
Penjualan Obligasi Negara Ritel (ORI) seri ORI029 gagal memenuhi ekspektasi, dengan capaian hanya Rp 14,4 triliun hingga akhir masa penawaran. Angka ini jauh di bawah target penjualan yang ditetapkan sebesar Rp 25 triliun, hanya menyentuh 57,9% dari proyeksi awal.
Suminto, Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan (Kemenkeu), menjelaskan bahwa beberapa faktor memengaruhi rendahnya serapan ORI029. Salah satu penyebab utamanya adalah ketiadaan Surat Berharga Negara (SBN) ritel lain yang jatuh tempo selama periode penawaran ORI029. Kondisi ini mengakibatkan minimnya reinvestasi dari para investor ritel yang sudah ada.
“Ketiadaan SBN Ritel yang jatuh tempo membuat dana yang masuk ke ORI029 sepenuhnya merupakan fresh money,” ungkap Suminto, seperti dikutip oleh Katadata pada Senin (23/2). Ia menambahkan, “Meskipun secara nominal terlihat lebih rendah, minat investor ritel terhadap instrumen investasi ini masih tergolong cukup besar.”
Selain itu, faktor musiman turut berkontribusi menekan minat pembelian ORI029. Periode penawaran Obligasi Negara Ritel ini bertepatan dengan momen libur panjang (long weekend) serta mendekati bulan Ramadan dan perayaan Imlek. Kondisi ini secara alami mendorong rumah tangga untuk memprioritaskan peningkatan kebutuhan likuiditas, sehingga alokasi dana untuk instrumen investasi menjadi lebih terbatas.
Meskipun serapan ORI029 terkesan kurang memuaskan, pemerintah tetap optimistis terhadap prospek penerbitan SBN ritel di sepanjang tahun 2026. Kemenkeu meyakini bahwa struktur SBN Ritel yang variatif — baik dari segi jenis kupon, tenor, maupun jadwal penerbitan — masih sangat relevan dan mampu mengakomodasi kebutuhan investor dengan beragam profil risiko dan tujuan investasi.
Suminto menegaskan, “Pemerintah memiliki ruang kebijakan yang fleksibel untuk menyesuaikan struktur kupon, tenor, dan kalender penerbitan SBN ritel. Penyesuaian ini akan selalu mempertimbangkan kondisi pasar keuangan, likuiditas domestik, serta perkembangan suku bunga yang berlaku.”
Ke depan, Suminto meyakini bahwa SBN Ritel masih memiliki prospek investasi yang cerah. Selain menawarkan imbal hasil kompetitif, instrumen ini juga dikenal sebagai alternatif investasi yang aman, mudah diakses, dan semakin relevan, terutama bagi generasi muda yang tengah aktif membangun dan mendiversifikasi portofolio investasi mereka.
Berdasarkan data dari salah satu mitra distribusi ORI029, PT Bibit Tumbuh Bersama (Bibit), hingga akhir periode penawaran, serapan ORI029 tenor 3 tahun dengan imbal hasil 5,45% hanya mencapai 73,22% dari total kuota pemerintah. Sementara itu, ORI029 tenor 6 tahun dengan imbal hasil 5,8% bahkan hanya terserap sebesar 34,95%, menunjukkan perbedaan minat yang signifikan antar tenor.
Kupon ORI029 vs Deposito Bank
Secara umum, kupon ORI029 (5,45% dan 5,8%) memang lebih tinggi dibandingkan rata-rata bunga deposito perbankan konvensional yang saat ini berkisar 4-5%. Namun, angka ini sedikit lebih rendah jika dibandingkan dengan kupon ORI seri-seri sebelumnya yang sempat menyentuh 6-7%, serta tawaran bunga deposito dari beberapa bank digital yang kini kian kompetitif.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) per Oktober 2025 menunjukkan rata-rata bunga deposito bervariasi: 4,28% untuk tenor satu bulan, 4,98% untuk tiga bulan, 5,15% untuk enam bulan, 4,82% untuk 12 bulan, dan 4,65% untuk 24 bulan. Ironisnya, bank-bank besar seperti bank BUMN dan PT Bank Central Asia Tbk (BCA), bahkan hanya menawarkan bunga deposito di kisaran 2-3%, jauh di bawah kupon ORI029.
Meskipun demikian, perlu dicatat bahwa beberapa bank digital justru tampil dengan tawaran bunga deposito tinggi, bahkan melebihi kupon ORI029. Berikut adalah daftar bank digital yang menawarkan bunga deposito kompetitif:
- Bunga Deposito Superbank hingga 7,5%
Superbank menghadirkan bunga deposito hingga 7,5% per tahun untuk simpanan mulai dari Rp 500 ribu hingga Rp 1 miliar, dengan pilihan tenor satu hingga 12 bulan. Untuk simpanan dengan nominal yang sama, Superbank juga menyediakan opsi deposito 7 dan 14 hari dengan bunga 6%. Bagi nasabah yang menempatkan dana di atas Rp 1 miliar, Superbank menawarkan bunga 6% untuk tenor 7 dan 14 hari, serta 6,5% untuk tenor satu hingga 12 bulan.
- Bunga Deposito Bank Neo Commerce hingga 7,5%
Bank Neo Commerce menawarkan bunga deposito menarik, mencapai 7,5% per tahun, khusus untuk simpanan minimal Rp 100 ribu dengan tenor 12 bulan. Pilihan tenor lainnya juga tersedia dengan bunga kompetitif: 7% untuk enam bulan, 6,5% untuk tiga bulan, 6% untuk satu bulan, dan 5,5% untuk tujuh hari.
- Bunga Deposito Bank Amar hingga 9%
Bank Amar mencatatkan penawaran bunga deposito tertinggi di daftar ini, yakni mencapai 9% per tahun. Namun, bunga fantastis ini berlaku untuk simpanan dengan tenor sangat panjang, yaitu 36 bulan. Untuk tenor yang lebih singkat, seperti satu bulan, Bank Amar menawarkan bunga 5,75%. Nasabah dapat memulai investasi deposito di Bank Amar dengan simpanan mulai dari Rp 100 ribu.
- Bunga Deposito Allo Bank hingga 7,5%
Allo Bank, bank digital besutan CT Corp, turut meramaikan persaingan dengan bunga deposito hingga 7,5% per tahun, tentunya dengan syarat dan ketentuan berlaku. Secara standar, Allo Bank memberikan suku bunga 5,5% per tahun untuk semua jenis tenor (satu hingga 12 bulan) dengan simpanan minimal Rp 1 juta. Nasabah berkesempatan mendapatkan tambahan bunga 1% sebagai promosi untuk setiap deposito pertama, dan tambahan 1% lagi pada periode promo “Rabu Serbu”.
- Bunga Deposito Bank Jago hingga 6%
Bank Jago menawarkan bunga deposito maksimal 6%, namun ini berlaku untuk simpanan minimal Rp 1 miliar dengan tenor satu dan tiga bulan. Untuk nominal yang sama dengan tenor enam dan 12 bulan, bunga yang didapatkan adalah 5,75%. Nasabah bisa memulai deposito di Bank Jago mulai Rp 1 juta. Untuk simpanan di bawah Rp 1 juta hingga di bawah Rp 100 juta, suku bunga bervariasi dari 5% (tenor satu bulan) hingga 5,25% (tenor tiga hingga 12 bulan). Sementara itu, untuk simpanan Rp 100 juta hingga di bawah Rp 1 miliar, suku bunga yang diberikan adalah 5,5% untuk tenor satu hingga 12 bulan.
Beda Pajak Bunga Deposito dan ORI
Meskipun tawaran bunga deposito dari beberapa bank digital tampak lebih menggiurkan, penting untuk mempertimbangkan aspek perpajakan. Pajak Penghasilan (PPh) atas bunga deposito ditetapkan sebesar 20%, jauh lebih tinggi dibandingkan PPh atas obligasi, termasuk ORI, yang hanya sebesar 10%. Perbedaan ini bisa sangat memengaruhi keuntungan bersih yang diterima investor.
Berikut simulasi keuntungan deposito vs ORI:
Jika Anda menempatkan dana sebesar Rp 10 juta pada deposito dengan bunga 7,5% per tahun, Anda akan mendapatkan bunga kotor sebesar Rp 750.000. Setelah dipotong pajak 20%, bunga bersih yang Anda terima adalah Rp 600.000. Sementara itu, jika deposito Anda memiliki bunga 6% per tahun, bunga kotornya Rp 600.000, dan setelah dipotong pajak 20%, bunga bersihnya menjadi Rp 480.000.
Adapun jika investor menempatkan Rp 10 juta di ORI029 dengan kupon 5,8% per tahun, maka imbal hasil kotor yang diperoleh adalah Rp 580.000. Setelah dipotong pajak sebesar 10%, imbal hasil bersih yang didapatkan adalah Rp 464.000.