Iran tutup Selat Hormuz, harga minyak dunia berpotensi melonjak

Tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali memuncak setelah Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengerahkan pasukannya untuk secara resmi menutup Selat Hormuz. Langkah drastis ini sontak memicu kekhawatiran global mengingat Selat Hormuz merupakan salah satu jalur maritim paling vital bagi perdagangan minyak dunia, yang terletak strategis di selatan Iran.

Advertisements

Brigadir Jenderal IRGC Ibrahim Jabari menegaskan bahwa tidak akan ada satu pun kapal yang diizinkan melintas selama periode penutupan ini. Dalam pernyataannya kepada media Lebanon Al-Mayadeen pada Sabtu (28/2) waktu setempat, Jabari secara eksplisit menyatakan, “Saat ini dilakukan penutupan Selat Hormuz oleh pasukan IRGC menyusul serangan terhadap Iran.” Pernyataan ini mengindikasikan bahwa blokade tersebut merupakan respons langsung atas agresi yang ditujukan kepada Republik Islam tersebut.

Dampak langsung dari situasi ini segera terasa di pasar energi global. Analis energi dari Barclays di Inggris telah memproyeksikan bahwa harga minyak Brent berpotensi menembus angka US$ 100 per barel, seiring dengan eskalasi konflik di Timur Tengah. Proyeksi ini mencerminkan lonjakan signifikan, mengingat pada penutupan perdagangan Jumat (27/2), harga spot minyak Brent berada di level US$ 73 per barel.

Kekhawatiran mendalam juga diungkapkan oleh analis Barclays, yang dikutip oleh Reuters pada Sabtu (28/2). Ia memperingatkan bahwa “pasar perdagangan minyak mungkin akan menghadapi ketakutan terbesarnya pada Senin,” mengacu pada pembukaan kembali pasar yang diperkirakan akan bereaksi tajam terhadap perkembangan terbaru ini.

Advertisements

INFOGRAFIK: Dampak Besar Potensi Blokade Selat Hormuz (Katadata/ Amosella)

Secara geografis, letak Selat Hormuz sangat strategis, menjadikannya kunci penghubung antara Teluk Persia dan Teluk Oman. Selat ini diapit oleh tiga negara penting: Iran di utara, serta Uni Emirat Arab dan Oman di selatan, yang semakin menyoroti kompleksitas geopolitik wilayah tersebut.

International Energy Agency (IEA) menggarisbawahi urgensi Selat Hormuz dengan mengungkapkan bahwa hampir 30% dari total pasokan minyak dunia melintasi jalur maritim ini setiap harinya. Selat ini menjadi koridor utama bagi ekspor minyak dari negara-negara produsen terbesar, termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Iran, Kuwait, dan Irak, menegaskan posisinya sebagai arteri vital bagi energi global.

Advertisements