
Mikroplastik, partikel plastik berukuran kurang dari lima milimeter, kini bukan lagi sekadar isu, melainkan ancaman lingkungan global yang meresap ke hampir setiap sudut ekosistem laut, dari perairan pesisir hingga kedalaman samudra. Meskipun telah banyak riset mikroplastik yang dilakukan, tantangan mendasar yang kerap muncul adalah bagaimana membandingkan dan mengintegrasikan data dari berbagai negara secara akurat dan setara, sebuah celah kritis dalam upaya penanganan global.
Menjawab tantangan tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengambil peran strategis melalui keterlibatannya dalam program Nuclear Technology for Controlling Plastic Pollution (NUTEC Plastics), sebuah inisiatif ambisius dari Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA). Keikutsertaan Indonesia sebagai salah satu dari lebih dari 100 negara peserta menegaskan komitmen serius dalam membangun sistem pemantauan mikroplastik laut berbasis protokol global yang terstandardisasi.
Dalam kerangka NUTEC, dua proyek utama menjadi sorotan. Pertama, proyek regional Asia Pasifik (RAS 7038) yang fokus pada pemantauan mikroplastik di lingkungan laut. Kedua, proyek global (INT 7021) yang bertujuan menciptakan basis data mikroplastik pesisir dunia yang komprehensif. Indonesia berperan aktif di kedua proyek penting ini, memperkuat posisi dalam penelitian pencemaran plastik laut.
Meskipun nama NUTEC identik dengan teknologi nuklir, fase awal pemantauan mikroplastik ini justru berfokus pada standarisasi metodologi non-nuklir. Tujuannya krusial: memastikan setiap negara peserta menerapkan teknik pengambilan sampel dan analisis yang seragam. Langkah ini fundamental agar data mikroplastik yang dihasilkan dapat dibandingkan secara valid lintas wilayah dan negara, meminimalkan bias dan meningkatkan akurasi analisis. “Selama ini, riset mikroplastik sudah banyak dilakukan, termasuk di Indonesia. Tapi metodenya beragam. Kalau protokolnya tidak seragam, data akan bias dan sulit dibandingkan,” jelas Ali Arman, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Proses Radiasi BRIN, Selasa (23/12).
Oleh karena itu, IAEA telah menyusun protokol baku yang ketat, mulai dari teknik pengambilan sampel pasir pantai dan air laut, hingga metode analisis polimer menggunakan instrumen non-nuklir canggih seperti ATR-FTIR (Attenuated Total Reflectance–Fourier Transform Infrared). Indonesia sendiri baru akan memulai kegiatan sampling pada tahun 2024, setelah para peneliti mendapatkan pelatihan resmi dan protokol telah disepakati. Lokasi awal meliputi kawasan pesisir Lampung, serta titik-titik strategis lainnya seperti area wisata, wilayah industri, dan daerah dengan karakteristik aktivitas manusia yang beragam. Data yang terkumpul selanjutnya akan diunggah ke platform global IAEA bernama IRIS, yang dirancang untuk dapat diakses oleh publik luas.
Peran sesungguhnya dari teknologi nuklir dalam program ini baru akan terlihat pada Fase II, yang direncanakan berlangsung dari tahun 2026 hingga 2029. Pada fase ini, fokus riset mikroplastik tidak lagi sekadar memetakan konsentrasi, melainkan beralih pada upaya menelusuri sejarah pencemaran mikroplastik. Teknik nuklir inovatif seperti penentuan umur sedimen menggunakan radioisotop timbal-210 (Pb-210) akan mulai dimanfaatkan. Metode ini memungkinkan peneliti merekonstruksi jejak pencemaran di sedimen laut hingga sekitar 150 tahun ke belakang.
Melalui analisis lapisan sedimen secara berurutan dan presisi, para peneliti dapat mengidentifikasi kapan akumulasi mikroplastik mulai terjadi dan bagaimana tren perubahannya dari waktu ke waktu. “Teknologi nuklir berperan untuk melihat dimensi waktu, yakni kapan pencemaran itu mulai terjadi dan bagaimana trennya,” ungkap Ali Arman, menyoroti kemampuan unik teknologi ini dalam mengungkap lini masa pencemaran lingkungan.
Kajian Mikroplastik pada Biota Laut dan Manusia
Selain pemantauan lingkungan, BRIN juga memperluas cakupan riset mikroplastik pada aspek biota laut dan potensi dampaknya bagi manusia. Perspektif penting ini dikaji oleh Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Radioisotop, Radiofarmaka, dan Biodosimetri BRIN, Heny Suseno, yang memanfaatkan teknologi nuklir sebagai alat perunut jejak mikroplastik dalam organisme hidup.
Heny menjelaskan bahwa mikroplastik tidak hanya stagnan di lingkungan perairan, melainkan dapat memasuki dan merambat dalam rantai makanan yang kompleks. Plastik yang terdegradasi menjadi mikroplastik dapat terbawa ke sungai dan laut, dicerna oleh plankton, terakumulasi di dalam ikan dan biota laut lainnya, hingga pada akhirnya berpotensi masuk ke tubuh manusia melalui konsumsi produk pangan laut. “Inilah yang menjadi latar belakang riset kami, yaitu melihat bagaimana mikroplastik terakumulasi dan berpindah di dalam tubuh biota,” jelasnya.
Dalam penelitiannya, Heny dan tim mengembangkan pendekatan nuklir dengan melabeli mikroplastik menggunakan radioisotop iodium-131 (I-131). Mikroplastik berlabel ini kemudian diintroduksi ke dalam media air laut bersama biota hidup, seperti ikan bandeng atau kerang. Pergerakan dan akumulasi mikroplastik di dalam tubuh organisme dipantau secara berkala menggunakan spektrometer gamma, sebuah keunggulan signifikan karena tidak perlu mematikan hewan uji.
“Keunggulan teknologi nuklir adalah kita bisa menganalisis biota dalam keadaan hidup. Setelah diukur, biota bisa dikembalikan lagi dan diamati terus sampai percobaan selesai,” ujar Heny, menggarisbawahi etika dan efisiensi metode ini. Pendekatan canggih ini memungkinkan peneliti menghitung faktor bioakumulasi serta waktu tinggal biologis mikroplastik di dalam tubuh biota, informasi krusial yang sulit didapatkan dengan metode konvensional. Lebih lanjut, teknologi nuklir juga memungkinkan pemetaan distribusi mikroplastik di organ tertentu, seperti insang, memberikan gambaran yang lebih detail tentang interaksi mikroplastik dengan sistem biologis. Dengan data yang presisi ini, peneliti dapat memperkirakan potensi paparan mikroplastik pada manusia berdasarkan pola konsumsi ikan.
Melalui integrasi strategis antara pemantauan lingkungan global, rekonstruksi sejarah pencemaran, dan kajian bioakumulasi pada biota, BRIN membangun sebuah pendekatan yang komprehensif dan multidimensional dalam memahami kompleksitas persoalan mikroplastik laut. “Teknologi nuklir hadir bukan untuk menggantikan metode konvensional, melainkan untuk melengkapinya, terutama dalam memahami jejak waktu pencemaran dan risikonya bagi kehidupan manusia,” pungkas Heny, menegaskan peran sinergis teknologi nuklir dalam perlindungan lingkungan dan kesehatan.