
Indonesia semakin memantapkan langkahnya dalam transisi menuju energi bersih dengan hadirnya proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Pasuruan 100 MW. Melalui komitmen pendanaan non-pemerintah sebesar US$21 juta, setara dengan Rp352,4 miliar (dengan kurs Rp16.780/U$), Bank Investasi Infrastruktur Asia (AIIB) turut serta mendukung inisiatif penting ini. Pendanaan ini bukan hanya sekadar angka, melainkan sebuah penanda signifikan bagi upaya Indonesia untuk memperluas kapasitas energi terbarukan dan secara aktif berkontribusi pada pengurangan emisi karbon. Proyek ambisius ini, seperti dilansir solarquarter.com, merupakan bagian dari inisiatif Pembiayaan Pokok Proyek Hijaunesia, yang dirancang sebagai pembangkit listrik tenaga surya (greenfield) baru yang akan berdiri di daratan Pasuruan, Jawa Timur.
Dalam mengawal proyek strategis ini, Bank Pembangunan Asia (ADB) hadir sebagai mitra utama Indonesia, mengambil peran sebagai arranger dalam skema pembiayaan energi terbarukan yang kompleks ini. Keterlibatan ADB memastikan bahwa proyek tidak hanya berorientasi pada hasil energi, tetapi juga berkomitmen penuh pada standar keberlanjutan. Oleh karena itu, seluruh pelaksanaan proyek akan mematuhi secara ketat Pernyataan Kebijakan Perlindungan (Safeguard Policy Statement) dari ADB, selaras dengan semua peraturan lingkungan dan sosial yang berlaku di Indonesia.
Proyek PLTS 100 MW Pasuruan ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara PT PLN Indonesia Power Renewables dengan Vena Energy Indonesia sebagai sponsor utama. Kemitraan ini menegaskan sinergi antara entitas nasional dan swasta dalam mendorong agenda keberlanjutan. Ketika mulai beroperasi, PLTS Pasuruan diproyeksikan akan memberikan kontribusi yang sangat signifikan terhadap percepatan transisi energi bersih Indonesia, memperkuat bauran energi nasional dengan sumber daya yang lebih hijau dan berkelanjutan.
Baca juga:
- Investasi PLTS Kian Murah, Biaya Listrik Surya Kini Lebih Kompetitif
- Keterbatasan Anggaran Desa Hambat Program 100 GW PLTS Koperasi Desa
- Makin Diminati, Kapasitas Terpasang PLTS Atap Naik 508 Kali Lipat Sejak 2018
Ladang Surya Seluas 410,5 Hektare
Secara teknis, pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) ini direncanakan berdiri di atas lahan permanen seluas kurang lebih 401,5 hektare. Selain itu, dibutuhkan tambahan 21,1 hektare untuk pembangunan jalur transmisi, menjadikan total area yang terlibat cukup substansial. Dengan skala proyek yang besar ini, diperkirakan akan ada dampak pada sekitar 85 rumah tangga yang berlokasi di area proyek, sebuah aspek yang telah diperhitungkan dalam perencanaan.
Menyadari potensi dampak yang mungkin timbul, proyek PLTS Pasuruan ini telah merumuskan serangkaian langkah mitigasi komprehensif. Upaya ini mencakup pengendalian polusi yang ketat dan perlindungan keanekaragaman hayati, memastikan kelestarian lingkungan sekitar. Di sisi sosial, sebuah rencana pengelolaan sosial yang matang telah dipersiapkan, dengan fokus utama pada pemulihan mata pencarian bagi masyarakat yang terdampak serta integrasi praktik pengarusutamaan gender di setiap tahap proyek. Untuk menjamin akuntabilitas dan transparansi, sistem pemantauan yang kuat dan mekanisme keterlibatan pemangku kepentingan akan diimplementasikan secara berkelanjutan sepanjang seluruh siklus proyek, dari awal hingga akhir.