Emiten Grup Astra, PT United Tractors Tbk (UNTR), telah menetapkan target produksi emas dari Tambang Martabe yang berlokasi di Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, sekitar 60.000 ounce pada tahun 2026. Angka ini menunjukkan penurunan dibandingkan rencana produksi yang telah dicanangkan untuk tahun 2025. Sejatinya, tambang yang dikelola oleh Agincourt Resources ini memiliki kapasitas produksi tahunan sekitar 220 ribu ounce. Penurunan proyeksi produksi ini salah satunya dipicu oleh keputusan Presiden Prabowo Subianto pada Januari 2026 yang mencabut izin Agincourt Resources bersama 19 perusahaan lain, menyusul persoalan banjir dan longsor di Sumatra. Namun, situasi berubah setelah Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, secara resmi mengizinkan Agincourt Resources untuk kembali beroperasi.
Menanggapi keputusan penting tersebut, Presiden Direktur United Tractors, Iwan Hadiantoro, menyatakan bahwa Tambang Emas Martabe ditargetkan akan kembali beroperasi pada Mei 2026 mendatang. “Pertengahan bulan Mei sudah bisa beroperasi dan apabila kami sudah bisa beroperasi, targetnya sekitar 60.000 ounce,” ungkap Iwan dalam konferensi pers yang berlangsung di Catur Dharma Hall, Menara Astra, Jakarta, pada Kamis (16/4). Iwan menyambut positif persetujuan dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) pada Maret lalu yang secara resmi memberikan izin kepada Tambang Martabe untuk melanjutkan kegiatan operasionalnya.
Meskipun lampu hijau telah diberikan, United Tractors saat ini masih berfokus pada persiapan berbagai aspek internal sebelum memulai kembali kegiatan operasional tambang. Perusahaan juga tengah menyiapkan kontraktor-kontraktor di Tambang Martabe serta memanggil kembali karyawan yang sebelumnya dirumahkan akibat penghentian sementara operasional. Iwan menekankan komitmen United Tractors untuk meningkatkan kualitas operasional dengan prioritas utama pada aspek keselamatan kerja dan perlindungan lingkungan. “Dan yang paling penting itu kami berusaha untuk meningkatkan kualitas dan aspek keselamatan serta lingkungan hidupnya,” tegas Iwan, seraya menambahkan bahwa perusahaan akan terus menjalin kerja sama intensif dengan Kementerian Lingkungan Hidup.
Iwan Hadiantoro mengakui bahwa tahun ini merupakan periode yang penuh tantangan signifikan bagi perusahaan. Berbagai faktor eksternal, mulai dari konflik geopolitik hingga perubahan regulasi, secara langsung memengaruhi kinerja United Tractors. Dampak dari kondisi tersebut, menurut Iwan, terasa pada hampir seluruh lini bisnis UNTR yang terkait dengan sektor pertambangan, meliputi kontraktor tambang, gas, pertambangan emas, batu bara, maupun nikel. “Nah sebagai dampaknya mungkin bisa saya katakan bahwa tahun ini situasi bisnis United Tractors masih sangat challenging (menantang),” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (16/4).
Kendati demikian, UNTR terus berupaya memitigasi berbagai tantangan ini seraya tetap menjaga arah pengembangan jangka panjang perusahaan. Sebagai konteks, kinerja tahun 2025 menunjukkan bahwa Agincourt Resources mencatatkan volume bijih yang digiling sebesar 13,4 juta ton, terdiri dari 6,1 juta ton bijih dan 7,3 juta ton waste. Sepanjang tahun 2025, PT Agincourt Resources (PTAR) dan PT Sumbawa Jutaraya (SJR) secara kolektif membukukan total penjualan setara emas sebesar 227 ribu ounce, mengalami penurunan sekitar 2% dibandingkan realisasi tahun 2024. Secara rinci, PTAR mencatatkan penjualan setara emas sebesar 213 ribu ounce, atau melemah 7% secara tahunan, sementara SJR menyumbang penjualan setara emas sebesar 14 ribu ounce.
Melengkapi informasi mengenai proyeksi tahun 2026, Direktur United Tractors, Vilihati Surya, menambahkan bahwa perusahaan menargetkan penjualan emas (gold sales) dari gabungan Agincourt Resources dan Sumbawa Jutaraya (SJR) mencapai sekitar 82.000 ounce pada tahun yang sama.