Mabes TNI buka suara soal perintah status siaga 1 di tengah perang Iran-AS

Kabar mengenai perintah Siaga 1 yang dikeluarkan oleh Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto kepada seluruh jajarannya tengah menjadi sorotan publik. Instruksi ini, yang disebut-sebut termuat dalam surat telegram tertanggal 1 Maret 2026, ditengarai merupakan respons atas eskalasi konflik di Timur Tengah antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel yang kian memanas.

Advertisements

Menanggapi peredaran telegram yang memuat instruksi Siaga 1 tersebut, Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI, Brigjen TNI Aulia Dwi Nasrullah, menyampaikan bahwa TNI senantiasa berkomitmen menjalankan tugas utamanya dalam melindungi kedaulatan negara dan keselamatan masyarakat dari potensi ancaman asing. Dalam pernyataannya kepada ANTARA pada Minggu (8/2), Aulia menegaskan bahwa TNI selalu siap siaga, beroperasi secara profesional dan responsif, serta memelihara kemampuan dan kekuatan untuk mengantisipasi dinamika lingkungan strategis, baik di tingkat internasional, regional, maupun nasional. Ia juga menambahkan bahwa upaya memperkuat pertahanan negara diwujudkan melalui apel rutin guna memastikan kesiapan pasukan. Namun, ia tidak memberikan konfirmasi definitif mengenai status Siaga 1 secara langsung.

Di sisi lain, respons positif datang dari parlemen. Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Dave Laksono, mengapresiasi langkah antisipatif TNI dalam meningkatkan status kesiapsiagaan. Menurut Dave, kebijakan ini merupakan refleksi komitmen kuat TNI dalam menjaga keamanan nasional dan menunjukkan kesigapan aparat pertahanan dalam menghadapi kompleksitas dinamika global. Lebih lanjut, peningkatan kewaspadaan ini diharapkan dapat memberikan ketenangan bagi masyarakat, menandakan kehadiran negara yang bertanggung jawab penuh, terutama mengingat perkembangan di Timur Tengah yang menuntut tingkat kewaspadaan tinggi.

Komisi I DPR RI secara tegas memandang kebijakan kesiapsiagaan ini sebagai elemen krusial dalam strategi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan bangsa. Dave Laksono menekankan pentingnya sinergi antara TNI, Kementerian Pertahanan, dan Komisi I DPR RI sebagai fondasi utama agar setiap tindakan yang diambil selaras dengan kepentingan rakyat, dilaksanakan secara transparan, dan mampu memupuk kepercayaan publik. Peningkatan kesiapsiagaan ini juga merupakan manifestasi konkret dari komitmen Indonesia dalam menjaga stabilitas dalam negeri dengan penuh keyakinan, diyakini akan memastikan bangsa tetap aman dan tangguh menghadapi setiap tantangan global melalui koordinasi yang solid dan semangat kebersamaan.

Advertisements

Meskipun status Siaga 1 belum dikonfirmasi secara resmi, telegram yang beredar tersebut dilaporkan memuat tujuh poin instruksi penting. Salah satu poin krusial mengamanatkan kepada Panglima Komando Utama Operasi (Pangkotamaops) TNI untuk menyiagakan personel dan alat utama sistem persenjataan (alutsista) di bawah jajarannya. Selain itu, instruksi tersebut juga memerintahkan pelaksanaan patroli intensif di objek vital strategis dan sentra perekonomian, mencakup fasilitas vital seperti bandara, pelabuhan (baik laut maupun sungai), stasiun kereta api, terminal bus, hingga kantor PLN, guna memastikan keamanan dan kelancaran aktivitas nasional.

Komisi I DPR RI menegaskan dukungannya terhadap setiap langkah antisipatif TNI dan berkomitmen untuk terus menjalankan fungsi pengawasan serta kemitraan strategis. Dave Laksono menutup pernyataannya dengan keyakinan bahwa melalui kolaborasi erat antarlembaga, Indonesia akan mampu menghadapi setiap dinamika global dengan integritas, menjaga stabilitas nasional, serta memperkokoh kepercayaan rakyat terhadap institusi negara.

Advertisements