
Babaumma – JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Senin (16/3/2026) dengan pelemahan signifikan, ditutup pada level 7.022,28. Kondisi ini sejalan dengan terkoreksinya harga sejumlah saham berkapitalisasi besar (big caps) terkemuka, seperti AMMN, DSSA, BREN, hingga TPIA, yang memberikan tekanan kuat pada pasar.
Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG tercatat anjlok sebesar 1,61% atau setara dengan 114,92 poin, menuju level penutupan 7.022,28. Pergerakan indeks komposit pada hari ini dibuka pada level 7.115,45 dan sempat menyentuh posisi tertingginya di 7.120,18, sebelum akhirnya berbalik arah dan mengakhiri sesi dalam zona merah.
Dinamika pasar hari ini jelas menunjukkan dominasi tekanan jual. Tercatat, hanya 180 saham yang berhasil menguat, sementara mayoritas, yaitu 542 saham, mengalami penurunan. Sebanyak 98 saham lainnya terpantau stagnan. Total kapitalisasi pasar atau market cap di BEI pada penutupan sesi ini mencapai Rp12.439 triliun, mencerminkan skala dampak pelemahan yang terjadi.
Di tengah gelombang tekanan jual yang melanda, beberapa saham unggulan berhasil menunjukkan ketahanan. Saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) menjadi salah satu penopang dengan mencatatkan penguatan sebesar 1,89% menuju posisi Rp4.320. Tak ketinggalan, saham PT Astra International Tbk. (ASII) juga menyusul dengan kenaikan tipis 0,43%, mengakhiri perdagangan di level Rp5.850 per saham.
Namun, tekanan jual paling tajam menimpa PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) yang anjlok 8,89% ke level Rp4.510. Disusul oleh PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) yang terkoreksi dalam 8,03% menjadi Rp61.550 per saham. Penurunan signifikan kedua emiten ini memberikan kontribusi besar terhadap pelemahan IHSG secara keseluruhan.
Gelombang koreksi juga menyeret saham-saham blue chip lainnya. Saham PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) terpantau melemah 5,50%, diikuti oleh koreksi saham PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) sebesar 5,16%. Di sektor pertambangan, saham PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) juga mencatat penurunan 2,51%, menambah daftar emiten yang terkena sentimen negatif.
Di sisi lain, pasar mencatat adanya saham-saham dengan kinerja paling cemerlang atau top gainers pada hari ini. PT Prasidha Aneka Niaga Tbk. (PSDN) melesat signifikan hingga 34,53% ke level Rp187. Tak hanya itu, PT Perintis Triniti Properti Tbk. (TRIN) juga tumbuh impresif 24,39% menjadi Rp765 per saham, menunjukkan minat investor pada saham-saham dengan potensi pertumbuhan tinggi.
Sebaliknya, posisi saham-saham yang mengalami koreksi paling dalam atau top losers juga menarik perhatian. PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) memimpin daftar ini dengan penurunan 14,56% menjadi Rp675. Sementara itu, PT Bersama Zatta Jaya Tbk. (ZATA) juga anjlok 14,43% ke posisi Rp83 per saham, menandai sesi perdagangan yang sulit bagi kedua emiten tersebut.
Menanggapi pergerakan pasar, Head of Research Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan mengungkapkan bahwa IHSG sempat ditutup melemah 1,37 ke level 7.039,40 pada perdagangan sesi pertama. Valdy menyoroti bahwa secara teknikal, pembentukan histogram negatif pada indikator MACD masih berlanjut, didukung oleh indikator Stochastic RSI yang telah memasuki area oversold.
Berdasarkan analisis teknikal tersebut, Valdy memperkirakan bahwa IHSG berpotensi bergerak dalam rentang konsolidasi antara level 7.000 hingga 7.075 pada perdagangan sesi kedua hari ini, memberikan panduan bagi investor untuk memantau pergerakan selanjutnya.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.