Iran bantah serang kilang minyak Aramco di Arab Saudi

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, telah secara tegas membantah keterlibatan negaranya dalam serangan terhadap kilang minyak bumi Aramco di Arab Saudi. Penjelasan resmi ini disampaikan kepada pemerintah Arab Saudi pada Selasa (3/3). Araghchi menegaskan bahwa fasilitas pemurnian minyak milik Aramco di Ras Tanura, Arab Saudi, bukanlah target militer Iran. Oleh karena itu, pemerintah Iran tidak memikul tanggung jawab atas insiden tersebut.

Advertisements

“Kami telah mengumumkan secara resmi bahwa serangan itu bukan salah satu target militer Iran,” kata Araghchi dalam sebuah wawancara dengan CNN pada Selasa (3/3), menekankan posisi negaranya yang konsisten.

Menurut laporan Bloomberg, fasilitas vital Aramco di Ras Tanura diserang oleh drone bersenjata pada Senin (2/3) malam. Akibat insiden ini, Aramco terpaksa menghentikan operasionalnya di Ras Tanura, yang memiliki kapasitas produksi mencapai 550.000 barel per hari, demi melakukan pemeriksaan kerusakan menyeluruh. Serangan tersebut memang memicu kebakaran terbatas, yang berasal dari puing-puing drone setelah berhasil dicegat oleh militer Arab Saudi. Namun, hingga saat ini, Aramco belum merilis pernyataan resmi mengenai dampak spesifik terhadap operasional perusahaan.

Kilang Aramco di Ras Tanura memiliki peran krusial sebagai pemasok utama solar bagi pasar Eropa. Meskipun demikian, pergerakan kapal tanker yang mengangkut minyak mentah dari Aramco di sekitar Ras Tanura dilaporkan masih terpantau normal. Secara lebih luas, sekitar 27% dari total pasokan minyak dunia berasal dari negara-negara di Timur Tengah, meliputi Arab Saudi, Irak, Iran, Uni Emirat Arab, Kuwait, Qatar, Bahrain, dan Oman. Ironisnya, 20% dari pasokan minyak bumi global ini harus melintasi Selat Hormuz, jalur laut strategis yang dikelilingi oleh negara-negara tersebut.

Advertisements

Latar belakang ketegangan di kawasan ini semakin memanas dengan laporan peluncuran rudal oleh Iran ke delapan negara di Timur Tengah selama akhir pekan lalu, tepatnya pada Sabtu (28/2) dan Minggu (1/3). Negara-negara yang menjadi sasaran serangan rudal Iran mencakup Israel, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Bahrain, Kuwait, Qatar, Irak, dan Oman, menggarisbawahi eskalasi konflik regional yang signifikan.

Eskalasi konflik di Timur Tengah ini segera berdampak pada harga minyak dunia. Pada Senin (2/3), harga minyak acuan global melonjak 8% mencapai level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir. Kenaikan ini dipicu oleh kekhawatiran akan kerusakan kapal tanker dan gangguan pengiriman dari wilayah produsen minyak utama. Harga kontrak berjangka minyak Brent menembus US$ 82,37 per barel, naik US$ 6,47 atau 8,88% dari harga sebelumnya di US$ 79,34 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga melonjak US$ 5,36 atau 8%, mencapai US$ 72,38 per barel setelah sempat menyentuh US$ 75,33.

Banyak analis pasar memprediksi kenaikan harga minyak dunia yang lebih besar lagi, bahkan berpotensi menembus US$ 100 per barel. Posisi strategis Selat Hormuz, yang diakui sebagai titik krusial terpenting dalam rantai pasokan minyak dunia, menjadi faktor utama yang mendorong para analis untuk merevisi proyeksi harga minyak ke depan. William Jackson, seorang ekonom pasar negara berkembang utama di Capital Economics, seperti dikutip Deutsche Welle, menyatakan, “Jika konflik berlarut-larut, khususnya jika hal itu mempengaruhi pasokan minyak aktual akibat gangguan pada pasokan minyak Iran,” maka dampaknya akan sangat signifikan.

Advertisements