Israel serang Iran, ada kepulan asap dan suara ledakan di Teheran

Pada Sabtu (28/2) pagi, Israel melancarkan “serangan pendahuluan” terhadap Iran, sebuah langkah krusial yang dikonfirmasi oleh Menteri Pertahanan Israel Katz. Aksi militer ini segera diikuti dengan pengumuman keadaan darurat nasional di seluruh Israel, menandakan eskalasi ketegangan yang signifikan di kawasan tersebut.

Advertisements

Pemerintah Israel mengambil langkah darurat ini sebagai antisipasi terhadap pembalasan Iran, yang diperkirakan akan melibatkan serangan pesawat tak berawak dan rudal balistik, sebagaimana dilaporkan CNN Internasional pada hari yang sama. Seluruh negeri digemparkan sekitar pukul 08:15 waktu setempat (06:15 GMT) ketika sirene darurat meraung, memperingatkan warga akan potensi ancaman rudal dari Iran, sebuah laporan yang juga disampaikan oleh BBC Internasional.

Di Teheran, saluran berita milik negara Iran, IRINN, mengonfirmasi laporan mengenai serangan tersebut pada 28 Februari. Stasiun televisi tersebut sempat mengalami gangguan audio sekitar pukul 06:30 GMT. Setelah jeda singkat, IRINN kembali mengudara dengan menampilkan teks berjalan yang melaporkan kepulan asap dan suara ledakan yang terdengar di berbagai wilayah ibu kota.

Tak lama setelahnya, IRINN menayangkan rekaman demonstrasi pro-pemerintah yang telah direkam sebelumnya, diiringi musik dan arsip pernyataan dari Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei yang menyerukan persatuan nasional untuk menghadapi “musuh”. Siaran tersebut juga menampilkan wawancara dengan pendukung Republik Islam yang secara tegas menentang intervensi asing, sebuah upaya yang jelas untuk memperkuat narasi perlawanan di tengah krisis, menurut laporan BBC Internasional.

Advertisements

Serangan Israel ini terjadi di tengah suasana diplomatik yang genting, di mana pejabat Amerika Serikat dan Iran sedang berupaya mencapai kesepakatan untuk mengekang program nuklir Iran dan mencegah pecahnya perang yang lebih besar. Negosiasi penting ini, yang diharapkan akan berlanjut minggu depan, kini dihadapkan pada tantangan besar akibat insiden militer tersebut.

Meski Iran dilaporkan telah memberikan beberapa konsesi dalam perundingan, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada Jumat (27/2), menyatakan ketidakpuasannya terhadap kemajuan diskusi tersebut. Hal ini menambah kompleksitas dinamika antara ketiga negara.

Dalam langkah yang semakin meningkatkan tensi, Trump sebelumnya telah memerintahkan pengerahan militer AS terbesar di Timur Tengah sejak invasi Irak pada tahun 2003, meskipun alasan pasti untuk tindakan militer yang mendesak ini belum banyak dijelaskan. Iran, di sisi lain, telah bersumpah akan menanggapi serangan tersebut dengan kekuatan penuh, mempertegas potensi eskalasi konflik.

Sejalan dengan ketegangan yang memuncak, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, baru-baru ini telah mengeluarkan peringatan keras mengenai ancaman rudal balistik Iran terhadap negaranya. Netanyahu juga secara terbuka menentang kesepakatan diplomatik yang hanya berfokus pada program nuklir Iran, tanpa mempertimbangkan ancaman lain yang dianggapnya vital bagi keamanan Israel. Situasi ini menempatkan kawasan tersebut di ambang ketidakpastian yang mendalam.

Advertisements