Rupiah Anjlok ke Rp17.881, Dipicu Lonjakan Harga Minyak dan Suku Bunga

JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali mencatatkan pelemahan pada penutupan perdagangan hari ini. Rupiah terkoreksi 35 poin atau 0,20 persen ke level Rp 17.881 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya di angka Rp 17.846 per dolar AS. Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menilai bahwa fluktuasi harga minyak dunia menjadi katalis utama di balik tekanan ini.

Advertisements

Menurut Ibrahim, harga minyak mentah yang sangat tidak stabil dalam beberapa sesi terakhir dipicu oleh simpang siur informasi mengenai negosiasi gencatan senjata. Meski sempat muncul sentimen positif terkait laporan draf kesepakatan gencatan senjata antara Washington dan Teheran untuk durasi 60 hari—terkait negosiasi nuklir dan keamanan regional—pasar tetap bersikap waspada.

Harapan akan normalisasi pengiriman komoditas melalui Selat Hormuz sempat meredam kekhawatiran pasokan. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan lalu lintas jalur strategis tersebut masih jauh di bawah kondisi normal, sehingga premi risiko geopolitik tetap membayangi pasar minyak global.

Di sisi lain, tekanan terhadap rupiah juga diperberat oleh data ekonomi Amerika Serikat. Angka inflasi dan pertumbuhan ekonomi yang tidak sesuai ekspektasi pasar memperkuat spekulasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama. Kondisi ini memicu arus modal keluar (capital outflow) dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Ibrahim menambahkan bahwa investor cenderung mengalihkan aset mereka ke instrumen berisiko rendah seperti obligasi AS yang menawarkan imbal hasil lebih menarik. Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia turut melemah ke level Rp 17.883 per dolar AS dari posisi Rp 17.789 per dolar AS.

Advertisements

Peluang Rupiah Menguat di Semester II 2026

Melihat kondisi tersebut, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (Unair), Rahma Gafmi, memproyeksikan rupiah memiliki peluang untuk kembali menguat (rebound) ke kisaran Rp 16.800 hingga Rp 17.200 per dolar AS pada semester II 2026. Menurutnya, titik balik ini sangat bergantung pada melandainya tekanan eksternal.

Rahma menjelaskan bahwa penguatan rupiah sangat mungkin terjadi jika data ekonomi AS menunjukkan pendinginan yang signifikan. Apabila angka pengangguran di AS meningkat dan inflasi melandai di bawah 3 persen, pasar akan berekspektasi adanya pemangkasan suku bunga. Hal ini akan memicu penurunan yield Treasury AS, yang secara otomatis mendorong aliran modal kembali masuk ke pasar obligasi Indonesia (SBN) karena imbal hasilnya yang lebih kompetitif.

Selain faktor global, peran Bank Indonesia (BI) melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sangat krusial. Dengan imbal hasil SRBI yang berada di kisaran 7,3 hingga 7,5 persen, instrumen ini menjadi daya tarik bagi investor asing untuk masuk ke pasar domestik, yang pada akhirnya akan menambah pasokan dolar di pasar.

Secara musiman, tekanan terhadap rupiah memang cenderung meningkat pada kuartal II karena kebutuhan korporasi asing akan dolar untuk repatriasi dividen. Memasuki Juli dan Agustus, tekanan tersebut biasanya akan mereda. Rahma menekankan bahwa stabilitas harga energi dan kondisi geopolitik Timur Tengah akan menjadi penentu utama. Jika harga minyak dunia stabil di kisaran 75 hingga 80 dolar AS per barel, beban impor energi akan berkurang, sehingga menopang neraca perdagangan Indonesia.

Sebagai langkah mitigasi lebih lanjut, otoritas moneter diharapkan tetap memperkuat aturan Devisa Hasil Ekspor (DHE) sumber daya alam serta menjaga daya tarik instrumen SRBI. Selain itu, perluasan transaksi mata uang lokal (local currency transaction/LCT) dan pengembangan instrumen non-dolar dapat membantu menekan permintaan dolar di dalam negeri. Pemerintah pun diharapkan berperan aktif dengan menahan impor yang tidak mendesak.

Meski demikian, Rahma memperingatkan bahwa efektivitas kebijakan administratif harus dijalankan dengan hati-hati. Jika pasar menilai tensi geopolitik terlalu panas atau defisit APBN melebar secara tidak sehat, langkah-langkah seperti kewajiban DHE justru bisa dianggap sebagai sinyal darurat yang memicu kekhawatiran investor. Pada akhirnya, menurut Rahma, langkah-langkah kebijakan yang diambil harus tetap memperhatikan dinamika psikologi pasar agar tetap efektif menjaga kredibilitas rupiah.

Ringkasan

Nilai tukar rupiah melemah ke level Rp 17.881 per dolar AS akibat fluktuasi harga minyak dunia yang dipicu ketegangan geopolitik serta sentimen suku bunga tinggi dari bank sentral Amerika Serikat, The Fed. Kondisi ekonomi AS yang tidak sesuai ekspektasi memicu aliran modal keluar dari pasar negara berkembang karena investor lebih memilih aset berisiko rendah seperti obligasi AS.

Meskipun demikian, rupiah diproyeksikan akan menguat pada semester II 2026 seiring dengan potensi penurunan inflasi dan suku bunga di Amerika Serikat. Stabilitas harga minyak, daya tarik instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), serta kebijakan pemerintah dalam menjaga neraca perdagangan diharapkan dapat menjadi katalis positif bagi penguatan mata uang nasional ke depan.

Advertisements