PT Darma Henwa Tbk (DEWA), emiten yang bernaung di bawah Grup Bakrie, tengah membuka babak baru dengan mempertimbangkan kemungkinan pembagian dividen kepada para pemegang sahamnya. Langkah ini menjadi sorotan karena merupakan kali pertama perseroan berencana membagikan dividen sejak melantai di bursa saham, menandakan perubahan signifikan dalam kebijakan perusahaan.
Direktur DEWA, Ricardo Silaen, menjelaskan bahwa wacana pembagian dividen ini didasari oleh performa kinerja keuangan perseroan yang meroket tajam pada tahun 2025. PT Darma Henwa Tbk sukses membukukan laba bersih fantastis sebesar Rp 4,3 triliun, melonjak drastis 7.697% dibandingkan dengan laba tahun sebelumnya yang hanya Rp 55,2 miliar.
Peningkatan kinerja keuangan yang impresif ini, menurut Ricardo, didorong oleh perbaikan operasional yang komprehensif. Ia menyoroti peningkatan capaian hingga level operasional yang mencapai lebih dari dua kali lipat, diikuti oleh kenaikan laba sebelum pajak yang signifikan. Tak hanya itu, kontribusi keuntungan non-operasional atau one-off gain turut memperkuat capaian laba bersih tersebut.
“Tentu saja, wacana dividen ini adalah sesuatu yang sangat baru bagi Darma Henwa. Namun, ini adalah bentuk komitmen kami untuk menunjukkan bahwa hasil dari perbaikan kinerja ini ingin kami kembalikan juga kepada para pemegang saham,” tegas Ricardo dalam sebuah siaran yang diunggah Samuel Sekuritas, membahas prospek DEWA hingga rencana IPO anak usahanya.
Meski demikian, Ricardo menambahkan bahwa besaran dividen yang akan dialokasikan masih akan mempertimbangkan secara cermat kebutuhan kas perseroan. Pertimbangan ini mencakup alokasi untuk belanja modal (capex) guna ekspansi kapasitas dan pemenuhan kebutuhan modal kerja. Keputusan akhir terkait pembagian dividen akan bergantung pada persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
Penggunaan Saham Buyback
Selain membahas potensi dividen, Ricardo turut menguraikan strategi perseroan terkait penggunaan saham yang telah dibeli kembali atau buyback. Program buyback yang rampung pada Februari 2026 lalu ini telah menjadikan saham-saham tersebut dicatat sebagai saham treasuri DEWA.
Menurut Ricardo, perseroan diberikan waktu hingga tiga tahun untuk menyimpan saham treasuri ini, sejalan dengan ketentuan yang berlaku. Aksi buyback tersebut merupakan bagian dari strategi PT Darma Henwa Tbk untuk menjaga stabilitas harga saham di tengah gejolak pasar yang dinamis.
Ia juga menyoroti pergerakan harga saham yang menarik, “Ketika melihat historisnya 52 minggu ke belakang, harganya telah melesat dari sekitar Rp 83 menjadi Rp 500.”
Selama periode program buyback, DEWA berhasil merealisasikan pembelian sebanyak 1,63 miliar saham. Untuk tujuan ini, perseroan mengalokasikan dana sebesar Rp 950 miliar, dengan realisasi penggunaan dana yang mencapai Rp 949,99 miliar.
Pasca penyelesaian aksi korporasi ini, PT Darma Henwa Tbk kini memegang saham treasuri sebesar 4,03% dari total modal ditempatkan dan disetor. Manajemen berharap, langkah strategis ini dapat memperkuat kepercayaan investor terhadap fundamental yang solid dan prospek jangka panjang perusahaan.
Bidik Jadi Perusahaan Holding Investasi
Melangkah ke depan, Ricardo mengungkapkan bahwa PT Darma Henwa Tbk (DEWA) sedang menyusun strategi jangka panjang untuk mentransformasikan dirinya menjadi sebuah perusahaan holding investasi. Visi ini menunjukkan ambisi perseroan untuk tidak hanya fokus pada bisnis inti, melainkan juga merambah peluang investasi yang lebih luas.
Saat ini, DEWA mengoperasikan dua lini bisnis utama: jasa kontraktor pertambangan dan pengembangan aset tambang mineral. Lini terakhir ini dijalankan melalui anak usahanya, PT Gayo Mineral Resources, yang fokus pada proyek di Gayo, Aceh.
Dalam upaya diversifikasi, DEWA juga berencana memperluas portofolio bisnisnya ke sektor mineral non-batu bara, seperti nikel dan bauksit. Langkah ini sangat strategis, mengingat posisi Indonesia sebagai salah satu produsen mineral terbesar di dunia, menawarkan potensi pasar yang sangat menjanjikan.
Ricardo menekankan bahwa di tengah lanskap industri yang kian menantang, kinerja operasional dan keuangan DEWA justru menunjukkan pertumbuhan signifikan, berbeda dengan beberapa kompetitor yang cenderung stagnan. Ini menunjukkan ketangguhan dan adaptabilitas perseroan dalam menghadapi dinamika pasar.
Melalui kombinasi strategi ekspansi dan diversifikasi yang matang, DEWA optimis dapat meraih berbagai peluang pertumbuhan baru. Pada saat yang sama, langkah-langkah ini diharapkan dapat memperkuat posisi perusahaan di industri pertambangan nasional. “Kami percaya bahwa ini memberikan kesempatan bagi kami untuk grab opportunities,” pungkas Ricardo, menggambarkan keyakinan akan prospek cerah ke depan.
Kinerja Kinclong Sepanjang 2025
Pencapaian kinerja keuangan DEWA sepanjang tahun 2025 memang mencengangkan. Perseroan berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 4,3 triliun, melonjak impresif 7.697% secara tahunan (YoY). Angka ini kontras drastis dengan laba bersih tahun 2024 yang hanya tercatat Rp 55,2 miliar.
Tak hanya laba, PT Darma Henwa Tbk juga mencatatkan peningkatan pendapatan. Berdasarkan laporan keuangannya, pendapatan DEWA mencapai Rp 6,39 triliun sepanjang 2025, naik 5,98% YoY dari Rp 6,03 triliun pada periode yang sama di tahun sebelumnya.
Analis Investasi Stockbit Sekuritas, Everson Sugianto, bahkan menyatakan bahwa laba bersih DEWA tahun 2025 jauh melampaui ekspektasi. Torehan tersebut setara dengan 1.324% dari estimasi konsensus untuk tahun 2025.
Kenaikan fantastis pada laba bersih ini, sebagian besar didukung oleh pengakuan negative goodwill sebesar Rp 4,5 triliun yang berasal dari akuisi PT Gayo Mineral Resources (GMR). Dampak signifikan dari akuisisi ini menjadi faktor utama di balik lonjakan profitabilitas.
Lonjakan laba bersih tersebut secara efektif menutupi sejumlah kerugian yang timbul dari berbagai pos, termasuk penghapusan piutang dan persediaan, hilangnya pengendalian atas entitas anak, serta penjualan dan penghapusan aset tetap yang totalnya mencapai sekitar Rp 724 miliar.
Meskipun kontribusi konsolidasi GMR bersifat one-off atau satu kali, Stockbit tetap menilai prospek kinerja DEWA ke depan sangat positif. “Core profit (laba inti) meningkat signifikan menjadi Rp 573 miliar selama 2025, dibandingkan dengan Rp 65 miliar pada 2024, didukung oleh ekspansi margin laba kotor,” jelas Everson dalam analisisnya.
Stockbit Sekuritas menambahkan bahwa PT Darma Henwa Tbk sebelumnya telah merampungkan akuisi 99,75% saham PT Gayo Mineral Resources pada November 2025. Proses akuisisi ini dilaksanakan melalui realisasi uang muka investasi yang telah dicatat dalam laporan keuangan tahun 2024, sehingga tidak menimbulkan tambahan arus kas pada tahun 2025.