
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan pergerakan yang dinamis pada perdagangan Jumat (29/5). Sempat dibuka menguat tipis sebesar 0,05% atau 9 poin ke level Rp 17.836 per dolar AS berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda kemudian berbalik melemah ke level Rp 17.862 per dolar AS atau terkoreksi 0,10% pada pukul 09.15 WIB. Sebagai perbandingan, pada perdagangan sebelumnya rupiah ditutup di angka Rp 17.846 per dolar AS.
Pelemahan yang terjadi pada sesi sebelumnya didorong oleh sentimen risk-off global akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta penguatan dolar AS yang signifikan. Tekanan ini bahkan sempat menyeret rupiah ke rekor terendah baru di level Rp 17.900 per dolar AS saat libur Idul Adha, yang tercatat sebagai salah satu titik terlemah dalam sejarah mata uang domestik.
Baca juga:
- Saham Grup Prajogo Bangkit, BREN dan CUAN Sentuh ARA Pagi Ini, TPIA-PTRO Lompat
- Prabowo dan Macron Sepakat Serukan Perdamaian di Palestina, Lebanon, hingga Iran
- Emiten Saratoga-Boy Thohir (EMAS) Mulai Eksplorasi Tambang Pani, Intip Targetnya
Meskipun berada di bawah tekanan, pengamat pasar uang, Lukman Leong, menilai rupiah masih memiliki peluang untuk rebound. Optimisme ini muncul seiring dengan melemahnya indeks dolar AS akibat perkembangan positif dalam hubungan antara Amerika Serikat dan Iran.
“Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS yang melemah merespons laporan bahwa AS dan Iran sepakat untuk memperpanjang gencatan senjata,” ujar Lukman kepada Katadata, Jumat (29/5). Menurutnya, meredanya ketegangan geopolitik secara langsung memperbaiki sentimen pasar global, yang pada akhirnya menurunkan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven.
Selain sentimen geopolitik, tekanan pada dolar AS juga bersumber dari data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat yang tercatat lebih lemah dari ekspektasi pasar. Data ini memberikan angin segar bagi pelaku pasar, karena memunculkan harapan bahwa inflasi AS mulai melandai. Kondisi tersebut membuka ruang bagi bank sentral AS, The Fed, untuk tidak kembali mengambil kebijakan suku bunga yang agresif.
“Data inflasi PCE AS yang lebih lemah dari perkiraan juga turut menekan dolar,” tambah Lukman. Meski demikian, ia mengingatkan agar investor tetap mencermati perkembangan negosiasi AS-Iran serta arah kebijakan suku bunga global yang masih menjadi penentu utama pasar keuangan. Untuk perdagangan hari ini, Lukman memproyeksikan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp 17.800 hingga Rp 17.900 per dolar AS.
Ringkasan
Nilai tukar rupiah pada perdagangan Jumat (29/5) sempat dibuka menguat, namun kemudian berbalik melemah ke level Rp 17.862 per dolar AS. Pelemahan ini dipengaruhi oleh sentimen risk-off global akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta penguatan dolar AS yang sempat menyentuh rekor terendah bagi mata uang domestik.
Meskipun demikian, pengamat pasar menilai rupiah berpeluang untuk rebound seiring meredanya tensi geopolitik antara AS dan Iran serta rilis data inflasi PCE Amerika Serikat yang lebih lemah dari perkiraan. Kondisi tersebut diperkirakan dapat menekan indeks dolar AS dan memberikan ruang bagi rupiah untuk bergerak di kisaran Rp 17.800 hingga Rp 17.900 per dolar AS hari ini.