Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menargetkan penghimpunan dana di pasar modal mencapai Rp 250 triliun pada tahun ini. Angka target tersebut berada di bawah realisasi tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp 274,8 triliun. Meskipun demikian, Pejabat Sementara Ketua sekaligus Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menyatakan prospek sektor jasa keuangan tahun ini tetap positif, ditopang oleh kinerja intermediasi yang solid. Ia tidak merinci lebih lanjut alasan di balik penetapan target tersebut.
Realisasi penghimpunan dana pasar modal pada tahun lalu berhasil melampaui target awal sebesar Rp 220 triliun, dengan nilai penawaran umum perdana (IPO) mencapai Rp 274,8 triliun, sebagaimana yang disampaikan OJK dalam keterangan pers awal bulan lalu (9/1). Kinerja positif ini juga dibarengi dengan peningkatan signifikan jumlah investor di pasar modal. Tercatat, penambahan investor mencapai 5,49 juta atau tumbuh 36,95% secara tahunan (yoy), sehingga total investor kini mencapai 20,36 juta.
Pencapaian di tahun sebelumnya menjadi landasan bagi proyeksi OJK untuk pertumbuhan industri jasa keuangan di masa mendatang.
Target Pertumbuhan Industri Jasa Keuangan 2026
Untuk sektor pasar modal, OJK kembali menegaskan target penghimpunan dana sebesar Rp 250 triliun pada tahun ini. Sementara itu, di sektor perbankan, OJK memproyeksikan pertumbuhan kredit berada dalam kisaran 10% hingga 12%, serta pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 7% hingga 9%. Prospek optimistis juga terlihat di sektor asuransi, dengan aset program diperkirakan tumbuh 5%–7%, aset dana pensiun 10%–12%, dan aset program penjaminan 14%–16%. Tidak ketinggalan, piutang pembiayaan perusahaan pembiayaan diproyeksikan akan mengalami kenaikan sebesar 6%–8%.
OJK juga memperkirakan inovasi dalam layanan keuangan akan terus berkembang. Total permintaan skor kredit melalui layanan innovative credit scoring diprediksi mencapai 200 juta. Nilai transaksi melalui agregator diperkirakan akan tumbuh hingga Rp 27 triliun, sementara konsumsi aset keuangan digital dan aset kripto diperkirakan naik sebesar 26%.
Friderica Widyasari Dewi juga menyoroti peran strategis lembaga jasa keuangan dalam mendukung pembangunan nasional. Sepanjang tahun lalu, pembiayaan pembangunan oleh lembaga-lembaga ini berhasil mencapai angka Rp 9.543 triliun, yang sebagian besar ditopang oleh pertumbuhan kredit perbankan sebesar 9,53%. Ia menilai bahwa indikator likuiditas, profil risiko, dan solvabilitas industri jasa keuangan yang tetap solid merupakan cerminan kapasitas sektor keuangan yang besar untuk terus melanjutkan pembiayaan pembangunan di masa depan.
Dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan (PTIJK) 2026 yang diselenggarakan di Jakarta pada Kamis (5/2), perempuan yang akrab disapa Kiki itu menekankan pentingnya sinergi dan kolaborasi. “Tentu saja kita semua mengharapkan sinergi dan kolaborasi dari Bapak-Ibu semua, memberikan yang terbaik untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini,” ujarnya kepada para pelaku industri jasa keuangan, mengakhiri pidatonya dengan seruan untuk optimisme dan kerja sama demi kemajuan ekonomi nasional.