Pengamat pasar modal, Reydi Octa, memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi bergerak sideways atau mendatar, namun dengan kecenderungan menguat tipis pada pekan mendatang. Proyeksi ini muncul karena pasar belum sepenuhnya keluar dari fase konsolidasi pascasentimen global dan domestik, serta adanya penantian investor terhadap katalis baru yang dapat mendorong pergerakan signifikan.
Menurut Reydi, dalam pernyataannya yang dihubungi Antara di Jakarta pada Ahad (12/4/2026), “IHSG berpotensi bergerak sideways dengan kecenderungan menguat tipis, dengan pola rebound teknikal setelah tekanan beberapa pekan terakhir, karena pasar belum sepenuhnya keluar dari fase konsolidasi pascasentimen global dan domestik. Rentang pergerakan cenderung terbatas sambil menunggu katalis baru.” Hal ini mengindikasikan bahwa investor saat ini masih berhati-hati dan mencari arah yang lebih jelas sebelum mengambil keputusan investasi yang lebih agresif di pasar saham.
Dari ranah global, Reydi memproyeksikan bahwa sentimen pasar masih akan sangat dipengaruhi oleh arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, The Fed, pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS (yield US Treasury), serta dinamika geopolitik dan fluktuasi harga komoditas global. Potensi sentimen positif dapat muncul dari penguatan bursa global secara keseluruhan dan meredanya tensi geopolitik yang kerap menimbulkan ketidakpastian.
Sementara itu, dari sisi domestik, para pelaku pasar diperkirakan akan mencermati kelanjutan respons investor asing terhadap isu MSCI serta tingkat kepercayaan pasar terhadap pasar saham Indonesia. Faktor-faktor makroekonomi domestik juga akan menjadi penentu penting, termasuk arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia (BI), perkembangan peringkat dari lembaga penyedia indeks global, data inflasi terkini, serta stabilitas nilai tukar rupiah.
“Arah kebijakan suku bunga BI, perkembangan peringkat dari indeks global, data inflasi, serta laju nilai tukar rupiah. Kombinasi ini menentukan apakah capital inflow bisa kembali stabil atau justru masih wait and see,” jelas Reydi. Perpaduan indikator ekonomi ini krusial dalam menentukan apakah arus modal asing akan kembali mengalir deras ke pasar domestik atau tetap dalam mode tunggu dan lihat.
Menariknya, terkait strategi pelaku pasar saat ini, Reydi menyoroti bahwa investor cenderung bersikap lebih defensif dan selektif. Fokus utama mereka adalah pada saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) dan yang memiliki tingkat likuiditas tinggi. Selain itu, terjadi pula rotasi investasi ke sektor-sektor berbasis komoditas dan energi, yang merupakan efek langsung dari tekanan geopolitik global yang masih berlangsung.
Sebagai informasi penutup, data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat (10/4/2026) sore menunjukkan performa yang cukup kuat. IHSG berhasil ditutup menguat signifikan sebesar 150,91 poin atau 2,07 persen, mencapai level 7.458,50. Sejalan dengan itu, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 juga mengalami kenaikan 12,57 poin atau 1,71 persen, berakhir pada posisi 746,47. Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 2.287.124 kali transaksi, dengan total jumlah saham yang diperdagangkan mencapai 42,94 miliar lembar saham senilai Rp 18,12 triliun. Pada sesi tersebut, sebanyak 485 saham mengalami kenaikan, 181 saham menurun, dan 153 saham tidak bergerak.