
Dicky Kartikoyono, yang saat ini menjabat sebagai Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran sekaligus Asisten Gubernur Bank Indonesia (BI), telah mengikuti serangkaian uji kelayakan dan kepatutan atau fit and proper test sebagai calon deputi gubernur Bank Indonesia. Proses penting ini berlangsung di Komisi XI DPR pada hari Senin, 26 Januari.
Dalam kesempatan tersebut, Dicky dengan lugas memaparkan visi dan misinya yang ambisius, bertajuk “Mengukir Sejarah Digital untuk Indonesia Emas“. Ia menegaskan bahwa seluruh pemikirannya didedikasikan untuk mengintegrasikan tugas Bank Indonesia dalam mendukung “Asta Cita pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan“, yang telah digariskan oleh Presiden Prabowo Subianto. “Sepenuhnya pemikiran ini kami dedikasikan untuk tambahan tugas Bank Indonesia mendukung target pertumbuhan ekonomi yang sekarang ini digariskan oleh Bapak Presiden (Prabowo Subianto) dalam Program Asta Cita. Kita upayakan dalam 5 tahun ke depan mencapai 8%,” jelas Dicky, menetapkan target pertumbuhan ekonomi yang signifikan sebesar 8% dalam kurun waktu lima tahun ke depan.
Dicky menganalogikan kondisi ekonomi di Indonesia layaknya sebuah rumah besar yang mengemban amanah untuk memberikan kesejahteraan bagi seluruh rakyatnya. Menurutnya, sebuah rumah megah tentu membutuhkan fondasi yang kokoh agar dapat berdiri tegak. “Fondasi itu adalah stabilitas, kita harus jaga dulu stabilitasnya. Kemudian kita bangun di atasnya dengan pilar-pilar ketahanan yang kuat untuk memberikan daya tahan terhadap berbagai upaya kita mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujar Dicky, menekankan pentingnya menjaga stabilitas sebagai landasan utama sebelum mendorong upaya pertumbuhan ekonomi.
Dalam sembilan tahun terakhir, Indonesia telah menyaksikan percepatan luar biasa dalam sektor ekonomi keuangan digital. Sebagai bukti nyata transformasi ini, Dicky menunjuk pada sistem pembayaran Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS), yang sejak diluncurkan pada tahun 2019, telah mengalami pertumbuhan secara eksponensial. Bank Indonesia bahkan memproyeksikan bahwa pertumbuhan digital ini, yang dalam lima tahun terakhir telah tumbuh 37 miliar, akan melonjak hingga 147,3 miliar di masa mendatang.
Transaksi digital secara keseluruhan juga mencatat angka yang impresif. “Transaksi digital tumbuh signifikan, kemudian BI-FAST kami memfasilitasi transaksi perekonomian dengan jumlah yang cukup meyakinkan, ini jumlahnya mencapai 1,6 kuadriliun,” terang Dicky, menggambarkan peran sentral Bank Indonesia dalam memfasilitasi aktivitas ekonomi melalui inovasi sistem pembayaran yang canggih.
Namun, dalam paparannya, Dicky juga tidak menampik berbagai tantangan besar yang harus dihadapi, baik dari dalam maupun luar negeri. Di ranah global, isu geopolitik, polarisasi antarnegara, dan potensi kebijakan tarif yang diusung oleh Presiden AS Donald Trump dapat menjadi hambatan signifikan bagi pertumbuhan ekspor Indonesia. Di sisi domestik, risiko siber yang terus berkembang, defisit neraca berjalan, serta infrastruktur yang belum merata untuk mendukung digitalisasi, menjadi poin-poin krusial yang perlu ditangani. Selain itu, ia juga menyoroti perlunya peningkatan kualitas tenaga kerja Indonesia serta permasalahan daya beli masyarakat yang masih melemah.
Meskipun demikian, Dicky melihat potensi besar yang dimiliki Indonesia. Kemampuan di bidang teknologi dan inovasi, didukung oleh terus bertumbuhnya pengguna internet di Indonesia, serta keberadaan bonus demografi, menjadi kekuatan pendorong yang tak ternilai. “Kita lihat dalam data yang ada, Gen Z, Gen Alpha sudah hampir kurang 40% dan mereka sangat digital literate. Ini tentunya menjadi kekuatan kita,” tegas Dicky, optimistis terhadap generasi muda yang fasih digital sebagai aset bangsa.
Untuk merealisasikan visi “Mengukir Sejarah Digital untuk Indonesia Emas“, Dicky memaparkan tiga misi utama. Misi pertama adalah membangun fondasi ekonomi nasional yang berdaya tahan dan efisien, yang akan dicapai melalui penguatan infrastruktur sistem pembayaran sebagai penopang utama ekonomi keuangan digital.
Misi kedua berfokus pada pengembangan ekosistem ekonomi keuangan digital yang terpercaya dan inovatif. “Terpercaya itu artinya aman, punya daya tahan. Di sini tentunya kita perlu selalu menggambarkan bagaimana sistem kita ini robust, punya fraud detection system, mempunyai kemampuan analytical yang kuat, AI kita gunakan,” jelas Dicky, menekankan pentingnya keamanan siber, ketahanan sistem, serta pemanfaatan kecerdasan buatan dalam menjaga integritas sistem pembayaran. Bank Indonesia berkomitmen penuh untuk memastikan sistem pembayaran yang tersedia benar-benar dapat diandalkan dan inovatif bagi seluruh masyarakat.
Misi ketiga yang diusung adalah mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi, inklusif, dan berdaulat. Misi ini selaras dengan program-program Asta Cita, di mana Bank Indonesia berupaya maksimal untuk memberikan kontribusi nyata, terutama melalui optimalisasi sistem pembayaran nasional.
Dalam paparannya, Dicky juga menekankan perlunya mendorong sektor keuangan agar memiliki tata kelola (governance) yang optimal, keamanan yang terjaga, serta fungsi pembiayaan yang efektif. Hal ini krusial agar pembiayaan dapat tersalurkan secara optimal ke sektor riil melalui berbagai upaya inovasi yang digalakkan bangsa. Lebih lanjut, ia menggarisbawahi pentingnya optimalisasi pendapatan asli daerah (PAD), retribusi daerah, hingga pengeluaran yang dapat di-tracking. Kehadiran marketplace nasional diharapkan dapat memfasilitasi pemerintah daerah untuk berbelanja secara efisien dan transparan.
“Ini bisa kita lakukan karena digitalisasi ini mengharuskan kita untuk membangun infrastruktur data yang terstandardisasi, sistemisasi, dan simplifikasi,” ujar Dicky, menggarisbawahi fondasi esensial yang harus dibangun. Ia menggambarkan betapa signifikannya kemudahan yang akan didapatkan jika semua transaksi dalam ekosistem terstandardisasi, sekaligus menegaskan niatnya untuk membangun ekosistem digital yang kuat berlandaskan infrastruktur sistem pembayaran yang mumpuni.
Dicky meyakini bahwa fondasi utama untuk mencapai semua itu adalah infrastruktur yang par excellence, baik di Bank Indonesia maupun di industri. “Tengahnya ini menyimpan kekuatan yang luar biasa dalam pengelolaan ekonomi yaitu data,” katanya, menegaskan bahwa data adalah inti kekuatan ekonomi masa depan. Ia bahkan menyebut data is new oil, new gold, atau ladang harta karun baru yang akan terbuka lebar dengan dorongan digitalisasi. “Ketika kita dorong semua digitalisasi. Transaksi akan bisa kita tangkap dengan clear,” pungkas Dicky, menutup paparannya.
Saat ini, Dicky Kartikoyono tengah bersaing untuk posisi deputi gubernur Bank Indonesia bersama dua kandidat lainnya, yaitu Thomas Djiwandono dan Solikin M Juhro. Mereka akan menggantikan Juda Agung yang telah mengundurkan diri dari kursi tersebut.