
Babaumma JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan akan melanjutkan tren pelemahan atau bearish pada pekan depan. Penurunan ini diperkirakan akan dipicu oleh gabungan sentimen dari ranah global maupun domestik yang saling berinteraksi.
Analisis yang disampaikan oleh Reza Diofanda dari BRI Danareksa Sekuritas menggarisbawahi bahwa tekanan terhadap IHSG masih konsisten, terbentuk dari kombinasi sentimen global dan domestik. “Proyeksi IHSG pekan depan menunjukkan bahwa pasar masih cenderung berada dalam fase konsolidasi dengan bias melemah atau bearish minor,” terang Reza pada Minggu (29/3/2026).
Reza menambahkan bahwa meskipun laporan keuangan emiten tahun 2025 menjadi salah satu katalis yang mendorong pergerakan pasar saham, pendorong utama IHSG saat ini justru berasal dari faktor eksternal. Secara spesifik, ketidakpastian seputar konflik di Timur Tengah masih menjadi perhatian utama. Ia menjelaskan, meskipun Amerika Serikat telah menunda rencana penyerangan hingga 6 April 2026 dan mengajukan 15 poin perdamaian, Iran belum memberikan respons. Bahkan, Iran masih membatasi akses ke Selat Hormuz, jalur vital bagi perdagangan global. Situasi ini secara langsung mendorong lonjakan harga komoditas penting seperti minyak bumi dan batu bara, memicu kekhawatiran akan peningkatan inflasi global di masa mendatang.
Menyikapi pekan mendatang, Reza menggarisbawahi pentingnya beberapa rilis data ekonomi. Dari sisi global, investor perlu mencermati data Non-Farm Payrolls (NFP) dan Tingkat Pengangguran Amerika Serikat (AS). “Data tenaga kerja AS ini akan menjadi salah satu acuan krusial dalam menentukan arah kebijakan suku bunga The Fed ke depan,” tegasnya, mengingat dampaknya yang signifikan terhadap pasar finansial global.
Sementara itu, dari ranah domestik, beberapa data ekonomi yang patut diperhatikan adalah neraca perdagangan Indonesia yang diproyeksikan masih menunjukkan surplus. Selain itu, inflasi Maret 2026 diperkirakan akan meningkat ke kisaran 5%–5,4% secara tahunan. Kenaikan inflasi ini dipicu oleh momentum perayaan Lebaran, peningkatan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM), serta kenaikan harga energi global akibat gangguan pasokan.
Secara teknikal, Reza menjelaskan bahwa IHSG saat ini masih dalam fase downtrend jangka pendek. Hal ini terlihat dari struktur lower high dan lower low yang masih stabil. Pergerakan IHSG saat ini berada di area support krusial antara 6.920 hingga 7.000, yang diidentifikasi sebagai area demand. Apabila IHSG mampu bertahan di level ini, ada potensi terjadinya technical rebound atau pergerakan sideways. Namun, jika terjadi breakdown di bawah level tersebut, peluang pelemahan lanjutan IHSG terbuka lebar menuju area 6.750–6.800. Adapun level resistance IHSG berada pada kisaran 7.300–7.400, dan selama belum mampu menembus area ini, pergerakan IHSG diprediksi akan cenderung terbatas.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.