Menakar peluang IHSG kembali ke level 9.000

Babaumma JAKARTA – Awal triwulan I/2026 menjadi periode yang penuh gejolak bagi bursa saham Indonesia, ditandai oleh optimisme yang membumbung sekaligus tekanan yang mendalam. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat mencetak rekor tertinggi baru yang membanggakan, namun tak lama kemudian terperosok tajam, anjlok lebih dari 20% dari puncaknya.

Advertisements

Serangkaian ujian berat yang menekan IHSG datang dari berbagai penjuru, mulai dari lembaga keuangan global terkemuka seperti MSCI Inc., Moody’s, dan Fitch Ratings, hingga eskalasi ketegangan geopolitik di Iran. Kombinasi faktor-faktor ini telah mengakibatkan IHSG ambles sebesar 14,54% jika dibandingkan dengan posisi penutupan akhir 2025. Kini, upaya IHSG untuk kembali menginjak level 9.000 menjadi tantangan yang tidak mudah dan membutuhkan konsensus pasar yang kuat.

Ni Putu Kurniasari, Chief Operating Officer (COO) Bareksa, menilai bahwa peluang IHSG untuk menguat kembali ke level 9.000 pada akhir tahun 2026 sangat bergantung pada beberapa prasyarat krusial. Ini termasuk meredanya ketegangan geopolitik global, pulihnya kepercayaan MSCI Inc. terhadap pasar modal Indonesia, serta terjaganya arah kebijakan fiskal pemerintah yang stabil dan prediktif.

Meskipun demikian, prospek penguatan IHSG pada paruh pertama tahun 2026 dinilai cukup berat. Tekanan tidak hanya berasal dari potensi defisit fiskal nasional, tetapi juga dari ketegangan geopolitik yang terus berlanjut. Situasi ini mendorong pasar keuangan global untuk mengambil langkah risk-off, di mana investor cenderung menarik modal dari aset berisiko.

Advertisements

“Jadi kalau sampai semester 1 ini sih kita rasa masih banyak question mark-nya lah. Tapi kalau sampai di semester akhir mungkin, kami melihatnya sih lebih positif. Jika kebijakan fiskalnya nanti, APBN-nya diberikan kebijakan oleh Pak Purbaya,” jelas Putu di Jakarta, Rabu (11/3/2026) malam, mengisyaratkan harapan pada paruh kedua tahun ini.

Salah satu pilar optimisme untuk paruh kedua adalah kinerja laporan keuangan perusahaan yang cenderung positif pada tahun lalu, mencerminkan pertumbuhan fundamental bisnis riil yang solid. Dukungan lain datang dari suku bunga acuan yang kini berada di level rendah, dengan banyak analis memprediksi pemangkasan lanjutan di masa mendatang, yang berpotensi mendorong aktivitas ekonomi dan investasi.

“Tinggal situasi yang domestik bagaimana pemerintah juga menjaga kestabilan dari sisi rupiah, karena rupiah sebenarnya juga bukan hanya sisi levelnya tapi juga fluktuasi rupiahnya. Jadi kalau dikatakan sampai akhir tahun sebetulnya 9.000, sih. Balik lagi ke posisi sebelumnya,” tambah Putu, menekankan pentingnya stabilitas mata uang rupiah terhadap kinerja pasar.

Putu juga menyoroti bahwa posisi saham di pasar modal Indonesia relatif lebih murah dibandingkan dengan pasar modal di regional. Investor asing, menurutnya, kini hanya menanti konfirmasi arah kebijakan yang lebih stabil dan jelas dari pemerintah di masa depan untuk kembali mengalirkan dananya. “Karena kemarin ada question mark, makanya dia belum berani masuk ke pasar kita,” imbuhnya.

Di sisi lain, Christian Halim, Head of Investment Bareksa, berpandangan bahwa berbagai upaya reformasi pasar yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self-Regulatory Organization (SRO) diprediksi akan mendapat respons positif dari MSCI. Langkah otoritas dalam membenahi pasar, seperti peningkatan keterbukaan data investor di atas 1% serta penambahan minimum free float, dinilai sebagai inisiatif yang sangat positif.

Namun, peluang menguatnya pasar modal Indonesia pada paruh pertama 2026 tetap cenderung berat, terutama karena konflik yang masih berkecamuk di Iran. Ketegangan ini berpotensi besar mengganggu pasokan bahan bakar minyak (BBM) global, yang pada gilirannya dapat memicu kenaikan laju inflasi di Tanah Air. Ini menjadi faktor penghambat utama di semester pertama.

“Ini kayaknya sih downgrade ya. Di akhir tahun kan para sekuritas itu ada yang memasang target IHSG di 9.000 sampai 10.000 ya. Tapi dengan keadaan seperti ini, ya mungkin harus ada revisi lah. Mungkin kenaikannya tidak bisa sampai setinggi itu menurut kami,” pungkas Christian Halim pada kesempatan yang sama, mengindikasikan perlunya penyesuaian target ambisius di tengah ketidakpastian.

: Rekomendasi Saham dan Pergerakan IHSG Hari Ini Kamis, 12 Maret 2026

: : Harga Emas Antam, UBS, dan Galeri 24 Hari Ini Kamis, 12 Maret 2026 di Pegadaian

: : Harga Emas Antam Hari Ini Kamis, 12 Maret 2026 di Pegadaian

IHSG – TradingView

Advertisements