Indonesia mendesak semua pihak untuk menahan diri, mengedepankan jalur dialog dan diplomasi guna meredakan ketegangan yang kian memanas di Timur Tengah. Negara kepulauan ini menegaskan kembali kesiapannya untuk memfasilitasi perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran demi terciptanya kembali kondisi yang aman dan kondusif di kawasan tersebut.
Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI, melalui pernyataan resminya pada Sabtu (28/2), kembali menekankan pentingnya menghormati kedaulatan dan integritas wilayah setiap negara, serta menyelesaikan setiap perbedaan melalui cara-cara damai. Bahkan, Kemenlu RI menyatakan bahwa apabila disetujui oleh kedua belah pihak yang berkonflik, Presiden Indonesia bersedia untuk bertolak ke Tehran guna melakukan mediasi langsung. Peningkatan ketegangan di Timur Tengah dinilai berpotensi mengganggu stabilitas kawasan serta perdamaian dan keamanan dunia, sehingga upaya diplomasi harus terus menjadi prioritas.
Di tengah situasi yang memanas ini, Kemenlu RI juga mengimbau Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di wilayah terdampak agar tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, serta mematuhi arahan dari otoritas setempat. Penting bagi mereka untuk menjaga komunikasi dengan Perwakilan RI terdekat. Juru bicara Kemenlu, Yvonne Mewengkang, mengungkapkan bahwa Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tehran secara intensif berfokus pada komunikasi dengan WNI di Iran, bahkan telah menerbitkan edaran terbaru yang berisi saran dan langkah konkret untuk memastikan keselamatan dan keamanan mereka. Yvonne menegaskan bahwa penilaian menyeluruh terhadap situasi keamanan akan terus dilakukan, dan langkah-langkah yang diperlukan akan diambil demi keselamatan WNI. Dalam keadaan darurat, WNI dapat segera menghubungi hotline KBRI Tehran di +98 9914668845 / +98 902 466 8889 atau Hotline Direktorat Pelindungan WNI Kementerian Luar Negeri di +62 812-9007-0027.
Namun, seruan damai Indonesia dihadapkan pada realitas eskalasi ketegangan Timur Tengah yang semakin meluas. Setelah Israel dilaporkan menyerang Tehran pada Sabtu (28/2), Presiden AS Donald Trump menyatakan akan melancarkan serangan besar-besaran ke Iran. Serangan gabungan AS dan Israel tersebut kemudian dibalas dengan tembakan rudal balistik oleh Iran secara masif.
Iran tidak hanya menargetkan serangan balasan ke Israel, tetapi juga mengarahkan rudalnya ke pangkalan militer Amerika Serikat (AS) yang tersebar di Kuwait, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab (UEA), dan Arab Saudi. Televisi pemerintah Iran menegaskan bahwa serangan ini merupakan bagian dari respons Teheran terhadap serangan terkoordinasi AS dan Israel. Seorang pejabat senior Iran bahkan secara tegas menyatakan kepada Al Jazeera bahwa semua aset dan kepentingan Amerika dan Israel di Timur Tengah kini telah menjadi target yang sah, menegaskan bahwa “tidak ada garis merah setelah serangan terhadap Iran.”
Laporan dari AFP dan Reuters mengonfirmasi ledakan terjadi di berbagai lokasi, termasuk Manama di Bahrain, Kuwait, serta Dubai dan Abu Dhabi di Uni Emirat Arab. Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab membenarkan bahwa negaranya telah menjadi sasaran serangan terang-terangan yang melibatkan rudal balistik Iran. Namun, sistem pertahanan udara UEA berhasil mencegat sejumlah rudal dengan efisiensi tinggi. Meski demikian, puing-puing rudal jatuh di area permukiman di Abu Dhabi, menyebabkan beberapa kerusakan material dan menewaskan seorang warga sipil berkewarganegaraan Asia. UEA menjadi sasaran Iran karena Angkatan Udara AS beroperasi dari Pangkalan Udara Al Dhafra, di selatan Abu Dhabi, bersama dengan Angkatan Udara UEA.
Di Bahrain, pihak berwenang mengonfirmasi bahwa markas besar Armada Kelima Angkatan Laut AS telah menjadi sasaran serangan rudal, dengan asap terlihat mengepul dari distrik Juffair. Kementerian Dalam Negeri Bahrain segera mendesak warganya untuk mencari tempat berlindung. Sementara itu, Kementerian Pertahanan Qatar melaporkan sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat rudal Iran dan mengeluarkan peringatan seluler yang menyarankan warga untuk tetap berada di dalam ruangan serta menjauhi lokasi militer. Laporan terpisah juga menyebutkan adanya rudal yang dicegat di atas Kuwait. Media internasional turut melaporkan bahwa Arab Saudi, termasuk ibu kotanya Riyadh, juga menjadi sasaran serangan, meskipun belum ada konfirmasi langsung dari pihak berwenang Saudi.
Eskalasi militer yang kian memanas ini berdampak serius pada perjalanan udara regional. Iran, Israel, Irak, Qatar, Kuwait, dan UEA secara serentak menutup wilayah udara mereka, menyebabkan maskapai penerbangan menangguhkan penerbangan ke dan dari Israel serta pusat-pusat utama di kawasan Teluk.