Membuka perdagangan pada Jumat (17/4), nilai tukar rupiah diprediksi akan mengalami pelemahan di hadapan dolar Amerika Serikat (AS). Namun, di tengah tekanan penguatan mata uang Negeri Paman Sam, sentimen positif dari gencatan senjata di Timur Tengah diperkirakan akan menjadi penahan laju pelemahan tersebut, memberikan harapan akan stabilitas.
Menurut pengamatan Analis Doo Financial, Lukman Leong, rebound dolar AS menjadi pemicu utama tekanan terhadap nilai tukar rupiah dalam jangka pendek. Ia menjelaskan, data tenaga kerja yang solid di Amerika Serikat telah menumbuhkan optimisme yang kuat terhadap ekonomi AS, sekaligus mendorong penguatan dolar AS di pasar global secara menyeluruh.
“Rupiah berpotensi akan melemah terhadap dolar AS yang mengalami rebound, didorong oleh data pekerjaan yang ternyata lebih kuat dari perkiraan,” kata Lukman kepada Katadata pada Jumat (17/4).
Data terkini dari Bloomberg menunjukkan bahwa pada pembukaan perdagangan, nilai tukar rupiah sempat menguat tipis ke level Rp 17.139 per dolar AS, naik 0,2% atau 4 poin. Namun, dinamika pasar berubah drastis; hingga pukul 09.10 WIB, rupiah justru tertekan tajam hingga anjlok ke Rp 17.172 per dolar AS, mencatat pelemahan 0,19% atau sekitar 33 poin.
Baca juga:
- 7 Perusahaan Protes ke DPR, Kemenhut Buka Alasan Cabut Izin Pascabanjir Sumatra
- Harga Minyak Turun di Tengah Potensi AS-Iran Gencatan Senjata Permanen
- Kekhawatiran S&P soal Utang RI Paling Rentan di ASEAN dan Respons Pemerintah
Sebagai konteks, pada perdagangan hari sebelumnya, Kamis (16/4), rupiah sempat menutup sesi dengan penguatan 4 poin, berakhir di level Rp 17.138 per dolar AS. Capaian ini lebih baik dibanding penutupan sebelumnya yang berada di Rp 17.143 per dolar AS, meskipun sempat mengalami pelemahan 2 poin di sesi tersebut.
Namun, perlu dicatat bahwa pelemahan rupiah diproyeksikan tidak akan terlalu dalam atau berlangsung signifikan. Prediksi ini didukung oleh membaiknya sentimen pasar global, yang kini condong ke arah risk-on, menyusul kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon.
Kesepakatan penting ini telah menumbuhkan harapan akan meredanya ketegangan di kawasan Timur Tengah, sebuah wilayah yang kerap menjadi sumber utama volatilitas dan ketidakpastian di pasar keuangan global.
“Sentimen risk-on di tengah kesepakatan gencatan senjata Israel-Lebanon akan menjadi faktor pembatas utama pelemahan,” tegas Lukman, menggarisbawahi pentingnya perkembangan geopolitik ini.
Dengan mempertimbangkan kombinasi sentimen yang saling tarik-menarik ini, nilai tukar rupiah diperkirakan akan bergerak dalam rentang yang relatif terbatas, yakni antara Rp 17.100 hingga Rp 17.200 per dolar AS sepanjang perdagangan hari ini.