Iran umumkan Selat Hormuz dibuka penuh selama gencatan senjata

Pada Jumat (17/6), Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyampaikan sebuah pengumuman penting terkait Selat Hormuz. Ia menyatakan bahwa lalu lintas komersial dan perkapalan di jalur maritim strategis tersebut akan dibuka secara penuh selama periode gencatan senjata berlangsung. “Mengingat gencatan senjata di Lebanon, lalu lintas bagi semua kapal komersial di Selat Hormuz dinyatakan dibuka sepenuhnya selama waktu gencatan senjata yang tersisa,” jelas Araghchi melalui platform media sosial X. Pembukaan jalur perkapalan ini, menurut Menlu Iran, telah dikoordinasikan sesuai dengan pengumuman yang dikeluarkan oleh otoritas pelabuhan dan kemaritiman Republik Islam Iran.

Advertisements

Menanggapi kabar tersebut, Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, sempat menyampaikan apresiasinya atas keputusan Teheran. Melalui unggahan di platform Truth Social, Trump menulis, “Iran baru saja mengumumkan bahwa Selat Iran terbuka sepenuhnya dan siap untuk lalu lintas penuh. Terima kasih!” Menariknya, Trump dalam unggahan tersebut secara keliru menyebut Selat Hormuz sebagai “Selat Iran”.

Namun, tak lama berselang, Presiden Trump kembali menyampaikan pernyataan di Truth Social yang mengindikasikan adanya inkonsistensi. Ia menegaskan bahwa pihak AS akan tetap melanjutkan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran hingga negosiasi dengan negara tersebut benar-benar tuntas. “Blokade laut akan tetap diberlakukan secara penuh terhadap Iran, hingga saat di mana transaksi dengan Iran 100 persen selesai,” kata Trump dalam unggahan terbarunya. Meskipun demikian, Trump menunjukkan optimisme bahwa langkah tersebut tidak akan berlangsung lama, mengingat “sebagian besar dari poin perundingan telah dinegosiasikan.”

Latar belakang ketegangan ini berakar pada serangkaian negosiasi antara AS dan Iran. Putaran pertama perundingan telah dilaksanakan pada Sabtu (11/4) di Islamabad, Pakistan, menyusul pengumuman Presiden Trump tentang tercapainya kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan dengan Teheran. Namun, sehari setelahnya, pada Minggu pagi (12/4), Wakil Presiden AS J. D. Vance, yang memimpin delegasi AS, mengumumkan bahwa Iran dan AS gagal mencapai kesepakatan dalam perundingan tersebut, menyebabkan delegasi AS kembali tanpa hasil. Kegagalan negosiasi awal inilah yang kemudian memicu keputusan Trump untuk mengerahkan Angkatan Laut AS guna memblokade Selat Hormuz.

Advertisements

Di tengah situasi yang dinamis ini, terdapat indikasi kelanjutan diplomasi. Menurut pemberitaan Axios, yang dikutip oleh RIA Novosti, putaran kedua negosiasi antara AS dan Iran dijadwalkan akan berlangsung di Islamabad, Pakistan, pada Minggu (19/4). Secara terpisah, pada Kamis (16/4), Presiden Trump juga mengumumkan bahwa Israel dan Lebanon telah menyepakati gencatan senjata selama 10 hari, setelah pembicaraan antara delegasi kedua negara yang dimediasi oleh AS di Washington DC, menunjukkan upaya diplomatik AS yang lebih luas di kawasan tersebut.

Advertisements