PT Industri Telekomunikasi Indonesia (INTI), Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di sektor industri telekomunikasi, dipastikan akan ditutup setelah dikategorikan sebagai perusahaan “sakit” yang sulit untuk diselamatkan. Meskipun demikian, Chief Operating Officer (COO) Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), Dony Oskaria, menegaskan bahwa nasib para karyawan tetap menjadi prioritas. Ia memastikan tidak akan ada kebijakan pemutusan hubungan kerja (PHK) bagi seluruh staf PT INTI.
“Oh, enggak ada (PHK), pekerjanya aman, kan kita sudah bilang. Enggak ada yang di-PHK,” tegas Dony saat memberikan keterangan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.
Berdasarkan data resmi perusahaan, jumlah karyawan PT INTI hingga akhir tahun 2024 tercatat sebanyak 171 orang. Jumlah ini mencakup karyawan tetap, karyawan kontrak, hingga pegawai di entitas anak perusahaan. Jika menilik ke belakang, jumlah tenaga kerja di PT INTI telah menyusut sebesar 43,9% dibandingkan tahun 2020 yang saat itu masih mencapai 305 orang.
Dony menambahkan bahwa saat ini Danantara tengah melakukan proses asesmen dan verifikasi mendalam terkait rencana penutupan tersebut. Langkah ini merupakan bagian dari upaya streamline atau perampingan yang tengah dijalankan otoritas terkait.
Baca juga:
- Telkom (TLKM) Ungkap Perintah Danantara Merger 10 Anak Usaha Maksimal Juni 2026
- Danantara Disebut Akuisisi Saham Eramet di Weda Bay Nickel, Ini Penjelasan Rosan
- BP BUMN Pangkas Besar-besaran Anak Usaha Semen Indonesia (SMGR) jadi 12 Entitas
Danantara Ungkap Alasan Banyak BUMN Terpuruk
Dalam kesempatan berbeda, Dony Oskaria memaparkan akar permasalahan yang membuat banyak perusahaan BUMN terpuruk hingga terancam gulung tikar. Salah satu contoh besarnya adalah PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) yang kini sedang masuk dalam skenario penyelamatan Danantara melalui injeksi dana. Selain itu, krisis serupa juga menimpa PT Djakarta Lloyd dan PT INTI.
Menurut Dony, kelemahan mendasar terletak pada struktur BUMN di masa lalu yang berjalan secara parsial tanpa adanya keterkaitan atau interkorelasi satu sama lain. Akibatnya, perusahaan yang mengalami kerugian tidak bisa mendapatkan dukungan dari unit BUMN lain yang sedang meraup keuntungan.
“Semakin lama, perusahaan kita bukan makin baik, tapi justru banyak yang tertutup dan tidak bisa survive,” ujar Dony dalam paparan New Economic Order di Jakarta.
Untuk mengatasi kebocoran dan inefisiensi ini, pemerintah kini mengonsolidasikan seluruh BUMN di bawah Danantara Asset Management yang berperan sebagai super holding. Strategi ini dirancang agar setiap perusahaan di bawah naungan negara dapat saling menopang.
“Seluruh keuntungan ini dikonsolidasikan di sini, sehingga bisa membantu satu sama lain selama perusahaan tersebut memang memiliki prospek yang baik ke depannya,” pungkas Dony.
Ringkasan
PT Industri Telekomunikasi Indonesia (INTI) akan segera ditutup setelah dikategorikan sebagai BUMN yang sulit untuk diselamatkan. Meski demikian, Danantara memberikan jaminan bahwa tidak akan ada pemutusan hubungan kerja (PHK) bagi 171 karyawan yang tersisa. Saat ini, proses asesmen dan verifikasi mendalam sedang dilakukan sebagai bagian dari upaya perampingan perusahaan.
Langkah penutupan ini diambil untuk mengatasi inefisiensi akibat struktur BUMN masa lalu yang kurang terintegrasi antarunit usaha. Pemerintah kini mengonsolidasikan seluruh BUMN di bawah super holding Danantara agar perusahaan negara dapat saling menopang secara finansial. Strategi konsolidasi ini diharapkan mampu memperkuat kinerja perusahaan yang memiliki prospek bisnis jangka panjang.