Krisis Energi Mengancam, Presiden COP31 Serukan Transisi ke Elektrifikasi Dunia

Presiden COP31, Murat Kurum, menyerukan urgensi percepatan elektrifikasi secara global. Langkah ini dipandang sebagai instrumen vital dalam memerangi perubahan iklim sekaligus memenuhi komitmen internasional yang telah disepakati dalam konferensi iklim PBB sebelumnya.

Advertisements

Kurum, yang juga menjabat sebagai Menteri Lingkungan Hidup, Urbanisasi, dan Perubahan Iklim Turki, akan memimpin jalannya konferensi iklim PBB ke-31 (COP31) di Antalya, Turki, pada November 2026. Menurutnya, krisis energi yang terjadi saat ini menjadi pengingat keras akan pentingnya diversifikasi sumber energi nasional serta pengembangan energi terbarukan, dengan listrik sebagai poros utama energi dunia di masa depan.

Dalam ajang Copenhagen Climate Ministers’ Meeting pada Rabu (20/5), Kurum menegaskan bahwa pemerintah, lembaga internasional, dan sektor swasta kini semakin memprioritaskan elektrifikasi sebagai pilar utama transisi energi. Ia mencatat bahwa saat ini hanya sekitar 20 persen konsumsi energi final dunia yang dipenuhi oleh listrik, sehingga ia mengajak komunitas internasional untuk meningkatkan kontribusi tersebut sesegera mungkin.

Sebagai konteks, konsumsi energi final mencakup penggunaan energi oleh pengguna akhir, baik individu maupun korporasi, untuk berbagai kebutuhan seperti pemanasan atau pendinginan bangunan, penerangan, operasional perangkat elektronik, peralatan rumah tangga, hingga mesin-mesin industri dan transportasi. Berdasarkan skenario Net Zero Emissions by 2050 yang dirilis oleh Badan Energi Internasional (IEA), rasio 20 persen ini ditargetkan naik menjadi lebih dari 27 persen pada 2030, dan melampaui 50 persen pada pertengahan abad nanti.

Advertisements

Pendorong utama transisi ini diyakini akan bersumber dari dekarbonisasi sektor transportasi melalui akselerasi penggunaan kendaraan listrik (EV) serta penerapan pompa panas bertenaga listrik untuk kebutuhan rumah tangga. Kurum menekankan bahwa dekarbonisasi pembangkit listrik saja tidak cukup untuk mencapai misi global ini; kita perlu melakukan elektrifikasi secara menyeluruh dalam berbagai aspek kehidupan.

Pernyataan Kurum mendapatkan relevansi lebih besar di tengah krisis energi yang dipicu oleh konflik geopolitik di Timur Tengah. Eskalasi situasi pasca serangan terhadap Iran sejak akhir Februari lalu, termasuk blokade di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital bagi 20 persen pasokan minyak dan gas dunia, telah menyebabkan lonjakan harga komoditas energi. Kondisi ini memaksa sejumlah negara untuk mencari pasokan alternatif dan mempercepat kapasitas energi terbarukan demi menjaga ketahanan energi nasional masing-masing.

Dengan tekad untuk memicu percakapan global mengenai elektrifikasi, konferensi COP31 dijadwalkan berlangsung di kota resor Antalya, Turki, pada 9 hingga 20 November 2026.

Ringkasan

Presiden COP31, Murat Kurum, menekankan pentingnya percepatan elektrifikasi global sebagai langkah utama dalam mengatasi perubahan iklim dan krisis energi dunia. Saat ini, listrik baru memenuhi sekitar 20 persen dari konsumsi energi final global, sehingga komunitas internasional didorong untuk meningkatkan porsi tersebut secara signifikan guna memenuhi target Net Zero Emissions pada tahun 2050.

Transisi ini akan difokuskan pada dekarbonisasi sektor transportasi melalui kendaraan listrik serta penggunaan pompa panas untuk kebutuhan rumah tangga. Upaya ini menjadi semakin mendesak di tengah ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah yang berdampak pada ketahanan pasokan energi global, dengan pembahasan lebih lanjut akan dipimpin dalam konferensi COP31 di Antalya pada November 2026.

Advertisements