Jawab tantangan iklim, BRIN dorong sistem minapadi dan akuaponik

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) secara proaktif mendorong implementasi integrasi pertanian dan perikanan melalui sistem inovatif minapadi dan akuaponik. Pendekatan ini dinilai krusial untuk mengatasi tantangan mendesak seperti ketahanan pangan, dampak perubahan iklim, serta isu keterbatasan lahan dan sumber daya air di Indonesia.

Advertisements

Fahrurrozi, selaku Kepala Pusat Riset Budidaya Air Tawar BRIN, menekankan pentingnya sinergi antara produksi padi dan ikan. Mengingat beras adalah makanan pokok mayoritas masyarakat Indonesia, integrasi padi–ikan memiliki relevansi yang sangat tinggi dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. Ia menjelaskan, “Sistem padi–ikan tidak hanya berpotensi meningkatkan produktivitas padi secara berkelanjutan, tetapi juga menyediakan tambahan sumber protein hewani sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem pertanian.”

Lebih lanjut, pengembangan sistem pertanian–perikanan terpadu ini semakin mendesak di tengah tekanan global akibat perubahan iklim dan lonjakan kebutuhan pangan yang terus meningkat. Konsep ini menawarkan solusi holistik untuk memaksimalkan potensi sumber daya secara efisien.

Sejalan dengan pandangan tersebut, Puji Lestari, Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, menjelaskan bahwa sistem minapadi secara spesifik melibatkan budidaya ikan seperti nila, ikan mas, atau lele, yang dilaksanakan baik secara simultan maupun bergantian di area lahan sawah. Puji menambahkan, “Meskipun menjanjikan potensi yang besar, implementasi minapadi saat ini masih dihadapkan pada sejumlah tantangan teknis dan kelembagaan yang perlu diatasi.”

Advertisements

Perlunya Penelitian Mendalam untuk Optimalisasi Minapadi

Menanggapi tantangan tersebut, BRIN menegaskan bahwa penelitian mendalam menjadi kunci untuk mengoptimalkan rasio tanam dan tebar yang ideal, mengembangkan metode pengelolaan air yang efisien, serta melakukan analisis sosial ekonomi yang komprehensif. Upaya ini esensial agar sistem minapadi dapat diimplementasikan secara lebih luas dan berkelanjutan di seluruh wilayah.

Eri Setiadi, Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Budidaya Air Tawar BRIN, mengemukakan bahwa penerapan sistem minapadi telah terbukti secara signifikan mampu meningkatkan produktivitas padi dan ikan secara simultan. Dalam skema budidaya intensif, produktivitas padi berpotensi melampaui 11 ton per hektare, diiringi dengan hasil panen ikan yang tidak kalah menjanjikan.

Eri lebih lanjut menjelaskan, “Selain menggenjot produksi, sistem ini juga berperan penting dalam mengurangi penggunaan pupuk kimia hingga sekitar 50%, meningkatkan efisiensi air yang krusial, serta memperbaiki kesehatan tanah dan lingkungan sawah secara keseluruhan.” Dengan demikian, minapadi tidak hanya fokus pada peningkatan kuantitas hasil, melainkan juga pada keberlanjutan ekosistem pertanian jangka panjang.

Mengulas lebih dalam, Eri memaparkan beragam desain teknis minapadi yang telah dikembangkan, mencakup model parit tepi, parit tengah, hingga kombinasi kolam dalam yang terhubung dengan saluran sawah. Ia menggarisbawahi pentingnya adaptasi: pemilihan desain, penentuan kepadatan tebar ikan, dan strategi manajemen air haruslah disesuaikan secara cermat dengan karakteristik spesifik lahan serta kapasitas para petani.

Di samping minapadi, BRIN juga secara aktif mendorong pengembangan akuaponik sebagai komponen vital dari sistem pangan berkelanjutan. Akuaponik hadir sebagai solusi cerdas yang mengintegrasikan budidaya ikan, tanaman, dan mikroorganisme dalam satu sistem resirkulasi air yang efisien. Hal ini menjadikannya sangat relevan bagi wilayah yang menghadapi keterbatasan lahan dan air, termasuk di kawasan periurban dan urban.

Sistem ini, seperti yang diungkapkan oleh perwakilan BRIN, “memungkinkan produksi ikan dan sayuran secara bersamaan dengan penggunaan air yang jauh lebih hemat dibandingkan sistem konvensional.” Ini menunjukkan potensi besar untuk optimasi sumber daya.

Indonesia telah mengembangkan beragam model akuaponik, meliputi surface flow, bottom flow atau nutrient film technique, ebb-tide, hingga RASponic yang mengombinasikan sistem resirkulasi akuakultur dengan hidroponik. Berbagai inovasi model ini telah menunjukkan kapasitas untuk menghasilkan ikan dan sayuran dalam periode yang relatif singkat dengan tingkat efisiensi sumber daya yang optimal. Dengan demikian, adopsi sistem akuaponik ini tidak hanya mendukung peningkatan produksi pangan, tetapi juga membuka lebar peluang pengembangan usaha pangan terpadu berbasis teknologi, memperkuat fondasi ketahanan pangan masa depan.

Advertisements