
Nama Mohammad Bagher Ghalibaf menjadi sorotan di tengah konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Ketua Parlemen Iran ini disebut sebagai salah satu tokoh yang dipertimbangkan oleh Presiden Donald Trump sebagai mitra negosiasi terkait konflik.
Mengutip laporan Politico, dua pejabat pemerintahan Trump mengatakan Gedung Putih saat ini sedang menyusun daftar beberapa tokoh Iran yang berpotensi diajak bekerja sama untuk mengakhiri konflik dan memasuki fase politik berikutnya.
Presiden Trump sebelumnya juga menyatakan bahwa Amerika Serikat sedang berhubungan dengan sejumlah tokoh di Iran. Ia tidak menyebut nama, namun sejumlah pejabat di Israel menilai Trump merujuk pada Ghalibaf.
Ghalibaf merupakan mantan Wali Kota Teheran yang kemudian menjadi Ketua Parlemen Iran setelah Ali Larijani tewas dalam perang. Ia juga dikenal sebagai tokoh senior Garda Revolusi Iran dan pernah memimpin angkatan udara Garda Revolusi serta terlibat dalam pengembangan rudal Iran.
Baca juga:
- Iran Disebut Siapkan Kejutan Baru dalam Perang Lawan AS–Israel
- Trump Klaim AS Sedang Negosiasi dengan Pemimpin Iran, tetapi Bukan Khamenei
- Iran Bantah Trump soal AS Negosiasi untuk Akhiri Perang: Berita Palsu
Menurut sumber pemerintahan AS, Trump memiliki kepentingan besar terhadap minyak Iran dan berharap dapat mencapai kesepakatan dengan pemimpin Iran di masa depan, mirip dengan kesepakatan yang dilakukan AS di Venezuela dengan penerus Nicolás Maduro, Delcy Rodríguez.
“Itu tentang menempatkan seseorang seperti Delcy Rodríguez. Mami mengatakan kami akan mempertahankan Anda berkuasa, Anda bekerja dengan kami dan memberi kami kesepakatan yang baik, terutama soal minyak,” kata sumber tersebut, dikutip dari YNet News (24/3).
Namun, Ghalibaf dikenal sebagai tokoh garis keras di Iran. Dalam pernyataannya di media sosial X, Ghalibaf menegaskan bahwa tidak ada negosiasi dengan AS dan menyebut laporan tersebut sebagai berita palsu yang bertujuan mempengaruhi pasar minyak dan keuangan.
“Iran menuntut hukuman penuh bagi para agresor. Tidak ada negosiasi dengan Amerika Serikat,” tulis Ghalibaf.
Karier Militer dan Politik Ghalibaf
Mohammad Bagher Ghalibaf lahir pada 1961. Ia merupakan veteran perang Iran-Irak pada 1980–1988. Kariernya menanjak cepat di militer hingga menjadi komandan dirgantara Garda Revolusi Iran.
Setelah itu, ia menjabat sebagai Kepala Kepolisian Nasional Iran pada 1999 di tengah gelombang mahasiswa, sebagaimana dilansir dari media Arab Saudi Asharq Al-Awsat (21/3). Karier politiknya berlanjut ketika ia terpilih menjadi Wali Kota Teheran dan menjabat selama sekitar 12 tahun.
Selama pemerintahan wali kota, para pendukungnya memuji pendekatan teknokratisnya dalam pembangunan kota, namun muncul kritik terkait dugaan korupsi dan penanganannya.
Ghalibaf beberapa kali mencalonkan diri sebagai presiden Iran, termasuk pada 2005, 2013, dan 2024, namun belum pernah menang. Pada 2020, ia terpilih menjadi Ketua Parlemen Iran dan tetap menjadi salah satu tokoh penting dalam struktur kekuasaan Iran.
Sejumlah analis politik menilai Ghalibaf kini berada dalam posisi yang sangat menguntungkan karena memiliki pengalaman di bidang militer, keamanan, dan politik sekaligus. Hal itu membuatnya menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh di Iran saat ini.
Ia juga disebut memiliki hubungan yang kuat dengan berbagai faksi politik dan institusi keamanan Iran, sehingga berpotensi memainkan peran besar dalam menentukan arah Iran ke depan, termasuk dalam konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.
Ghalibaf menyatakan bahwa perang yang terjadi saat ini akan mengubah tatanan Timur Tengah, namun bukan dengan cara yang diinginkan Amerika Serikat.