IMF sebut Uni Eropa berpotensi alami resesi akibat perang Iran dan AS-Israel

Dunia sedang menyaksikan bagaimana gejolak geopolitik, khususnya konflik yang memanas antara Iran dan koalisi Amerika Serikat-Israel, mulai merembet luas hingga memengaruhi perekonomian global. Dana Moneter Internasional (IMF) secara tegas memperingatkan bahwa dampaknya sangat signifikan, berpotensi mendorong negara-negara di Uni Eropa (UE) ke ambang resesi, diiringi lonjakan inflasi yang mendekati angka lima persen.

Advertisements

Alfred Kammer, Kepala Departemen Eropa IMF, pada Jumat (17/4) lalu, menjelaskan bahwa skenario terburuk yang mereka proyeksikan adalah adanya guncangan pasokan berkelanjutan serta pengetatan kondisi keuangan global. Faktor-faktor ini, menurut Kammer, akan menjadi pemicu utama yang menyeret UE lebih dekat ke jurang resesi, dengan laju inflasi yang mendekati 5 persen. Lebih jauh, Kammer juga menegaskan bahwa tidak satu pun negara di Eropa yang akan mampu mengelak dari gelombang dampak ekonomi akibat krisis di Timur Tengah ini.

Melihat prospek inflasi jangka pendek yang terus menanjak, IMF turut memproyeksikan bahwa Bank Sentral Eropa (ECB) kemungkinan besar akan mengambil kebijakan moneter yang lebih ketat. Institusi keuangan global ini memperkirakan ECB akan menaikkan suku bunga acuan hingga 50 basis poin pada akhir tahun 2026. Meski demikian, Kammer menyoroti bahwa respons kebijakan dari ECB ini sangat dinamis, dan bisa saja berubah tergantung pada perkembangan pasar energi global dalam beberapa minggu ke depan, serta kondisi ekonomi kawasan euro secara keseluruhan. Ia menambahkan, karena laju inflasi zona euro masih mendekati target dan ekspektasi jangka menengah relatif stabil, ECB sejatinya masih memiliki ruang dan waktu untuk secara cermat memantau lebih lanjut dampak konflik sebelum memutuskan langkah-langkah kebijakan berikutnya.

Kammer secara khusus menggarisbawahi bahwa pemicu utama dampak ekonomi yang dirasakan UE adalah lonjakan harga energi. Menurutnya, harga energi industri di Uni Eropa saat ini sudah melambung hingga dua kali lipat dibandingkan sebelum tahun 2022, bahkan jauh melampaui level harga energi di Amerika Serikat. Situasi ini, lanjut Kammer, diperparah oleh tingginya ketergantungan UE terhadap impor energi serta fragmentasi yang terjadi dalam pasar energi di kawasan tersebut, menjadikannya sangat rentan terhadap guncangan eksternal.

Advertisements

Beralih ke Inggris, IMF juga memberikan rekomendasi spesifik. Mereka menyarankan agar kebijakan moneter yang ketat tetap dipertahankan guna membendung gelombang tekanan inflasi yang terus membayangi. Kekhawatiran IMF terhadap ekonomi Inggris terlihat dari langkah mereka menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi negara tersebut untuk tahun 2026 secara lebih tajam dibandingkan negara-negara anggota G7 lainnya. Inflasi di Inggris sendiri diperkirakan akan menyentuh angka 3,2 persen tahun ini. Menanggapi situasi ini, Menteri Keuangan Inggris, Rachel Reeves, mengakui bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah telah menciptakan serangkaian tantangan yang sangat signifikan bagi negaranya, mengindikasikan bahwa prospek ekonomi masih diselimuti ketidakpastian.

Advertisements