang oleh kinerja cemerlang sejumlah saham berkapitalisasi besar dan berfrekuensi transaksi tinggi, salah satunya PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA) yang tampak kinclong.
Menurut data dari Bursa Efek Indonesia (BEI), penguatan IHSG mencapai 0,30%, membawa indeks ke posisi penutupan 8.123,24. Sepanjang sesi perdagangan hari ini, indeks sempat dibuka pada level 8.139,58, mencapai titik tertinggi di 8.157,33, dan menyentuh level terendah 8.100,02 sebelum kembali menguat. Total nilai transaksi yang berhasil dihimpun mencapai Rp23,92 triliun, dengan volume transaksi mencapai 48,61 miliar lembar saham dan frekuensi perdagangan sebanyak 2,61 juta kali. Pencapaian ini mengukuhkan kapitalisasi pasar modal Indonesia pada angka Rp14.995 triliun.
Kinerja pasar secara keseluruhan menunjukkan dominasi sentimen positif, dengan 406 saham menguat, sementara 313 saham melemah, dan 238 saham lainnya berada dalam posisi stagnan. Beberapa saham unggulan dengan volume transaksi tinggi berhasil mencatatkan penguatan signifikan. Di antaranya, saham PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA) melonjak 12,93%, diikuti oleh PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) yang terbang 18,88%, dan PT Barito Renewable Energy Tbk. (BREN) yang menanjak 7,2%. Selain itu, PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) turut membukukan kenaikan 4,76%, dan PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk. (INET) melesat 24,56%.
Di sisi lain, daftar saham dengan kinerja paling impresif atau top gainers dipimpin oleh PT Indo Oil Perkasa Tbk. (OILS) yang melonjak drastis hingga 34,97%. Disusul oleh PT Koka Indonesia Tbk. (KOKA) dengan kenaikan 34,78%, serta PT Multipolar Tbk. (MLPL) yang menguat 34,62%. Namun, ada pula saham-saham yang harus menelan pil pahit dan masuk dalam kategori top losers. PT Mandom Indonesia Tbk. (TCID) anjlok 13,73%, PT Lovina Beach Brewery Tbk. (STRK) ambrol 13,39%, dan PT Idea Indonesia Akademi Tbk. (IDEA) melemah 10%.
Kinerja positif IHSG pada hari ini sejalan dengan performa cemerlang sepanjang pekan sebelumnya, yakni dari tanggal 22 hingga 26 September 2025. Selama periode tersebut, IHSG mencatatkan kenaikan 0,60%, ditutup pada level 8.099,33 di akhir pekan lalu, Jumat (26/9/2025), naik dari 8.051,11 pada pekan sebelumnya. Bahkan, pada Rabu (24/9/2025), IHSG sempat memecahkan rekor tertinggi sepanjang sejarah atau all-time high (ATH), dengan penutupan di level 8.126,55.
Menatap prospek pekan ini, 29 September hingga 3 Oktober 2025, Analis Ekuitas PT Indo Premier Sekuritas, David Kurniawan, memperkirakan IHSG berpotensi melanjutkan penguatan. Namun, ia juga menyoroti sejumlah sentimen penting yang patut dicermati investor. Pertama, kebijakan dan kepemimpinan fiskal dari Menteri Keuangan baru, Purbaya Yudhi Sadewa, akan menjadi fokus utama. Pasar menantikan arah kebijakan Purbaya terkait disiplin fiskal, pengelolaan defisit anggaran, serta sinyal stimulus atau pengeluaran pemerintah yang akan diterapkan. Kedua, sentimen positif datang dari potensi tidak adanya kenaikan cukai rokok pada tahun 2026. Purbaya Yudhi Sadewa telah menegaskan bahwa tarif cukai hasil tembakau (CHT) tidak akan dinaikkan untuk tahun anggaran 2026, sebuah keputusan yang disambut baik oleh pelaku industri rokok dan petani tembakau yang menginginkan moratorium selama beberapa tahun ke depan.
Senada, Tim Riset Phintraco Sekuritas juga menggarisbawahi beberapa sentimen yang akan memengaruhi pergerakan IHSG sepanjang pekan ini. Dari ranah domestik, investor akan mencermati rilis data penting seperti indeks manufaktur Indonesia, neraca perdagangan, dan tingkat inflasi. Sementara itu, dari faktor eksternal, perhatian akan tertuju pada Amerika Serikat, khususnya rilis data manufaktur, sektor jasa, dan data pasar tenaga kerja seperti ADP Employment, non-farm payrolls, serta tingkat pengangguran. Data-data ini akan menjadi barometer bagi investor untuk menilai kondisi kesehatan ekonomi AS dan memprediksi prospek kebijakan penurunan suku bunga oleh The Fed di masa mendatang.
Ringkasan
Pada tanggal 29 September 2025, IHSG ditutup menguat ke level 8.123,24, didorong oleh saham-saham seperti MBMA, BUMI, dan INET. Penguatan ini membawa kapitalisasi pasar modal Indonesia ke angka Rp14.995 triliun dengan nilai transaksi mencapai Rp23,92 triliun. Secara keseluruhan, 406 saham menguat, sementara 313 saham melemah.
Analis memperkirakan IHSG berpotensi melanjutkan penguatan pada pekan berikutnya. Investor akan mencermati kebijakan fiskal Menteri Keuangan yang baru dan sentimen terkait cukai rokok. Selain itu, data ekonomi domestik seperti indeks manufaktur dan inflasi, serta data ekonomi AS seperti non-farm payrolls, juga akan menjadi perhatian pasar.