
Babaumma – , JAKARTA — Lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings memproyeksikan profil kredit badan usaha milik negara (BUMN) akan tetap tangguh meskipun tingginya target setoran dividen yang akan diberikan kepada SWF Danantara Indonesia.
Dalam laporan terbarunya, Fitch mencatat bahwa pembentukan Danantara akan membawa perubahan pada pola pendanaan pemerintah dengan penyuntikan modal yang lebih selektif dan berorientasi pada hasil lebih tinggi.
Kendati rasio pembayaran dividen atau payout ratio diprediksi meningkat, Fitch menilai perusahaan pelat merah masih memiliki ruang permodalan dan daya ungkit yang cukup kuat untuk menjaga stabilitas keuangan.
: Danantara Resmi Mulai Proyek Peternakan Ayam Terintegrasi, ID Food Janji Serap Panen Rakyat
“Fitch juga memperkirakan pemerintah akan mendorong peningkatan dividen dari BUMN, yang kemungkinan akan disalurkan melalui PT Danantara Investment Management guna mempercepat investasi pada sektor-sektor prioritas pemerintah,” tulis Fitch dalam pernyataannya Rabu (18/2/2026).
: : Danantara Pastikan Garuda (GIIA) jadi Holding Maskapai BUMN Kuartal I/2026
Garuda Indonesia (Persero) Tbk. – TradingView
Tren peningkatan dividen ini telah terlihat sejak 2025, dengan estimasi total penerimaan dari BUMN utama melampaui Rp140 triliun. Jumlah ini melonjak signifikan dibandingkan realisasi tahun sebelumnya sebesar Rp86 triliun.
: : Danantara Detailkan Empat Proyek Investasi Rp202,4 Triliun pada 2026
Sementara itu, Fitch juga melihat adanya pergeseran strategi penyuntikan modal pemerintah yang kini lebih menyasar sektor strategis seperti perumahan dan mineral. Sebaliknya, dukungan modal untuk sektor yang kurang krusial, seperti konstruksi infrastruktur diproyeksikan mulai dikurangi.
Pergeseran ini diperkirakan bakal memengaruhi laju pertumbuhan bisnis PT Hutama Karya (Persero). Bisnis konstruksi perusahaan selama ini sangat bergantung pada suntikan ekuitas pemerintah untuk penyelesaian proyek. Meski demikian, peringkat dan dukungan terhadap BUMN utama diprediksi tetap stabil berkat jaminan dan subsidi pemerintah yang terus berjalan.
Sebagai alternatif dari suntikan modal langsung, pemerintah melalui Danantara mulai mengandalkan skema pinjaman pemegang saham atau shareholder loans, terutama bagi BUMN non-perbankan yang tengah menghadapi tekanan finansial. Fitch menilai tren tersebut akan semakin menonjol di masa depan.
Contoh nyata dari pergeseran instrumen dukungan itu adalah pemberian pinjaman pemegang saham dalam jumlah besar kepada PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA) dan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. (KRAS) pada 2025.
Fitch menyatakan bahwa dalam menentukan peringkat, pihaknya tetap mempertimbangkan segala bentuk dukungan pemerintah guna memastikan stabilitas entitas sebelum terjadinya risiko gagal bayar.
Target tinggi untuk Danantara sendiri senada dengan pengumuman Presiden Prabowo Subianto dalam Indonesia Economic Outlook 2026 pekan lalu. Saat itu, Kepala Negara menuntut Badan Pengelola Investasi Danantara untuk membukukan tingkat pengembalian aset (return on assets/ROA) sebesar 7% dalam waktu dekat.
Prabowo mengungkapkan, meski Danantara baru dibentuk pada Februari 2025, berdasarkan laporan sementara menunjukkan hasil efisiensi dan reformasi yang dilakukan sudah membuahkan capaian signifikan.
“Dalam satu tahun Anda [Danantara] bekerja, kita bentuk saudara Februari 2025, tapi Danantara sudah dapat laporan sementara hasil daripada efisiensi saudara, reformasi saudara sudah melahirkan hasil empat kali lipat dibandingkan 2024. Ini luar biasa, tapi harus terus dikejar,” ujar Prabowo.
Presiden juga menegaskan bahwa capaian tersebut belum menjadi titik akhir. Dia secara terbuka memasang standar kinerja yang lebih tinggi. “Saya menuntut return on asset 7%. Lah kenapa senyum? Kepala Danantara bisa?” kata Prabowo kepada CEO Danantara Rosan P. Roeslani.
—
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.