Kisi-kisi dividen BRI (BBRI), bakal dibahas dalam RUPST pada 10 April 2026


JAKARTA – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) siap menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 10 April 2026. Antusiasme para investor kian meningkat setelah perseroan membocorkan indikasi kuat mengenai pembagian dividen untuk tahun buku 2025 yang akan menjadi salah satu agenda utama dalam rapat krusial tersebut.

Advertisements

Manajemen BRI telah mengonfirmasi bahwa RUPST akan dilaksanakan pada Kamis, 10 April 2026, dimulai pukul 14.00 WIB hingga selesai, bertempat di Jakarta Selatan. Untuk kemudahan akses, rapat ini akan diselenggarakan secara daring melalui Fasilitas Electronic General Meeting System KSEI (eASY.KSEI). Dalam pengumuman resminya kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (25/3/2026), BRI secara terbuka mengundang seluruh pemegang saham untuk berpartisipasi dalam agenda penting ini.

Salah satu dari tujuh mata acara penting yang akan dibahas dalam RUPST BRI adalah persetujuan atas penggunaan laba bersih konsolidasian perseroan untuk tahun buku 2025. Sebagaimana telah diumumkan, BRI berhasil membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp56,65 triliun hingga 31 Desember 2025. Dengan performa finansial yang cemerlang ini, manajemen mengusulkan agar sebagian dari laba tersebut digunakan untuk pembagian dividen kepada pemegang saham, serta alokasi untuk penambahan saldo laba ditahan guna memperkuat struktur keuangan perusahaan.

Sebelumnya, sebagai bentuk komitmen awal kepada investor, BRI telah mendistribusikan dividen interim senilai Rp137 per saham atau setara dengan total Rp20,63 triliun pada 15 Januari 2026. Jumlah ini nantinya akan diperhitungkan sebagai bagian dari total dividen tahun buku 2025.

Advertisements

Dalam dokumen informasi tambahan RUPST, manajemen BRI menjelaskan bahwa keputusan pendistribusian dividen didasarkan pada performa perusahaan yang kuat serta struktur permodalan yang sangat memadai. Secara spesifik, dengan menunggu persetujuan dari RUPST, perseroan telah menetapkan dividen total indikatif minimal sebesar Rp343,4 per saham untuk Tahun Keuangan 2025. Angka ini dihitung berdasarkan total 151.559.001.604 saham yang beredar, tentunya setelah memperhitungkan dividen interim yang telah dibagikan sebelumnya.

Nilai indikatif tersebut merefleksikan rasio pembayaran dividen (dividend payout ratio) yang mengesankan, yakni sebesar 91,32% dari dividen per saham BRI tahun buku 2025 yang mencapai Rp376. Dengan demikian, setelah dikurangi dividen interim sebesar Rp137 per saham yang sudah dibayarkan, potensi dividen final BRI untuk tahun buku 2025 diperkirakan sebesar Rp206,4 per saham.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, sebelumnya menegaskan bahwa penentuan rasio pembagian dividen selalu mempertimbangkan kondisi struktur permodalan perseroan (Capital Adequacy Ratio/CAR) yang kokoh, serta proyeksi pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan di masa mendatang.

Hery Gunardi, yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Perbanas, menyoroti bahwa kondisi permodalan BRI sangat solid, dibuktikan dengan CAR BRI yang mencapai 23,53% hingga akhir 2025—angka yang jauh melampaui ketentuan regulator. Dalam Konferensi Pers Laporan Kinerja Keuangan BRI Kuartal IV/2025 pada Kamis (26/2/2026), Hery menyatakan, “Mempertimbangkan kondisi tersebut, seyogyanya kami memiliki ruang untuk memberikan dividen dengan payout ratio yang lebih tinggi dibandingkan dengan level histori yang selama ini ada.”

Beliau menambahkan, kebijakan ini merupakan wujud nyata komitmen BRI untuk senantiasa memberikan nilai tambah yang berkelanjutan bagi para pemegang saham. Dengan porsi pembagian dividen yang lebih besar, return on investment (ROI) BRI diproyeksikan akan meningkat signifikan, melampaui posisi saat ini, menegaskan posisi BRI sebagai investasi yang menarik.

Disclaimer: Berita ini bukan ajakan untuk membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya berada pada pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi yang diambil pembaca.

Advertisements