
Pemerintah Indonesia dan Rusia secara intensif membahas berbagai peluang kerja sama strategis di sektor energi, mulai dari minyak dan gas bumi (migas), LNG, LPG, hingga pengembangan energi terbarukan. Salah satu poin krusial yang menjadi sorotan adalah penjajakan pemanfaatan energi nuklir untuk tujuan damai dalam rangkaian Sidang Komisi Bersama (SKB) ke-14 Indonesia–Rusia yang berlangsung di Kazan, Rusia, pada Selasa (12/5).
Sektor energi dan sumber daya mineral menjadi fokus utama dalam pertemuan bilateral tersebut. Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI, Yuliot, menyatakan bahwa pembahasan tersebut juga mencakup rencana pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir modular kecil sebagai bagian dari inovasi teknologi energi masa depan.
Dalam keterangan resminya, Yuliot memaparkan sejumlah kemajuan kerja sama energi antara kedua negara. Pembahasan teknis mencakup tindak lanjut rencana pembelian minyak, pengembangan ladang migas, hingga perkembangan proyek strategis Grass Root Refinery (GRR) Tuban. Kerja sama ini dianggap vital untuk mendukung ketahanan energi nasional dan mempercepat transisi menuju energi bersih.
Pada sesi Plenary SKB ke-14, Yuliot menekankan pentingnya investasi dan kolaborasi teknologi antara Indonesia dan Rusia. Strategi ini sangat krusial untuk memperkuat kedaulatan energi, baik dalam pemenuhan kebutuhan bahan bakar minyak maupun pasokan listrik nasional yang lebih ramah lingkungan.
Sejalan dengan prioritas nasional, Pemerintah Indonesia terus berupaya menambah kapasitas pembangkit listrik sebagaimana tertuang dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034. Terkait energi nuklir, Indonesia telah menetapkan target ambisius untuk membangun dua unit pembangkit dengan total kapasitas mencapai 500 MW.
Momentum penguatan kerja sama ini sebelumnya telah diperkuat melalui pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dan Direktur Jenderal Rosatom, Alexey Likhachev, di Istana Merdeka, Jakarta. Sebagai BUMN nuklir asal Rusia, Rosatom diharapkan dapat menjadi mitra dalam pengembangan infrastruktur nuklir, pelatihan sumber daya manusia, serta penerapan teknologi nuklir di luar sektor energi.
Alexey Likhachev mengapresiasi langkah berani Indonesia dalam menetapkan target pengembangan energi nuklir. Ia menegaskan bahwa kemitraan ini tidak hanya berorientasi pada aspek teknologi, tetapi juga diarahkan pada pembangunan industri baru dan penguatan kedaulatan teknologi. Melalui kolaborasi jangka panjang ini, diharapkan akan muncul kompetensi baru bagi tenaga kerja lokal yang mampu mendukung kemandirian energi bangsa.
Ringkasan
Indonesia dan Rusia secara intensif membahas kerja sama strategis di sektor migas, energi terbarukan, hingga pemanfaatan energi nuklir untuk tujuan damai. Fokus utama pertemuan ini mencakup rencana pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir modular kecil sebagai inovasi teknologi energi masa depan. Kerja sama tersebut bertujuan untuk memperkuat ketahanan energi nasional serta mempercepat transisi menuju energi yang lebih bersih.
Pembahasan teknis juga mencakup proyek strategis Grass Root Refinery Tuban, pengembangan ladang migas, dan rencana pembelian minyak mentah. Melalui kemitraan dengan perusahaan Rosatom, Indonesia menargetkan pembangunan pembangkit nuklir berkapasitas 500 MW sesuai Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik 2025–2034. Kolaborasi jangka panjang ini diharapkan dapat meningkatkan kedaulatan teknologi serta kompetensi tenaga kerja lokal di sektor energi nasional.