Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan rawan terkoreksi pada perdagangan saham hari ini, Rabu (24/12). Meskipun demikian, sejumlah analis merekomendasikan beberapa saham potensial untuk dikoleksi di tengah potensi pelemahan pasar. Saham-saham yang direkomendasikan antara lain PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), PT Timah Tbk (TINS), PT Harum Energy Tbk (HRUM), dan PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET).
Analis MNC Sekuritas Indonesia, Herditya Wicaksana, mengamati adanya volume tekanan jual yang signifikan pada pergerakan IHSG. Secara teknikal, IHSG diperkirakan berada dalam fase wave [iv] dari wave 5 (label hitam). Kondisi ini mengindikasikan peluang terjadinya koreksi untuk menguji area 8.464–8.560, sekaligus berpotensi menutup celah (gap) tipis yang terbentuk sebelumnya. Herditya menambahkan bahwa dalam skenario terburuk (worst case), IHSG bahkan bisa saja telah menyelesaikan wave (1) dan akan mengalami koreksi yang lebih dalam, menuju area 8.000-an.
MNC Sekuritas menetapkan level support IHSG berada di 8.553 dan 8.493, sementara level resistance terdekat diproyeksikan di 8.714 dan 8.821. Sebagai informasi, support adalah area harga saham tertentu yang diyakini sebagai titik terendah pada suatu periode, di mana harga umumnya akan kembali naik karena meningkatnya daya beli. Sebaliknya, resistance merupakan tingkat harga saham tertentu yang dianggap sebagai titik tertinggi, di mana setelah menyentuh level ini, seringkali terjadi aksi jual yang cukup besar sehingga menahan laju kenaikan harga.
Dalam kondisi pasar yang rawan koreksi, MNC Sekuritas merekomendasikan strategi buy on weakness untuk beberapa saham. Untuk saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), direkomendasikan akumulasi beli pada rentang harga Rp 540–Rp 560, dengan target harga Rp 610–Rp 640 dan level stoploss di bawah Rp 525. Selanjutnya, PT Timah Tbk (TINS) disarankan untuk buy on weakness pada area Rp 3.230–Rp 3.270, dengan target harga Rp 3.410–Rp 3.530 dan stoploss di bawah Rp 3.180. Sementara itu, saham PT Semen Baturaja Tbk (SMBR) direkomendasikan buy on weakness pada level Rp 282–Rp 284, dengan target harga Rp 296 dan Rp 304, serta stoploss jika harga bergerak di bawah Rp 280.
Di sisi lain, Phintraco Sekuritas memiliki pandangan berbeda mengenai pergerakan IHSG hari ini, memperkirakan indeks akan bergerak mendatar atau sideways. Mereka menempatkan area support di 8.500–8.525 dan resistance di kisaran 8.650–8.680. Secara teknikal, momentum penguatan jangka pendek indeks mulai menunjukkan pelemahan setelah IHSG ditutup di bawah MA5 dan MA20 pada perdagangan sebelumnya. Kendati demikian, koreksi yang terjadi kemarin masih tergolong sehat selama IHSG mampu bertahan di atas MA50 yang berada di kisaran 8.418. Indikator Stochastic RSI juga masih berada di area oversold, sementara histogram MACD negatif tercatat semakin melebar, mengindikasikan tekanan jual.
Pelaku pasar juga turut mencermati rilis data initial jobless claims di Amerika Serikat pekan lalu, yang diproyeksikan naik tipis menjadi 226 ribu klaim dibandingkan 224 ribu klaim pada pekan sebelumnya. Selain itu, sentimen pasar juga dipengaruhi oleh pengumuman Pemerintah AS mengenai rencana kenaikan tarif impor semikonduktor asal Tiongkok, yang akan diberlakukan mulai Juni 2027, dengan besaran tarif yang akan ditetapkan selambat-lambatnya satu bulan sebelum implementasi.
Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, Phintraco Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham menarik, meliputi PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI), PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET), PT Harum Energy Tbk (HRUM), PT Indosat Tbk (ISAT), dan PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA).