
Babaumma – , JAKARTA — Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. (BNLI), Josua Pardede, menyoroti potensi risiko akumulasi penyesuaian nilai tukar rupiah di pasar domestik. Hal ini menyusul keputusan Bank Indonesia (BI) untuk menghentikan operasi moneter selama periode 18 hingga 24 Maret 2026, yang bertepatan dengan libur Lebaran. Menurut Josua, risiko tersebut akan memuncak saat pasar kembali beroperasi normal pada 25 Maret 2026.
“Jika selama periode libur tersebut terjadi gejolak signifikan dari pasar global, penyesuaian nilai tukar di pasar domestik berpotensi muncul secara simultan saat pasar kembali dibuka. Ini akan memperbesar peluang terjadinya lonjakan kurs setelah Lebaran,” jelas Josua kepada Bisnis, sebagaimana dikutip pada Rabu (11/3/2026).
Selama periode penghentian ini, seluruh aktivitas transaksi operasi moneter Bank Indonesia akan ditiadakan. Konsekuensinya, Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) dan Kurs Acuan Non-USD/IDR tidak akan diterbitkan. Sebagai gantinya, kurs BI akan menggunakan referensi dari hari kerja terakhir sebelum libur.
Josua menambahkan, tekanan dan ketidakpastian dari pasar global saat ini memang sedang berada pada level yang cukup mengkhawatirkan. Ia mencontohkan harga minyak mentah dunia yang telah menembus level US$100 per barel, serta penguatan indeks dolar AS ke posisi tertinggi sejak pertengahan Januari. Kombinasi faktor ini telah menekan mata uang di kawasan Asia, didorong oleh harga energi yang tinggi dan sentimen kehati-hatian investor.
Meski demikian, terdapat secercah harapan. Sentimen risk-on sempat membaik pada penutupan perdagangan Selasa (10/3/2026), memungkinkan rupiah untuk menguat 0,50% dan ditutup di level Rp16.861 per dolar AS.
Apresiasi rupiah ini, terang Josua, dipicu oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai ekspektasi akan segera berakhirnya konflik di Timur Tengah. Sentimen positif ini secara efektif mendorong investor untuk kembali melirik aset-aset berisiko, termasuk rupiah, sekaligus mendongkrak kinerja saham dan obligasi domestik.
: : Purbaya Sambut Juda Agung: Ini Desain Agar Fiskal-Moneter Makin Lengket
Lebih lanjut, Josua menekankan bahwa penyesuaian operasional selama Lebaran ini tidak serta-merta berarti Bank Indonesia kehilangan kemampuan penuhnya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Menurutnya, penghentian operasi tersebut lebih tepat dimaknai sebagai jeda dalam operasi rutin, sementara “amunisi” bank sentral dinilai masih sangat tangguh.
Josua memaparkan bahwa otoritas moneter tetap mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) pada level 4,75% sebagai langkah fundamental untuk stabilisasi rupiah. Di samping itu, posisi cadangan devisa Indonesia per akhir Februari 2026 juga masih sangat solid, mencapai US$151,9 miliar, yang setara dengan pembiayaan 6,1 bulan impor.
: : Jadwal Layanan Bank Indonesia Selama Cuti dan Libur Lebaran 2026
“Bahkan, pada libur panjang Idulfitri 2025 lalu, ketika pasar valuta asing global mengalami tekanan kuat, BI tetap aktif melakukan intervensi berkelanjutan. Intervensi ini krusial dalam menjaga rupiah tetap terkendali saat pasar domestik dibuka kembali. Oleh karena itu, rupiah tidak akan dibiarkan tanpa respons jika tekanan global menjadi sangat ekstrem,” tegas Josua.
Untuk periode pasca-Lebaran, Josua memproyeksikan pergerakan rupiah akan cenderung lebih dinamis, dengan kisaran pergerakan di rentang Rp16.850 hingga Rp17.000 per dolar AS.
Namun demikian, rentang proyeksi ini berpotensi ditembus jika eskalasi konflik di Timur Tengah kembali meluas dan harga minyak dunia konsisten bertahan di atas US$100 per barel. Sebaliknya, apabila tensi global mereda, tekanan terhadap nilai tukar rupiah diperkirakan akan berkurang secara signifikan.
“Jadi, risiko utama bagi rupiah sesungguhnya bukan semata-mata karena Bank Indonesia menghentikan operasi moneter selama libur, melainkan lebih disebabkan oleh pergerakan pasar global yang terus berjalan di saat pasar domestik kita sedang dalam mode jeda,” pungkas Josua.
U.S. DOLLAR / INDONESIAN RUPIAH – TradingView