Babaumma – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Rabu pagi mengalami pelemahan signifikan. Sentimen negatif ini dipicu oleh keputusan penting dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang secara sementara membekukan (hold) proses rebalancing indeks untuk saham-saham di pasar Indonesia, menimbulkan gejolak di kalangan pelaku pasar.
Pembukaan perdagangan menunjukkan IHSG tergelincir 597,75 poin atau setara 6,66 persen, menuju level 8.382,48. Koreksi tajam juga melanda kelompok 45 saham unggulan, atau indeks LQ45, yang anjlok 55,95 poin atau 6,39 persen, berada di posisi 820,16. Penurunan ini mencerminkan respons pasar terhadap berita tersebut.
Pengamat sekaligus Founder Stocknow.id, Hendra Wardana, di Jakarta pada Rabu (28/1/2026), menilai bahwa keputusan MSCI ini berpotensi memberikan tekanan substansial pada pergerakan IHSG, khususnya dalam jangka pendek hingga menengah. “Pembekuan kenaikan bobot saham Indonesia di indeks MSCI berarti potensi aliran dana pasif dari investor global menjadi tertahan,” jelas Hendra. Ia menambahkan bahwa dana indeks dan ETF selama ini merupakan salah satu pilar utama penopang permintaan saham berkapitalisasi besar di Indonesia.
Latar belakang keputusan MSCI ini adalah hasil konsultasi global terkait penilaian free float saham-saham Indonesia, sebuah isu yang kini menjadi sorotan utama para pelaku pasar. Meskipun sebagian investor global menyambut baik rencana penggunaan Laporan Komposisi Kepemilikan Bulanan KSEI sebagai referensi tambahan, mayoritas masih menyimpan kekhawatiran besar terhadap keandalan klasifikasi pemegang saham.
“Mereka menilai data tersebut belum sepenuhnya mampu menggambarkan struktur kepemilikan yang sebenarnya, sehingga menimbulkan keraguan dalam menilai tingkat free float saham Indonesia,” ungkap Hendra. MSCI juga menyoroti bahwa perbaikan minor yang dilakukan BEI terkait data free float belum menjawab persoalan mendasar mengenai investability pasar saham Indonesia. Masalah krusial yang disorot oleh investor global adalah rendahnya transparansi struktur kepemilikan saham serta kekhawatiran akan adanya potensi transaksi yang bersifat terkoordinasi.
“Kondisi ini dikhawatirkan dapat mengganggu mekanisme pembentukan harga yang wajar dan meningkatkan risiko volatilitas yang tidak sehat di pasar,” tambah Hendra, menegaskan urgensi perbaikan yang diperlukan.
Sebagai langkah responsif terhadap kondisi tersebut, MSCI segera memberlakukan kebijakan pembekuan sementara yang berlaku efektif secepatnya. Kebijakan ini mencakup penahanan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor dan Number of Shares, baik yang berasal dari peninjauan indeks, termasuk Review Februari 2026, maupun dari aksi korporasi. Selain itu, MSCI tidak akan lagi menambahkan saham baru Indonesia ke dalam indeks MSCI Investable Market Indexes dan menahan kenaikan segmen ukuran saham, seperti perpindahan dari kategori Small Cap ke Standard Index.
Kebijakan ini diambil dengan tujuan untuk menekan risiko perputaran indeks yang berlebihan, sekaligus memberikan waktu bagi otoritas pasar saham Indonesia untuk melakukan perbaikan transparansi secara lebih komprehensif dan menyeluruh, demi meningkatkan kepercayaan investor global.
IHSG Fluktuatif, Ini Rekomendasi Tiga Saham untuk Trading Pekan Ini
Di tengah sentimen domestik ini, bursa Wall Street AS pada perdagangan Selasa (27/1) menunjukkan pergerakan variatif. Indeks Dow Jones Industrial Average melemah 0,83 persen, ditutup di level 49.4212,40. Sementara itu, indeks S&P 500 menguat 0,41 persen ke 6.950,30, dan indeks Nasdaq Composite juga menguat 0,88 persen, ditutup pada 25.713,21.
Melihat pergerakan bursa global, bursa saham regional Asia pagi ini juga menunjukkan dinamika beragam. Indeks Nikkei Jepang melemah 934,69 poin atau 0,55 persen ke 53.040,00. Berbeda, indeks Shanghai Tiongkok menguat tipis 10,95 poin atau 0,26 persen ke 4.150,54, dan indeks Hang Seng Hong Kong melonjak 286,22 poin atau 1,13 persen ke 27.068,19. Di sisi lain, indeks Strait Times Singapura melemah 25,19 poin atau 0,97 persen ke 4.897,89.