
JAKARTA — BRI Danareksa Sekuritas memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan menunjukkan kinerja yang mengesankan, melaju menuju level di atas 9.000 pada tahun 2026. Dalam skenario dasar, target IHSG ditetapkan pada 9.440, sementara skenario bullish bahkan melihat potensi mencapai 9.820.
Tim Analis BRI Danareksa Sekuritas, yang dipimpin oleh Helmy Kristanto, menjelaskan bahwa proyeksi optimis ini didasarkan pada dua asumsi utama. Pertama, estimasi pertumbuhan laba per saham (earnings per share/EPS) pada tahun 2026 sebesar 8% dan kelipatan price to earnings (PE) 14,2 kali, sejalan dengan rata-rata lima tahun untuk kelompok saham berfundamental kuat. Kedua, premi sebesar 40% diperhitungkan untuk mencerminkan berlanjutnya aliran dana ke saham-saham konglomerasi dan emiten yang berpotensi masuk dalam indeks utama.
Lebih lanjut, dalam risetnya, BRI Danareksa Sekuritas juga merinci skenario lainnya. Untuk skenario bullish, target IHSG sebesar 9.820 didukung oleh asumsi pertumbuhan EPS 10%. Sebaliknya, skenario bearish dengan target 9.135 mengasumsikan pertumbuhan EPS sebesar 6%.
Namun, Helmy turut mengingatkan para investor mengenai risiko utama yang mungkin memengaruhi pasar. Risiko ini mencakup potensi tekanan atau perubahan arah kebijakan dan program pemerintah, serta perubahan pada metodologi indeks utama yang dapat berdampak signifikan terhadap pergerakan pasar saham.
Dalam konteks pemilihan sektor, BRI Danareksa Sekuritas memprioritaskan sektor-sektor yang menawarkan visibilitas pertumbuhan yang lebih baik. Proyeksi untuk tahun 2026 disusun menggunakan pendekatan bottom-up atau stock picking. Meskipun demikian, fokus utama tetap pada sektor domestik terpilih yang menjanjikan prospek pertumbuhan yang lebih cerah.
Secara spesifik, sektor perbankan dan konsumer dipandang mencerminkan prospek pertumbuhan laba yang relatif rendah, sejalan dengan proyeksi permintaan yang masih lemah. EPS untuk kedua sektor ini pada tahun 2026 masing-masing diproyeksikan tumbuh 4% dan 6% secara tahunan (year-on-year/YoY). Sementara itu, sektor telekomunikasi diestimasi akan mencatat pertumbuhan EBITDA sebesar 7% pada 2026. Sektor unggas dan ritel, yang dianggap memiliki visibilitas pertumbuhan baik, diperkirakan akan mengalami pertumbuhan EPS masing-masing 4% dan 16%.
Untuk sektor komoditas, BRI Danareksa Sekuritas melihat prospek pertumbuhan EPS yang menarik pada sektor logam, diproyeksikan sebesar 27% pada 2026. Peningkatan ini terutama didukung oleh ekspektasi pertumbuhan volume dari proyek-proyek baru dan ekspansi di sejumlah emiten kunci, seperti BRMS, INCO, dan MBMA. Namun, mengingat prospek harga nikel yang cenderung datar, kinerja pada tahun 2026 diperkirakan akan lebih menguntungkan bagi emiten dengan eksposur ke emas, seperti BRMS, dan timah, seperti TINS. Selain itu, potensi kenaikan valuasi dari aset-aset baru pada DEWA dan BRMS juga menjadi sorotan.
Tidak hanya itu, BRI Danareksa Sekuritas juga mempertimbangkan perkiraan total imbal hasil ke depan (forward total return) tertinggi, serta potensi dividend yield pada tahun 2026 sebagai bagian dari analisis menyeluruh mereka.
Untuk tahun 2026, saham-saham pilihan utama BRI Danareksa Sekuritas meliputi BBCA dengan target harga (TP) Rp10.800, ISAT dengan TP Rp3.000, JPFA dengan TP Rp3.100, ASII dengan TP Rp7.450, KLBF dengan TP Rp1.710, AADI dengan TP Rp9.850, NCKL dengan TP Rp1.300, dan ICBP dengan TP Rp11.500 per saham.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.