
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok signifikan pada perdagangan Jumat (8/5). Indeks tercatat melemah 204,93 poin atau terkoreksi 2,853 persen, sehingga harus puas berada di level 6.969,396. Pelemahan ini juga menekan indeks saham unggulan LQ45 yang turun 2,394 persen ke posisi 677,179. Berdasarkan data perdagangan, total nilai transaksi mencapai Rp 35,81 triliun dengan volume 55,77 miliar saham yang berpindah tangan dalam 2,80 juta kali transaksi.
Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menilai pasar saham domestik saat ini masih bergerak sangat volatil akibat ketidakpastian global yang belum mereda. Pemicu utama tekanan tersebut adalah meningkatnya tensi geopolitik, terutama konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
“IHSG masih cukup volatil selama perkembangan global belum kondusif. Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas,” ujar Myrdal kepada kumparan, Jumat (8/5). Menurutnya, laporan mengenai serangan kapal di Selat Hormuz menjadi katalis negatif yang membuat pasar keuangan domestik berada dalam tekanan berat atau underpressure.
Meski sentimen eksternal sedang mendominasi, Myrdal menilai fundamental ekonomi Indonesia sebenarnya masih relatif solid. Hal ini terlihat dari capaian pertumbuhan ekonomi kuartal I yang berhasil menyentuh angka 5,61 persen secara year on year (yoy). Namun, selama belum ada sentimen positif dari global, investor cenderung mengambil langkah hati-hati.
“Dari sisi domestik, saya rasa ekonomi kita masih solid. Namun, karena investor global masih menjadi penggerak utama, arah IHSG sangat dipengaruhi perubahan sentimen luar. Saat ini, orientasi investor lebih memilih bermain jangka pendek dan mengurangi aktivitas investasi jangka menengah maupun panjang,” jelas Myrdal.
Pandangan serupa datang dari Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta. Ia menilai pasar masih dihantui ketidakpastian mengenai prospek gencatan senjata di Timur Tengah. Keraguan pasar semakin tebal karena sulitnya mencapai kesepakatan antara Iran dan Amerika Serikat terkait program nuklir.
“Gencatan senjata masih menjadi tanda tanya besar karena Iran belum tentu bersedia menaati syarat AS untuk meninggalkan program nuklir. Situasi ini memang cukup sulit,” ungkap Nafan.
Selain faktor geopolitik, Nafan menambahkan bahwa aksi jual investor juga dipengaruhi oleh penantian pasar terhadap jadwal rebalancing indeks MSCI yang akan berlangsung pada 12 Mei 2026 mendatang. “Adanya agenda rebalancing MSCI pada 12 Mei nanti turut memberikan dampak bagi IHSG, sehingga wajar jika indeks saat ini tengah mengalami koreksi,” pungkasnya.
Ringkasan
IHSG ditutup melemah signifikan sebesar 2,853 persen ke level 6.969,396 pada perdagangan Jumat (8/5) akibat ketidakpastian global yang meningkat. Penurunan ini dipicu oleh memanasnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Meskipun fundamental ekonomi domestik masih solid dengan pertumbuhan 5,61 persen, investor cenderung bersikap hati-hati dan memilih orientasi jangka pendek.
Selain sentimen geopolitik, tekanan pasar juga dipengaruhi oleh agenda rebalancing indeks MSCI yang dijadwalkan pada 12 Mei mendatang. Total nilai transaksi perdagangan mencapai Rp 35,81 triliun dengan volume saham yang berpindah tangan sebanyak 55,77 miliar. Ketidakpastian mengenai prospek gencatan senjata di Timur Tengah masih menjadi faktor utama yang membuat pasar keuangan domestik berada dalam tekanan berat.