Memanasnya hubungan AS-Venezuela pengaruhi pergerakan pasar keuangan, IHSG besok diprediksi melemah terbatas


Ketegangan hubungan antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela diprediksi akan menjadi pemicu utama dinamika pasar keuangan global pada awal tahun 2026. Analis pasar modal terkemuka, Hendra Wardana, menyoroti isu penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, oleh otoritas AS sebagai katalis yang meningkatkan ketegangan geopolitik secara signifikan. Situasi ini, menurutnya, akan langsung berdampak pada persepsi risiko investasi di kancah internasional.

Advertisements

Hendra Wardana, yang juga merupakan founder Republik Investor, menjelaskan bahwa memanasnya hubungan kedua negara berpotensi mendorong peningkatan aversi risiko di kalangan investor global dalam jangka pendek. Mengingat Venezuela adalah negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia, setiap eskalasi konflik di wilayah tersebut memiliki potensi besar untuk mengganggu stabilitas pasokan energi global. Dampaknya, kondisi ini diperkirakan akan memicu harga minyak untuk bergerak volatile dan cenderung menguat dalam waktu dekat.

Bagaimana proyeksi untuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin (5/1)? Hendra memproyeksikan IHSG akan mengalami pelemahan terbatas, berpotensi menguji area support krusial di kisaran 8.642 hingga 8.672. “Area tersebut menjadi level penting untuk mengukur kekuatan pasar, sementara level resistance terdekat tetap berada pada puncak historis 8.777,” jelas Hendra.

Di sisi lain, situasi geopolitik ini diproyeksikan memberikan sentimen positif bagi saham-saham sektor energi dan komoditas. Namun demikian, hal ini juga akan meningkatkan kekhawatiran investor terhadap prospek inflasi dan ketidakpastian global, yang pada akhirnya mendorong sikap wait and see, terutama dari investor asing. Selain faktor AS dan Venezuela, pergerakan IHSG dalam sepekan ke depan juga akan sangat dipengaruhi oleh ekspektasi arah kebijakan suku bunga global, fluktuasi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS, serta dinamika arus dana asing di pasar negara-negara emerging markets.

Advertisements

Dari kacamata domestik, para pelaku pasar akan mencermati kesinambungan kebijakan ekonomi pemerintah yang pro-pasar, stabilitas makroekonomi, serta realisasi kinerja awal tahun dari emiten-emiten berkapitalisasi besar. “Kombinasi sentimen global dan domestik ini membuat pergerakan IHSG cenderung fluktuatif, namun masih berada dalam fase konsolidasi yang sehat selama support utama mampu dipertahankan,” ujar Hendra.

Menanggapi optimisme proyeksi IHSG menembus level 10.000 pada akhir 2026 yang sempat mengemuka, Hendra Wardana menilai target tersebut, meskipun ambisius, masih berada dalam koridor realistis jika dikaitkan dengan fondasi pasar modal Indonesia yang semakin solid. Awal tahun 2026 sendiri dibuka dengan sentimen positif yang kuat, tercermin dari penguatan IHSG lebih dari 1 persen pada hari perdagangan pertama dengan nilai transaksi yang masif. Hal ini menandakan kepercayaan pasar terhadap prospek ekonomi nasional masih cukup kokoh.

Meski demikian, untuk mencapai level psikologis 10.000, penguatan IHSG membutuhkan dukungan fundamental yang berkelanjutan. Hendra menambahkan, pertumbuhan laba emiten, khususnya dari saham-saham berkapitalisasi besar, akan menjadi motor utama penggerak indeks. Selain itu, peluang kembalinya arus dana asing seiring dengan meningkatnya ekspektasi penurunan suku bunga global, stabilitas inflasi, nilai tukar Rupiah yang terkendali, serta keberlanjutan proses IPO berkualitas akan semakin memperkuat struktur pasar modal dalam jangka panjang. “Di tengah volatilitas jangka pendek akibat sentimen geopolitik, strategi yang lebih relevan adalah selektif dan memanfaatkan koreksi sebagai peluang trading maupun akumulasi terbatas,” saran Hendra.

Secara keseluruhan, meskipun ketegangan global akibat konflik AS dan Venezuela berpotensi menekan IHSG dalam jangka pendek, struktur pasar domestik yang semakin matang dan prospek pertumbuhan laba emiten menjaga outlook IHSG tetap konstruktif. “Selama area support 8.642-8.672 mampu bertahan, peluang IHSG untuk kembali menguji level tertinggi sepanjang masa di 8.777 tetap terbuka,” pungkas Hendra.

Sebagai informasi penutup, data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat (2/1) sore mencatat IHSG ditutup menguat 101,19 poin atau 1,17 persen ke posisi 8.748,13. Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 3.127.022 kali transaksi, melibatkan 51,14 miliar lembar saham senilai Rp22,26 triliun. Sebanyak 479 saham mengalami kenaikan, 200 saham menurun, dan 131 saham tidak bergerak nilainya.

Advertisements