
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan kembali mengalami tekanan dan melemah pada perdagangan Senin (16/3). Proyeksi ini datang setelah IHSG menutup pekan sebelumnya dengan koreksi signifikan sebesar 3,05 persen, menetap di level 7.137 pada penutupan Jumat (13/3).
Menurut analisis teknikal dari MNC Sekuritas, posisi IHSG saat ini diidentifikasi sebagai bagian dari wave (v) dari wave [c] dari wave A pada label hitam, atau wave (2) pada label merah. Berdasarkan pola gelombang ini, MNC Sekuritas memperkirakan IHSG berpotensi melanjutkan koreksinya. Target pelemahan lanjutan diperkirakan berada dalam rentang 6.991-7.140, sementara area penguatan terdekat yang dapat diantisipasi adalah pada level 7.241-7.308. Prediksi ini termuat dalam riset terbaru mereka yang dirilis pada Senin (16/3).
Sejalan dengan proyeksi tersebut, MNC Sekuritas juga memberikan rekomendasi sejumlah saham yang menarik untuk dicermati selama perdagangan Senin (16/3). Beberapa di antaranya meliputi ADMR, DSNG, PTRO, dan TAPG.
Dari sisi fundamental, analis Phintraco Sekuritas menyoroti peningkatan kekhawatiran di kalangan investor. Konflik yang berkepanjangan antara Amerika Serikat dan Iran berpotensi mempertahankan harga minyak mentah pada level tinggi lebih lama dari ekspektasi. Situasi ini dikhawatirkan dapat memicu lonjakan inflasi di dalam negeri dan sekaligus memperlebar defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Terkait kondisi fiskal, opsi untuk memperlebar batas defisit APBN hingga di atas 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) masih dalam tahap pembahasan intensif. Pemerintah terus melakukan perhitungan cermat mengenai dampak lanjutan dari lonjakan harga minyak mentah terhadap stabilitas fiskal negara. Apabila opsi pelebaran defisit di atas 3 persen ini pada akhirnya diputuskan, pemerintah menegaskan akan mempertimbangkan secara mendalam berbagai konsekuensi fiskal yang mungkin timbul.
Menambah daftar sentimen negatif global, kebijakan perdagangan Amerika Serikat (AS) juga menjadi sorotan. AS meluncurkan investigasi baru yang menargetkan 60 negara untuk menilai kepatuhan mereka dalam membatasi impor barang yang disinyalir diproduksi dengan menggunakan kerja paksa. Phintraco Sekuritas dalam risetnya pada Senin (16/3) menjelaskan bahwa Pasal 301 kebijakan perdagangan AS memberikan wewenang kepada pemerintah AS untuk mengenakan tarif pada negara-negara yang terbukti melakukan praktik perdagangan tidak adil, bahkan tanpa persetujuan tambahan dari Kongres.

Investigasi terbaru ini merupakan kelanjutan dari penyelidikan serupa yang telah dirilis pada Rabu (11/3) sebelumnya. Penyelidikan terdahulu tersebut berfokus pada isu kelebihan kapasitas industri di 16 negara, di antaranya termasuk China, Australia, Indonesia, Jepang, Malaysia, Singapura, Korea Selatan, Swiss, dan Thailand. Keikutsertaan Indonesia dalam daftar ini tentu menjadi perhatian.
Namun, di tengah gejolak pasar energi, terdapat langkah yang berpotensi meredam kenaikan harga. Amerika Serikat untuk sementara mengizinkan pembelian minyak mentah asal Rusia yang sudah berada di laut, dengan tujuan membantu menstabilkan harga minyak global. Diperkirakan, per 12 Maret 2026, sekitar 124 juta barel minyak Rusia tengah dalam perjalanan di laut, tersebar di sekitar 30 lokasi di seluruh dunia. Volume ini setara dengan pasokan minyak global untuk durasi sekitar lima hingga enam hari, memberikan sedikit kelonggaran di pasar.
Melengkapi analisis fundamentalnya, Phintraco Sekuritas juga memberikan pandangan teknikalnya. Menurut mereka, IHSG secara teknikal diperkirakan masih berpotensi melanjutkan fase koreksinya dan akan menguji level psikologis penting di angka 7.000.
Untuk pekan ini, Phintraco Sekuritas merekomendasikan beberapa saham yang layak mendapat perhatian para investor, termasuk PTBA, JPFA, CPIN, ULTJ, LSIP, dan ADMR.
Disclaimer: Keputusan investasi sepenuhnya berada pada pertimbangan dan diskresi pembaca. Artikel ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli, menahan, atau menjual produk investasi tertentu.