Iran bantah Trump soal AS negosiasi untuk akhiri perang: Berita palsu

Sebuah klaim mengejutkan datang dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada Senin (23/3), yang menyatakan bahwa AS tengah bernegosiasi dengan Iran untuk mengakhiri konflik yang kini telah memasuki minggu keempat. Namun, klaim ini dengan tegas dibantah oleh Teheran, yang melalui Kementerian Luar Negeri Iran mereka menyatakan, “Tidak ada dialog antara Teheran dan Washington,” pada Selasa (24/3), sebagaimana dikutip oleh NPR.

Advertisements

Pernyataan Trump ini bukan tanpa dasar. Ia mengumumkan penundaan serangan terhadap infrastruktur energi Iran selama lima hari sebagai respons terhadap dimulainya dialog. Pengumuman krusial ini disampaikan hanya beberapa jam sebelum tenggat waktu yang ia tetapkan bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, atau menghadapi konsekuensi serius berupa penghancuran pembangkit listriknya. Melalui platform media sosial, Trump secara eksplisit menyebut adanya “percakapan yang sangat baik dan produktif” antara AS dan Iran, yang berfokus pada “penyelesaian lengkap dan total” permusuhan di Timur Tengah. Di hadapan wartawan pada sore harinya, ia menambahkan, “Kami telah melakukan pembicaraan yang sangat, sangat intens. Kita akan melihat ke mana arahnya. Kami memiliki poin-poin kesepakatan utama, saya akan mengatakan, hampir semua poin kesepakatan.” Presiden AS tersebut bahkan menjabarkan tujuan-tujuan penting dari negosiasi ini, termasuk penghentian pengayaan uranium oleh Iran untuk program nuklirnya dan penarikan uranium yang telah diperkaya yang sudah ada di negara tersebut oleh AS.

Namun, narasi yang disampaikan oleh Gedung Putih ini dengan segera dan tegas dibantah oleh Kementerian Luar Negeri Iran. Tidak hanya itu, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, melangkah lebih jauh dengan menuduh bahwa laporan mengenai negosiasi tersebut adalah ‘berita palsu‘ semata. Menurut Ghalibaf, “Itu berita palsu yang bertujuan memanipulasi pasar keuangan dan minyak, serta untuk menghindari jebakan yang menjebak Amerika dan Israel.” Pernyataan ini mempertegas ketidakpercayaan Teheran terhadap klaim Washington dan menyiratkan agenda tersembunyi di baliknya.

Di tengah kontroversi klaim negosiasi dan bantahan tegas dari Teheran, harga minyak mentah global menunjukkan reaksi yang signifikan. Tercatat, harga turun menjadi sedikit di bawah US$100 per barel, sebuah penurunan drastis lebih dari US$10 dibandingkan minggu sebelumnya. Fluktuasi ini seolah membenarkan tuduhan Iran mengenai upaya manipulasi pasar yang mungkin terjadi.

Advertisements

Para Pemimpin Negara di Timur Tengah Berupaya Meredam Konflik
Terlepas dari tarik-ulur pernyataan publik tersebut, Kementerian Luar Negeri Iran justru membenarkan adanya komunikasi tidak langsung. Mereka mengonfirmasi telah menerima pesan dari sejumlah negara sahabat di kawasan yang mengindikasikan bahwa Amerika Serikat memang menuntut perundingan dengan Teheran untuk mengakhiri konflik yang semakin memanas.

Laporan dari NPR semakin memperkuat spekulasi ini, mengonfirmasi bahwa upaya diplomasi melalui jalur komunikasi rahasia memang tengah berlangsung. Sejumlah “pemain regional” disebut-sebut bekerja di balik layar dengan tujuan utama meredakan ketegangan dan mencegah eskalasi menjadi konflik yang lebih luas. Presiden Iran dan menteri luar negerinya telah secara aktif menjalin komunikasi, melakukan panggilan telepon dengan para pejabat tinggi di Pakistan, Turki, dan Mesir. Negara-negara ini, seperti yang diungkapkan NPR, berperan vital dalam menyampaikan pesan-pesan penting dan menjadi fasilitator dalam upaya de-eskalasi. Bahkan, dalam beberapa hari terakhir, Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi terlihat sibuk mengunjungi hampir setiap ibu kota negara-negara Teluk untuk bertemu langsung dengan para penguasa di kawasan tersebut, menggarisbawahi urgensi situasi.

Dari sumber pejabat Mesir yang berbicara kepada NPR dengan syarat anonim, terungkap bahwa tujuan utama dari upaya diplomasi ini adalah untuk meletakkan dasar bagi gencatan senjata. Targetnya adalah gencatan senjata selama 30 hingga 60 hari, atau setidaknya semacam ‘detente’ (peredaan ketegangan), yang krusial untuk mencegah Arab Saudi dan Uni Emirat Arab merespons langsung serangan Iran di wilayah mereka dan, pada akhirnya, memperluas skala perang di Timur Tengah.

Pengumuman Trump mengenai negosiasi ini patut dicermati lebih lanjut, mengingat waktu kemunculannya yang bersamaan dengan pergerakan ribuan Marinir AS menuju Timur Tengah. Para pengamat konflik regional menyerukan kehati-hatian dalam menafsirkan setiap komentar dari Presiden AS tersebut. Sejarah mencatat, setidaknya dua kali dalam setahun terakhir, saat Washington dan Teheran dikabarkan memulai pembicaraan diplomatik, justru diikuti oleh serangan mendadak yang dilancarkan AS dan Israel terhadap Iran. Pola ini menambah kompleksitas dan keraguan terhadap klaim negosiasi yang disampaikan, serta potensi eskalasi di masa mendatang.

Advertisements