Rupiah makin loyo, dolar AS sempat tembus Rp 17.800

Nilai tukar rupiah mencatatkan rekor terburuk sepanjang sejarah setelah sempat menembus angka 17.800 per dolar AS pada sesi perdagangan Selasa (26/5) pagi. Tekanan terhadap mata uang Garuda ini menjadi sorotan utama pasar keuangan domestik saat ini.

Advertisements

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah awalnya dibuka melemah tipis 2 poin di level 17.746 per dolar AS. Namun, tekanan jual terus berlanjut hingga nilai tukar menyentuh posisi 17.803 per dolar AS pada pukul 09.34 WIB. Sepanjang pagi ini, kurs rupiah berfluktuasi di rentang 17.745 hingga 17.834 per dolar AS, sebelum akhirnya bertengger di posisi 17.790 atau melemah 0,24% hingga pukul 10.48 WIB.

Kondisi ini sejalan dengan tren pelemahan mayoritas mata uang Asia terhadap dolar AS. Tercatat, ringgit Malaysia turun 0,33%, baht Thailand melemah 0,29%, peso Filipina terkoreksi 0,22%, yuan Cina turun tipis 0,04%, dan yen Jepang menyusut 0,01%. Sebaliknya, won Korea Selatan dan dolar Taiwan justru berhasil menguat masing-masing sebesar 0,35% dan 0,07%.

Jika ditarik lebih jauh, kinerja rupiah sepanjang tahun ini terpantau sangat tertekan di hadapan mata uang regional lainnya. Mata uang Indonesia ini telah anjlok lebih dari 9% terhadap yuan Cina dan ringgit Malaysia. Selain itu, rupiah juga melemah 5% terhadap yen Jepang dan 3% terhadap baht Thailand.

Advertisements

Mengapa Rupiah Lebih Keok Terhadap Yuan dan Ringgit?

Fenomena menarik terjadi pada yuan dan ringgit yang justru mampu menunjukkan keperkasaan terhadap dolar AS di tengah memanasnya konflik Iran. Hal inilah yang menyebabkan kurs rupiah, yang sudah tertekan oleh dolar, menjadi semakin tertinggal saat disandingkan dengan kedua mata uang tersebut.

Melansir The Edge Malaysia, penguatan ringgit didorong oleh derasnya aliran modal asing yang masuk ke pasar saham maupun investasi langsung (FDI) di Negeri Jiran. Sektor jasa keuangan, industri, dan perkebunan menjadi daya tarik utama bagi para investor. Terhitung sejak awal tahun hingga pertengahan bulan ini, investor asing telah mencatatkan pembelian bersih (net buy) lebih dari 3 miliar ringgit Malaysia atau setara Rp 13 triliun di bursa saham Malaysia.

Di sisi lain, yuan Cina berhasil mencapai level tertingginya terhadap dolar AS dalam tiga tahun terakhir pada 25 Mei. Penguatan ini dipicu oleh meningkatnya harapan perdamaian terkait ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat. Selain faktor geopolitik, apresiasi yuan yang mencapai hampir 3% tahun ini didorong oleh masifnya penggunaan mata uang tersebut sebagai alternatif dolar AS dalam transaksi perdagangan internasional.

Sejumlah lembaga investasi global mulai merevisi proyeksi mereka terhadap yuan karena daya saing ekspor Cina yang tetap kuat serta hubungan dagang yang lebih stabil dengan AS sebagai kekuatan ekonomi terbesar dunia. HSBC, misalnya, telah menaikkan target yuan menjadi 6,65 per dolar AS pada akhir tahun dari proyeksi sebelumnya di 6,75. Analis HSBC menilai langkah internasionalisasi yuan dan diversifikasi jangka panjang dari ketergantungan terhadap dolar AS menjadi faktor struktural yang mendukung mata uang tersebut.

“Secara eksternal, hubungan ekonomi AS-Tiongkok telah menjadi lebih stabil dan konstruktif sejak Mei 2025,” ungkap analis HSBC dalam laporannya.

Senada dengan hal tersebut, Deutsche Bank memprediksi pertumbuhan impor Tiongkok yang kuat tahun ini akan menjadi katalis positif bagi yuan. Ekonom Deutsche Bank, Yi Xiong dan Deyun Ou, menyebutkan bahwa lonjakan impor produk hulu kemungkinan besar akan diikuti oleh peningkatan pesanan ekspor atau pemulihan permintaan domestik. Deutsche Bank memproyeksikan yuan akan menguat ke level 6,55 per dolar pada akhir tahun 2026.

Goldman Sachs juga melihat adanya ruang penguatan yuan yang lebih berkelanjutan berkat surplus eksternal Cina yang mencapai rekor tertinggi. Meski dibayangi tantangan energi akibat konflik Iran, Goldman Sachs menilai prospek jangka menengah tetap positif karena adanya tren investasi global dalam keamanan energi dan energi terbarukan yang menguntungkan ekspor Tiongkok. Bank asal AS tersebut memprediksi yuan akan mencapai 6,80 dalam tiga bulan, 6,70 dalam enam bulan, dan menyentuh 6,50 dalam 12 bulan ke depan.

Data dari Global Market Investor turut menunjukkan bahwa konflik Iran secara tidak langsung mempercepat dominasi yuan dalam sistem pembayaran global. Nilai rata-rata transaksi harian melalui Cross-Border Interbank Payment System (CIPS) melonjak tajam dari 300 miliar yuan pada 2021 menjadi rekor 920 miliar yuan pada Maret 2026. CIPS kini semakin diperhitungkan sebagai infrastruktur keuangan alternatif di luar sistem Barat.

Ringkasan

Nilai tukar rupiah mencatatkan rekor terlemah sepanjang sejarah setelah sempat menembus level Rp 17.803 per dolar AS pada perdagangan Selasa pagi. Pelemahan ini mencerminkan tekanan besar pada mata uang domestik dibandingkan dengan mayoritas mata uang Asia lainnya. Secara akumulatif, rupiah telah anjlok lebih dari 9% terhadap yuan Cina dan ringgit Malaysia sepanjang tahun ini.

Berbeda dengan rupiah, ringgit Malaysia menguat berkat aliran modal asing yang masif, sementara yuan Cina didukung oleh peningkatan penggunaan dalam perdagangan internasional. Stabilitas hubungan ekonomi AS-Tiongkok dan surplus eksternal yang tinggi menjadi faktor utama penguatan nilai tukar yuan. Tren ini membuat posisi rupiah semakin tertinggal di hadapan kedua mata uang regional tersebut.

Advertisements