Kualitas udara Tangsel terburuk di RI pagi ini, kelompok sensitif perlu waspada

Pada Senin (23/2) pagi, Tangerang Selatan, Banten, tercatat sebagai wilayah dengan kualitas udara terburuk di Indonesia. Berdasarkan pantauan situs pemantau kualitas udara global, IQAir, pada pukul 07.24 WIB, indeks kualitas udara (AQI) Tangerang Selatan mencapai 71, menempatkannya dalam kategori sedang.

Advertisements

Meskipun kualitas udara dengan skor AQI 71 ini masih dianggap relatif aman bagi masyarakat umum, kondisi ini berpotensi membahayakan bagi kelompok sensitif. Mereka yang termasuk dalam kategori ini, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta individu dengan riwayat penyakit jantung dan paru, sangat rentan terhadap dampak negatifnya, terutama saat melakukan aktivitas berat di luar ruangan. Oleh karena itu, IQAir merekomendasikan agar kelompok sensitif secara drastis mengurangi aktivitas fisik di luar ruangan. Mereka juga disarankan untuk tidak membuka ventilasi dan menutup jendela guna mencegah masuknya udara kotor dari luar, demikian rilis IQAir pada Senin (23/2).

Selain Tangerang Selatan, beberapa wilayah di Indonesia juga menunjukkan kualitas udara serupa pada pagi hari ini. Data IQAir merinci sejumlah kota yang masuk kategori sedang:

  1. Tangerang Selatan, Banten, dengan poin AQI 71 atau dalam kategori sedang
  2. Pontianak, Kalimantan Barat, dengan poin AQI 70 atau dalam kategori sedang
  3. Serpong, Banten, dengan poin AQI 69 atau dalam kategori sedang
  4. Surabaya, Jawa Timur, dengan poin AQI 69 atau dalam kategori sedang
  5. Bekasi, Jawa Barat, dengan poin AQI 64 atau dalam kategori sedang

Berbanding terbalik dengan kondisi tersebut, kabar baik datang dari beberapa daerah yang justru menikmati kualitas udara paling sehat di Indonesia. Palangkaraya, Kalimantan Tengah, memimpin dengan poin AQI 13, tergolong sangat baik. Menyusul kemudian adalah Badung, Bali, dengan poin AQI 44, yang juga dikategorikan baik.

Advertisements

Melangkah ke skala global, data menunjukkan bahwa kualitas udara terbaik atau paling sehat terpantau di Detroit, Amerika Serikat, dengan poin AQI hanya 8. Selanjutnya, Copenhagen di Denmark dan Seattle di Amerika Serikat juga mencatatkan angka yang sangat rendah, yakni poin AQI 9.

Namun, gambaran berbeda terlihat di sejumlah kota besar dunia yang menghadapi tantangan serius dengan polusi udara. Beberapa di antaranya bahkan berada dalam kategori sangat tidak sehat:

  1. Dhaka, Bangladesh, dengan poin AQI 255 atau dalam kategori sangat tidak sehat
  2. Kabul, Afghanistan, dengan poin AQI 226 atau dalam kategori sangat tidak sehat
  3. Lahore, Pakistan, dengan poin AQI 225 atau dalam kategori sangat tidak sehat
  4. Delhi, India, dengan poin AQI 218 atau dalam kategori sangat tidak sehat
  5. Kolkata, India, dengan poin AQI 200 atau dalam kategori tidak sehat

Untuk memahami lebih jauh data ini, penting untuk mengenal Indeks Kualitas Udara atau AQI (Air Quality Index). AQI adalah parameter yang mengukur konsentrasi berbagai polutan udara untuk merepresentasikan kategori kualitas udara secara keseluruhan. Perhitungan indeks AQI umumnya mempertimbangkan enam polutan utama yang paling sering ditemukan, yaitu PM2.5, PM10, karbon monoksida, sulfur dioksida, nitrogen dioksida, dan ozon permukaan tanah.

Kategori AQI dibagi berdasarkan rentang skor yang merefleksikan tingkat risiko kesehatan. Skor 0-50 menunjukkan kualitas udara baik, sementara 51-100 masuk kategori sedang. Kondisi menjadi kurang ideal bagi kelompok sensitif saat skor mencapai 101-150. Selanjutnya, kualitas udara dianggap tidak sehat pada rentang 151-200, dan melonjak menjadi sangat tidak sehat pada 200-299. Puncak bahayanya adalah kategori berbahaya, yang berada pada rentang 300-500. Sangat penting untuk dicatat bahwa kualitas udara dalam kategori sangat tidak sehat berpotensi menyebabkan kerugian signifikan bagi kesehatan pada populasi yang terpapar, sedangkan kategori berbahaya bahkan dapat menimbulkan kerusakan kesehatan yang serius dan meluas pada seluruh populasi.

Advertisements