Usai Ali Larijani, Menteri Intelijen Iran Esmail Khatib tewas dibunuh Israel

Serangan yang dikaitkan dengan Israel pada Rabu (18/3) malam dilaporkan telah menewaskan Menteri Intelijen Iran, Esmail Khatib, menandai insiden ketiga yang menimpa pejabat tinggi Iran hanya dalam dua hari terakhir. Kabar duka ini semakin memperuncing ketegangan di kawasan.

Advertisements

Presiden Masoud Pezeshkian segera menyampaikan duka cita mendalam atas serangkaian insiden tragis ini. Dalam pernyataannya, ia mengutuk keras pembunuhan terhadap Menteri Intelijen Esmail Khatib, Ali Larijani, dan Aziz Nasirzadeh, menyebutnya sebagai “tindakan keji” yang tidak hanya merenggut nyawa para pemimpin tetapi juga anggota keluarga dan tim pendamping mereka. Lebih lanjut, Pezeshkian juga menyampaikan belasungkawa kepada seluruh rakyat Iran atas gugurnya dua anggota kabinet, Sekretaris Dewan Pertahanan Tertinggi, serta sejumlah komandan militer dan anggota Basij. Dengan nada penuh keyakinan, melalui akun media sosial resminya X pada Rabu (18/3) malam, ia menegaskan, “Saya yakin perjuangan mereka akan berlanjut dengan tekad yang lebih kuat dari sebelumnya.”

Tidak berhenti di situ, Pezeshkian turut mengecam keras serangan yang menargetkan infrastruktur energi negaranya. Ia dengan tegas menyatakan bahwa agresi semacam itu tidak akan membawa keuntungan sedikit pun bagi entitas “Zionis-Amerika” dan para pendukungnya. Sebaliknya, ia memperingatkan bahwa tindakan provokatif ini justru akan memperumit situasi dan berpotensi memicu konsekuensi yang tidak terkendali, bahkan “dapat menyebabkan dampak yang tak terkendali yang pengaruhnya akan meluas ke seluruh dunia,” pungkasnya.

Sebelum tewasnya Esmail Khatib, kabar duka telah menyelimuti Iran pada Selasa (17/3) pagi, ketika Politikus Iran sekaligus Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, gugur dalam serangan udara yang juga dikaitkan dengan Israel. Media pemerintah Iran secara terpisah mengonfirmasi bahwa Brigadir Jenderal Gholamreza Soleimani, kepala pasukan paramiliter Basij Iran, turut menjadi korban dalam insiden serupa. Mengingat peran sentralnya, Larijani terakhir kali terlihat di hadapan publik pada hari Jumat sebelumnya, saat berpartisipasi dalam parade Hari Al-Quds di ibu kota, Teheran.

Advertisements

Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC), melalui pernyataan yang dikutip oleh Al Jazeera, mengenang Ali Larijani sebagai sosok yang sangat penting: seorang tokoh kunci, pemikir visioner, dan politikus revolusioner. Kantor berita Tasnim Iran, juga mengutip Al Jazeera pada Rabu (18/3), menegaskan sikap IRGC: “Darah suci para syuhada agung ini, seperti para syuhada lainnya, akan menjadi sumber kehormatan, kekuatan, dan kebangkitan nasional, IRGC tentu tidak akan melupakan dendam darah syuhada besar ini.” Kematian Larijani menjadi sorotan karena ia merupakan salah satu pejabat Iran tertinggi yang gugur dalam serangkaian serangan yang dikaitkan dengan Amerika Serikat dan Israel. Kehadiran publik terakhirnya pada Jumat di aksi Hari Al-Quds di Teheran, bersama Presiden Masoud Pezeshkian untuk mendukung rakyat Palestina, semakin menyoroti posisinya yang strategis.

Sepanjang kariernya, Ali Larijani telah lama diakui sebagai tokoh politik sentral dalam struktur pemerintahan Iran. Perannya sangat krusial, termasuk dalam memimpin perundingan nuklir sensitif dengan negara-negara Barat, serta pernah menduduki posisi prestisius sebagai ketua parlemen Iran. Warisan politiknya kini meninggalkan kekosongan yang signifikan di tengah krisis yang membara.

Advertisements