IHSG ambles 2,66%, saham energi justru terbang imbas perang Israel-Iran

Amidst semakin memanasnya tensi geopolitik akibat eskalasi perang Israel-Iran, pasar keuangan global dan domestik seketika merasakan dampaknya. Lonjakan harga minyak dan komoditas energi global yang dipicu oleh konflik tersebut menciptakan gelombang tekanan yang menyeret Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke zona merah. Namun, di tengah keterpurukan pasar, saham-saham sektor energi justru tampil perkasa, melesat dan menjadi jangkar utama yang menopang pasar pada perdagangan sore ini.

Advertisements

Data sektoral dari Stockbit pada Senin (2/3) dengan jelas menggambarkan luasnya tekanan yang melanda pasar keuangan domestik. Hampir seluruh sektor mencatatkan koreksi signifikan. Sektor teknologi terpukul paling keras dengan penurunan 3,77 persen, diikuti oleh sektor industri dasar yang terkoreksi 0,87 persen, infrastruktur melemah 4,13 persen, dan transportasi turun 2,74 persen. Sektor industrial bahkan mencatat koreksi terdalam hingga 5,95 persen. Tak hanya itu, sektor kesehatan anjlok 2,16 persen, keuangan 2,67 persen, consumer cyclicals terjerembab 7,60 persen, properti melemah 4,14 persen, serta non-cyclicals juga turun 3,58 persen.

Di tengah badai koreksi yang melanda mayoritas sektor, sektor energi menjadi satu-satunya bintang penyelamat yang berhasil bertahan di zona hijau. Sektor ini menunjukkan kekuatan luar biasa dengan kenaikan sebesar 1,54 persen, membuktikan resistansinya terhadap gejolak pasar global dan domestik.

Kekuatan sektor energi ini tidak lepas dari performa gemilang sejumlah saham yang mendominasi daftar top gainers. Saham OILS (Indo Oil Perkasa Tbk) memimpin dengan lonjakan fantastis 34,69 persen, mencapai level 264. Disusul ketat oleh ENRG (Energi Mega Persada Tbk) dan RUIS (Radiant Utama Interinsco Tbk) yang masing-masing melesat 25,00 persen, mengakhiri perdagangan di posisi 2.200 dan 310. Tak ketinggalan, APEX (Apexindo Pratama Duta Tbk.) turut mencatatkan kenaikan impresif 24,04 persen, mengunci harga di 258.

Advertisements

Gelombang penguatan juga merambat ke emiten energi lainnya, termasuk ELSA (Elnusa Tbk) yang melesat 17,65 persen ke 1.000, MEDC (Medco Energi Internasional) naik 15,65 persen ke 1.995, dan INDY (Indika Energy Tbk) menguat 15,53 persen ke 4.240. Selanjutnya, saham WOWS (Ginting Jaya Energi) bertambah 13,89 persen ke 82, ESSA (ESSA Industries Indonesia) naik 12,40 persen ke 725, MAIN (Malindo Feedmill) menguat 12,03 persen ke 885, serta CGAS (Citra Nusantara Gemilang) naik 11,31 persen ke 187. Tak hanya itu, beberapa saham komoditas lainnya juga ikut menikmati sentimen positif: COAL (Black Diamond Resources) naik 8,33 persen ke 78, KAQI (Jantra Grupo Indonesia) menguat 7,27 persen ke 118, AADI (Adaro Andalan Indonesia) naik 7,03 persen ke 9.900, SMDR (Samudera Indonesia) bertambah 7,00 persen ke 428, dan DOID (BUMA Internasional Grup) menguat 6,71 persen ke 318.

Sayangnya, kinerja positif saham-saham energi belum cukup kuat untuk menahan laju koreksi IHSG secara keseluruhan. Pada penutupan perdagangan, IHSG ditutup anjlok 218,65 poin atau 2,66 persen, berakhir di level 8.016. Senada, indeks saham unggulan LQ45 juga kehilangan 21,86 poin atau 2,62 persen, mendarat di posisi 812. Ini mencerminkan sentimen pasar yang didominasi kekhawatiran akibat ketidakpastian global, meskipun ada secercah harapan dari sektor tertentu.

Advertisements