JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan performa yang kurang bergairah pada penutupan sesi I perdagangan hari ini, Jumat (20/2/2026), dengan terkoreksi tipis. Sentimen negatif ini turut menyeret kinerja mayoritas saham-saham terafiliasi konglomerat ternama di pasar modal Indonesia.
Berdasarkan data resmi Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG berakhir di level 8.261,15, turun 0,16% pada sesi pertama. Sepanjang tiga jam awal perdagangan, indeks komposit sempat bergerak fluktuatif dalam rentang 8.236,75 hingga 8.328,42. Kondisi ini mencerminkan dominasi tekanan jual, dengan 425 saham melemah, berbanding 261 saham yang menguat, sementara 272 saham lainnya stagnan.
Pelemahan ini terasa signifikan di jajaran emiten milik konglomerat Aburizal Bakrie. Hanya dua entitas yang mampu bertahan dan mencatatkan kenaikan: PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG) melonjak 9,65%, dan PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk. (UNSP) menguat 4,44%. Sebaliknya, saham-saham lain dalam grup ini terperosok, seperti PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) yang terkoreksi 3,12% menjadi Rp620, PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) melemah 2% ke Rp294, PT Bakrieland Development Tbk. (ELTY) anjlok 8,7% ke Rp42, serta PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) turun 0,47% ke Rp1.050.
Nasib serupa juga dialami oleh emiten-emiten di bawah kendali konglomerat Anthoni Salim. Meskipun beberapa saham menunjukkan penguatan, seperti PT Indomobil Sukses Internasional Tbk. (IMAS) naik 0,92% ke Rp1.095, PT Salim Ivomas Pratama Tbk. (SIMP) menguat 3,39% ke Rp610, dan PT PP London Sumatra Indonesia Tbk. (LSIP) naik 0,84% ke Rp1.205, namun tekanan jual tetap terasa. Sektor konsumer milik Salim justru mengalami koreksi, terlihat dari PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) yang turun 0,92% ke Rp8.050, dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) melemah 0,37% ke Rp6.700.
Kinerja saham milik Prajogo Pangestu cenderung seragam dalam pelemahan, tanpa satupun yang mampu menguat. PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) terkoreksi 2,86% ke Rp2.040, PT Chandra Daya Investasi Tbk. (CDIA) melemah 2,97% ke Rp1.145, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) turun 3,42% ke Rp1.695, PT Petrosea Tbk. (PTRO) merosot 3,07% ke Rp7.100, dan PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) melemah 0,74% ke Rp6.725.
Tekanan jual juga merata pada sejumlah saham terafiliasi Boy Thohir. PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) terkoreksi 2,36% ke Rp9.325, diikuti oleh PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk. (ADMR) yang melemah 0,49% ke Rp2.020, serta PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO) yang turun 0,87% ke Rp2.280.
Di tengah maraknya pelemahan, Grup Djarum menjadi pengecualian dengan kinerja yang mengesankan, memimpin penguatan di antara saham-saham konglomerat. PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) menguat 0,35% ke Rp7.200, PT Remala Abadi Tbk. (DATA) naik 0,26% ke Rp3.880, PT Supra Boga Lestari Tbk. (RANC) melonjak 0,7% ke Rp720, PT Surya Semesta Internusa Tbk. (SSIA) naik 1,03% ke Rp1.465, dan PT Sarana Menara Nusantara Tbk. (TOWR) menguat 0,97% ke Rp520.
Sebelumnya, IHSG diperkirakan akan menguji level support 8.227 pada perdagangan hari ini, Jumat (20/2/2026), dengan kesepakatan dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat sebagai salah satu pendorong utama. Tim riset Sinarmas Sekuritas menempatkan rating netral untuk IHSG, memproyeksikan pergerakan indeks dalam rentang support 8.227–8.170 dan resistance 8.352–8.408. Mereka juga menambahkan, “Sementara itu, dynamic support 8.000 diharapkan menjadi bantalan kuat apabila terjadi koreksi lanjutan,”.
Dari ranah domestik, Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75%, sebuah keputusan yang sejalan dengan ekspektasi pasar. Kebijakan ini dinilai krusial dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan likuiditas pasar domestik. Selain itu, penandatanganan 11 kesepakatan strategis antara Indonesia dan AS senilai US$38,4 miliar di berbagai sektor, termasuk pertambangan, energi, tekstil, dan teknologi, berpotensi menjadi katalis positif jangka menengah bagi emiten-emiten terkait.
Namun, sentimen global cenderung membayangi dengan nuansa negatif akibat aksi ambil untung investor. Meskipun data klaim pengangguran AS menunjukkan perbaikan, turun menjadi 206.000, lebih baik dari ekspektasi 223.000, tekanan pasar tetap terasa. Di sisi lain, defisit perdagangan AS yang melebar menjadi US$70,3 miliar pada Desember 2025, memberikan sinyal tekanan pada neraca eksternal Negeri Paman Sam tersebut.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.