Babaumma JAKARTA — Awal tahun 2026 menjadi periode yang menjanjikan bagi emiten-emiten yang terafiliasi dengan Grup Bakrie. Deretan saham dari entitas bisnis Bakrie, mulai dari PT Bakrie & Brothers Tbk. (BNBR) hingga PT Darma Henwa Tbk. (DEWA), kompak menunjukkan performa impresif dengan mencatatkan lonjakan harga yang signifikan di pasar modal.
Data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) memperlihatkan bahwa saham BNBR memimpin penguatan dengan meroket 60,63% secara year to date (ytd). Pada penutupan perdagangan Jumat (9/1/2026), harga saham BNBR bertengger di level Rp 204 per lembar, menjadikannya kenaikan tertinggi di antara seluruh saham afiliasi Grup Bakrie lainnya.
Tren positif ini juga menyelimuti beberapa emiten utama lainnya. Saham PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG) tercatat menguat 3,75% ytd, mencapai Rp 1.660 per lembar. Tak kalah gesit, saham PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) bahkan terbang 20,90% ytd, ditutup pada level Rp 810 per lembar.
: Saham BNBR Melonjak saat Laba Menipis, Putra Mahkota Bakrie Beri Penjelasan
Laju penguatan serupa juga dicatatkan oleh PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk. (VKTR), emiten kendaraan listrik yang merupakan bagian dari Grup Bakrie. Saham VKTR melonjak 17,16% ytd ke level Rp 990 per lembar, menandakan respons positif pasar terhadap sektor energi hijau. Sementara itu, saham PT Bumi Resources Tbk. (BUMI), entitas tambang batu bara hasil kongsi Grup Bakrie dan Grup Salim, mengukir penguatan 26,23% ytd ke level Rp 462 per lembar. Jejak kenaikan juga diikuti oleh saham PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) yang naik 11,82% ytd, menyentuh Rp 1.230 per lembar.
: : Grup Bakrie (BNBR) Kembali ke Bisnis Tol, Update Cara Kuasai 100% Ruas Cibitung dari Waskita (WSKT) Cs
Tak hanya emiten-emiten besar, beberapa afiliasi Grup Bakrie lainnya juga turut merasakan momentum kenaikan harga saham. Di antaranya, saham PT Graha Andrasentra Propertindo Tbk. (JGLE) menanjak tajam 68,29% ytd, PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk. (UNSP) naik 9,63% ytd, dan PT Intermedia Capital Tbk. (MDIA) menguat 13,64% ytd.
Intermedia Capital Tbk. – TradingView
Fenomena penguatan harga saham ini menarik perhatian para analis. Analis Astronacci, Gema Goeyardi, mengungkapkan bahwa kinerja saham BRMS ditopang oleh fundamental perusahaan yang membaik, seiring dengan lonjakan harga emas global. Pada kuartal III/2025, BRMS berhasil membukukan kenaikan pendapatan sebesar 69% secara tahunan, dari US$ 108,47 juta menjadi US$ 183,57 juta.
: : Profil Feisal Hamka, Putra Mahkota Raja Tol Jusuf Hamka yang Rajin Tambah Saham CMNP
Lebih lanjut, laba bersih BRMS juga melonjak signifikan hingga 129% secara tahunan menjadi US$ 37,61 juta. Peningkatan laba ini didorong oleh ekspansi produksi dan kenaikan harga jual emas. “Kami yakin bahwa pertumbuhan laba bersih yang signifikan akan membawa BRMS ke level berikutnya,” ujar Gema dalam risetnya pada Rabu (7/1/2026), sembari merekomendasikan “beli” untuk saham BRMS dengan target harga Rp 1.400 per lembar.
Di sisi lain, untuk saham DEWA, Analis Henan Putihrai Sekuritas Irsyady Hanief memberikan rekomendasi “beli”. Pertimbangan utama adalah proses pemulihan kinerja perusahaan yang dinilai berkelanjutan, didukung oleh optimalisasi neraca, percepatan pertumbuhan, serta restrukturisasi perusahaan yang terus berjalan. DEWA juga menunjukkan geliat strategis dengan mulai mengurangi ketergantungan pada segmen subkontraktor dan berencana mengeksekusi proyek secara mandiri, termasuk rencana pengambilalihan pengerjaan tambang Bengalon milik Kaltim Prima Coal (KPC).
Sementara itu, kinerja saham ENRG dinilai terdorong oleh pendapatan yang tetap solid, sebagaimana diungkapkan oleh Senior Analyst Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas. EBITDA ENRG tercatat naik 26% secara tahunan hingga periode 30 September 2025, merefleksikan efisiensi operasional yang kuat. Selain itu, produksi minyak dan gas yang stabil dinilai masih menjadi penopang kinerja perusahaan di tengah keberlanjutan lintasan investasi. Kiwoom Sekuritas merekomendasikan “beli” untuk saham ENRG dengan target harga Rp 1.720 per lembar. Meski demikian, Sukarno mengingatkan adanya risiko penurunan yang meliputi transisi energi, ketidakpastian regulasi, fluktuasi harga komoditas, persaingan, dan kemajuan teknologi.
Adapun untuk saham BNBR, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, M. Nafan Aji Gusta, menilai penguatan harganya didorong oleh langkah aksi korporasi perseroan. Pada akhir 2025, BNBR melalui anak usahanya PT Bakrie Toll Indonesia mengakuisisi 90% saham PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT) dari PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) dan PT Waskita Toll Road dengan nilai transaksi Rp 3,56 triliun. Meskipun demikian, Nafan menyoroti bahwa saham BNBR tergolong belum memiliki peringkat rekomendasi resmi dari banyak analis, dan “Sahamnya kurang likuid,” kata Nafan kepada Bisnis.